Monday, 28 May 2018 mondayreview

Kebohongan yang Ditambal dengan Kebohongan


Di politik, misalnya para politikus demi menambal kebohongan menggunakan data yang dimanipulasi.

Kebohongan yang ditambal dengan kebohongan (Monday Review/K.A.M.Darwis, Toni Dwi Saputra)

MONDAYREVIEW.COM – Demokrasi substansial sesungguhnya dapat berpadu dengan kemajuan teknologi. Tiap dari kita misalnya dapat melacak perkataan dari seorang politikus. Apakah sang politikus konsisten di berbagai lini waktu dalam perkataan dan tindakannya. Atau jangan-jangan sang politikus merupakan sosok yang gemar berbohong, membuat alasan.

Penulis kenamaan asal Jepang, Haruki Murakami pernah berkata, “Sekali berbohong kepada dunia, kita harus berbohong terus selamanya. Kita harus terus-menerus menambal kebohongan dengan kebohongan lain di sana sini.” Apa yang dinyatakan Haruki Murakami tersebut cocok untuk berbagai bidang kehidupan. Di politik, misalnya para politikus demi menambal kebohongan menggunakan data yang dimanipulasi. Data itu misalnya menggunakan survei dimana pertanyaannya telah diarahkan serta hasil surveinya diharapkan membawa bandwagon effect.

Ranah politik juga dapat meluruhkan “pupur bedak pencitraan”. Bagaimana ketika terpilih, maka akan terlihat secara nyata kerja dan pencapaiannya. Maka politikus yang berbasiskan pencitraan akan terus mengalihkan publik dari substansi kerja yang kedodoran. Publik akan disuguhi fakta yang di-echo-kan agar terlihat kerja yang dilakukan gigantis, nyata manfaatnya.

Kebohongan yang ditambal dengan kebohongan, menjelaskan bagaimana di lini waktu yang lain para pengagum menjadi barisan sakit hati, bagaimana para pemimpin yang dipuja menjadi dicaci.