Friday, 19 Jan 2018 mondayreview

Musik Jazz, dari Populis Hingga Elitis


Lahirnya musik jazz tidak hanya dari wujud sebuah ekspresi dari perjuangan mempertahankan hidup.

Istimewa.

MONDAYREVIEW.COM -  Sejak masuk hingga saat ini, keberadaan musik jazz di Indonesia belum mendapatkan tempat yang luas di hati masyarakat Indonesia. Kurangnya sambutan terhadap jenis musik asal negeri Paman Sam ini, karena persepsi masyarakat menganggap bahwa musik jazz hanya dapat dinikmati oleh masyarakat kelas elit dan mapan.

Padahal, apabila menarik akar sejarah lahirnya, musik jazz  merupakan ekspresi seni  dari gaya hidup masyarakat kulit hitam di Amerika yang tertindas. Sehingga proses lahirnya sungguh memperlihatkan ada kaitan yang sangat erat dengan perjuangan untuk mempertahankan hidup.

Lahirnya musik jazz tidak hanya dari wujud sebuah ekspresi dari perjuangan mempertahankan hidup. Tapi, ada hal yang lebih mengejutkan, bahwa kata “jazz” berasal dari sebuah istilah vulgar yang digunakan untuk aksi seksual. Tak ayal, jika sebagian irama dalam musik jazz pernah diasosiasikan dengan rumah-rumah bordil dan dialamatkan kepada perempuan-perempuan penghibur.

Kendati lahir dari kelas ekonomi bawah, ternyata jenis musik ini mampu mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat Amerika. Hal itu terlihat pada tahun 1920-an musik jazz sangat populer dan pada saat itu dikenal dengan istilah Jazz Age. Tidak berhenti sampai ini saja, seiring berjalannya waktu, di era Swing pada tahun 1930-an  jenis musik ini semakin semarak. Dan pada tahun 1950-an musik jazz mencapainya puncaknya sebagai jazz moderen.

Tumbuh dan berkembangannya musik jazz tidak berdiri sendiri. Tapi, melalui proses penggabungan dari jenis musik blues, ragtime, dan musik Eropa, terutama musik band. Sehingga pada musik jazz ini  banyak menggunakan instrumen gitar, trombon, piano, terompet, dan saksofon. Salah satu elemen penting dalam jazz adalah sinkopasi. Dari hasil penggabungan tersebut, tak ayal musik jazz akhirnya dapat diterima oleh masyarakat dunia. Termasuk masyarakat Indonesia, meskipun tidak sepopuler dangdut,  K-pop, rock, pop dan jenis musik lainnya.

Melacak sejarah masuknya musik jazz ke Indonesia menurut Sudibyo PR, salah seorang pecinta jazz menjelaskan bahwa musik dari Paman Sam ini pertama kali dimainkan seorang tentara dari Aceh. Dan pada saat itu musik jazz merupakan musik yang sangat digemari oleh warga Belanda yang tinggal di Indonesia. Tak ayal, pada masa itu mereka rutin diundang untuk menghibur para pejabat tinggi Belanda dan orang-orang Indonesia yang haknya disamakan oleh orang Belanda.

Pendapat lain menjelaskan, bahwa masuknya musik jazz di Indonesia bersamaan dengan maraknya musik jazz di New Orleans, Amerika di tahun 1900-an. Hal itu dibuktikan pada tahun 1920 musisi nasional, Wage Rudolf Supratman membentuk band Black & White di kota Makassar.  Dan pada tahun 1930-an berdiri juga sebuah grup band beraliran jazz yang bernama Melody Makers yang dimotori oleh Jacob Sigarlaki.

Meskipun tidak sepopuler musik keroncong, musik jazz tetap menunjukkan eksistensinya. Hal tersebut ditunjukan pada tahun 1940-an  lahir grup band baru yang beraliran jazz. Misalnya Jolly String yang dibentuk oleh Hein Turangan di Jakarta. Dan bahkan sampai muncul seorang kritikus  jazz bernama Harry Liem yang aktif menulis di koran Jazz Wereld. Namun, setelah Perang Dunia II, Harry Liem pindah ke Amerika dan karir sebagai penulis jazz pun ia teruskan di sana.

Kendati kurang mendapatkan tempat yang luas di hati masyarakat Indonesia, Pasca kemerdekan, musik jazz terus berkembang dan menunjukan eksistensinya. Yakni pada tahun 1950-an seorang pianis Nick Marnahit yang didukung oleh Bart Risakotta (drummer) dan Jim Espehanna pemain bass merilis sebuah album berjudul “Sarinande” . Selain itu pada tahun 1960-an juga bermunculan grup musik beraliran jazz diantaranya The Jazz Raider.

Namun, pada masa transisi Orde Lama ke Orde Baru musik jazz mengalami masa-masa suram. Pergolakan politik  yang terjadi pada masa itu menggerus eksistensi musik jazz di Indonesia. Para musisi dan penggemar musik jazz dicap sebagai antek imprialis. Sehingga pada masa-masa itu musik jazz hanya bisa dinikmati dan dimainkan secara sembunyi-sembunyi.

Kendati di bawah tekanan penguasa, dan keterbatasan.  Justru musik jazz di Indonesia tetap berjuang. Alhasil, pada tahun 1967 grup  musik beraliran jazz asal Indonesia bernama Indonesia All Stars ini berhasil tampil di ajang Berlin Jazz Festival. Lagu-lagu yang mereka suguhkan disebut sebagai  jazz ala Indonesia, mereka mampu untuk membawakan lagu Djanger Bali dan Ku Lama Menanti (KLM). Lagu KLM ini merupakan wujud penghargaan kepada perusahaan penerbangan asal Belanda, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij  (KLM) yang mensupport keberangkatan Indonesia All Stars ke ajang Internasional.

Masa susah payah pun berlalu, dan akhirnya pada tahun 1970-an musik jazz di Indonesia semakin semarak dan mulai beraktifitas di beberapa kota besar. Semaraknya musik jazz di belantika musik Indonesia tidak terlepas keberadaan salah satu cafe yang berdiri sekitar akhir 70-an sampai awal 80-an bernama Green Pub yang terletak di pusat kota Jakarta. Tempat ini menjadi salah satu tempat terpenting dalam pergerakan jazz di tahun 80-an.

Dalam sejarah musik jazz di Indonesia di akhir tahun 70-an, muncul pergerakan musik jazz di kampus-kampus. Dan yang paling menonjol di Universitas Indonesia, muncul nama Chandra Darusman yang memiliki kelompok vokal bernama Chaseiro.

Sejarah musik jazz di Indonesia berlanjut. Di akhir 1970-an juga muncul musisi muda lainnya, seperti Fariz RM, Fariz merilis album jazz bernuansa rock di tahun 1978 berjudul “Sakura”. Di akhir 70-an juga muncul penyanyi-penyanyi yang aktif di lingkungan kafe menyanyikan lagu-lagu bertemakan jazz-pop seperti Hemi Pasolima, Henry Manuputty, Utha Likumahuwa, Ria Likumahuwa dan masih banyak lagi.

Musisi-musisi muda di Jakarta pun lantas bermunculan, diantaranya Ireng Maulana (gitar), Perry Pattiselano (bass), Embong Raharjo (saksofon), Luluk Purwanto (biola), Oele Pattiselano (gitar), Jackie Pattiselano (drum), Benny Likumahuwa (trombon dan bass), Bambang Nugroho (piano), Elfa Secioria (piano). Beberapa musisi muda lainnya mempelajari rock dan fusion, tapi masih dalam kerangka jazz. Mereka adalah Yopie Item (gitar), Karim Suweileh (drum), Wimpy Tanasale (bass), Abadi Soesman (keyboard), Candra Darusman (keyboard), Joko WH (gitar) dan lainnya.

Untuk Fariz RM, ia lebih mengkategorikan musiknya sebagai new age. Namun, beberapa komposisinya bernafaskan pop jazz, bahkan latin. Indra Lesmana, Donny Suhendra, Pra B. Dharma, Dwiki Darmawan, Gilang Ramadan membentuk Krakatau, dan akhirnya kelompok ini bertransformasi menjadi Java Jazz, dengan mengganti beberapa personil.

Pada era ini pun, muncul beberapa pelopor acara-acara musik jazz ternama seperti “Jazz To Campus”, yang sudah menjadi agenda rutin setiap tahun di kampus UI.  Tahun 1988 juga pernah ada acara jazz terbesar yaitu “Jakarta Internasional Jazz Festival” atau lebih dikenal dengan nama “Jak Jazz”. Mungkin saat ini, kita sekarang lebih mengenalnya dengan nama Java Jazz

Meskipun hingga saat ini eksistensi musik jazz tetap ada. Tapi, musik yang berasal dari negeri Paman Sam ini tidak mampu menggeser kepopuleran musik Dangdut atau K-pop yang saat ini digandrungi oleh kalangan anak muda. Musik jazz hanya mampu menggarap masyarakat kelas elit dan mapan. Mereka tak mampu mampu masuk dan menggarap masyarakat kelas ekonomi bawah. Elitisnya musik jazz ini, tak ayal jika musik jazz bukanlah jenis musik yang populer dan mendapatkan tempat yang luas di hati masyarakat Indonesia.