Friday, 19 Jan 2018 mondayreview

K-Pop Musik Negeri Gingseng yang Menusantara


Eksistensi K-Pop mampu menghipnotis pecinta musik di Indonesia.

Istimewa.

MONDAYREVIEW.COM - Eksistensi K-Pop (Korean Pop) di belantika musik Internasional mendapat tempat tersendiri. Bahkan, jenis musik populer asal Korea Selatan ini mampu menghipnotis pecinta musik di Indonesia.  Demam Korea (Korean Wave) ini mengubah selera musik anak bangsa. Tak ayal, saat ini K-Pop menjadi musik yang paling digemari kalangan anak muda Indonesia.    

Derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi menghantarkan manusia pada situasi di mana interaksi manusia tidak lagi dihalangi oleh jarak dan waktu. Dunia seakan menyempit. Wajar jika para ahli menyembut bumi ini sebagai global village. Sehingga manusia dengan mudahnya berinteraksi dengan manusia dari seluruh bangsa di muka bumi ini.

Interaksi tanpa batas dan waktu inilah, tak heran jika kemudian segala produk budaya dari berbagai bangsa sangat mudah saling bertukar satu sama lain. Produk budaya tersebut salah satunya adalah Musik. Tak pelak musik lokal yang awal mulanya mendapatkan tempat tersindiri bergeser diganti denga jenis musik baru yang datang dari bangsa lain.  

Mengamati balantika musik di tanah air, terdapat perubahan selera anak muda dalam hal musik.  Selama hampir kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini sebagian besar lapisan masyarakat Indonesia mengalami perubahan, yakni terpengaruh oleh Demam Korea (Korean Wave). Tak pelak jika banyak sekali lapisan masyarakat, khususya anak di Indonesia sudah tak asing lagi mendengar istilah K-pop. Banyak sekali lapisan masyarakat menyukai salah satu genre musik pop yang sekarang sedang hits di Indonesia.

K-pop sendiri berasal dari Korea Selatan. Tapi dalam istilah media Tiongkok banyak dikenal dengan Hallyu. Hallyu sendiri merujuk pada budaya Korea, meliputi Film, drama seri, musik, dan fashion yang berhasil mempengaruhi negara lain (Hadwisia Septiyarti:2011:16).  Dalam perkembangannya, Korea terus mencapai kesuksesan dalam memasarkan produk budaya mereka. Salah satu diantaranya yang paling spektakuler adalah kesuksesan Psy dalam memopulerkan GangnamStyle. 

Keberhasilan Korea Selatan menjadikan K-Pop sebagai musik yang digandrungi masyarakat dunia, termasuk Indonesia tidak terjadi bugitu saja. Tapi ada upaya yang dilakukan secara sinergis oleh semua pihak di Korea Selatan. Sehingga tak hanya perkembangan teknologi yang semakin maju, Korea juga menggarap sisi budaya mereka.

Remaja di Indonesia menjadi salah satu konsumen gelombang K-Pop. Sehingga Kalangan muda Indonesia yang hakikatnya sebagai konsumen potensial budaya populer, menjadi sasaran Negara Korea untuk membawa masuk Budaya K-POP ke Indonesia. Maka lihatlah banyak remaja Indonesia saat ini  sudah tertular gelombang K-Pop.  Bahkan dari mereka sudah kehilangan identitas dan terseret serta terombang-ambing tak tentu arah derahnya arus K-Pop .

Masuknya gelombang K-Pop di Indonesia sontak memberikan pengaruh terhadap selera musik di Indonesia. Pengaruh tersebut terlihat dengan banyak generasi muda Indonesia yang mengikuti genre musik Korea seperti banyak dibentuknya  boyband dan girlband yang mirip seperti boyband dan girlband asal Korea.

Misalnya terbentuknya boyband asal Bandung, Smash. Smash tampil berani menghadirkan konsep baru dalam bermusik yakni dengan menyajikan musik tidak hanya menyanyikan lagu-lagu. Tapi dipadukan dengan dance. Ditambah lagi dengan wajah ganteng dari para personilnya. Tak ayal boyband asal Bandung ini yang baru muncul dalam belantika musik di Indonesia langsung mendapat tempat tersendiri bagi para pencinta musik. Sehingga fans-fans mereka dari kalangan anak muda langsung menjamur.

Smash merupakan perintis munculnya para boyband di Indonesia. Kesuksesan boyband Smash dalam belantika musik tanah air mendorong lahirnya bayband-boyband baru di Indonesia. Sebut saja boyband HITZ, DRAGONBOYZ, Max 5. Saking populernya jenis musik baru ini, maka tak heran boyband tidak hanya untuk kalangan dewasa saja. Namun,  boyband jenis yang sama juga lahir dari kalangan anak-anak. Sebut saja yang paling terkenal adalah Coboy Junior.

Makin populernya K-pop di belantika musik Indonesia ditandai juga makin menjamurnya girlband-girlband di Indonesia. Terbentuknya mereka juga mendapat tempat tersendiri di di hati penikmat musik Indonesia. Sebut saja di antaranya adalah 7 icons yang merupakan girlband pertama yang muncul di Indonesia. Selain itu Cherry Belle, Kilau, 5 Bidadari, G String dan JKT 48.  

Masuknya K-POP ke Indonesia dan mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia maka terjadilah pergeseran musik melayu dan dangdut Indonesia tidak lagi menjadi musik populer. Sehingga musik melayu dan dangdut sudah semakin jarang diminati masyarakat dan jarang ditampilkan di layar televisi. Masyarakat sekarang lebih menyukai boyband dan girlband ala Korea. Pergeseran tersebut membuat musik melayu dan dangdut mulai menurun drastis.

Banyak faktor yang mendukung mengapa K-Pop sangat mudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Faktor pertama  adalah globalisasi. Salah satu dampak seiringnya proses globalisasi dan perkembangan media adalah terciptanya budaya global (global culture).  Budaya global merupakan budaya dan nilai-nilai yang terbentuk dari proses transaksi dan pertukaran  global (Boli & Lechner, 2001).  Budaya global memungkinkan terciptanya satu kebiasaan, nilai dan budaya baru yang terjadi secara alamiah akibat aktivitas dan transaksi yang melibatkan banyak bangsa dan budaya.

Faktor kedua akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi global. Perkembangan teknologi dan didorong oleh perkembangan media memungkinkan orang dari seluruh penjuru dunia mudah berkomunikasi dan bertukar informasi. Kemajuan teknologi ini juga memungkinkan masyarakat Indonesia mengakses televisi luar negeri, termasuk dari Korea. Belum lagi internet yang menyediakan banyak situs gratis untuk mengakses K-pop seperti lewat Youtube maupun situs komunitas penggemar K-pop.

Faktor ketiga adalah adanya demokratisasi media di Indonesia. Demokratisasi memungkinkan warga Indonesia mengakses segala macam media tanpa ada sensor ketat dari pemerintah.

Faktor keempat penyebab demam Korea adalah karena kulitas K-pop itu sendiri. Penggiat industri pop Korea tampaknya sangat memahami keinginan pasar Asia. Industri K-pop sangat total dalam membuat dan menyebarkan K-pop ke mancanegara, terutama di wilayah Asia. Dengan kualitas baik dan didukung oleh bintang yang rata-rata memang berpenampilan menarik, produk budaya pop Korea menjadi mudah disukai.