Sunday, 22 Apr 2018 mondayreview

SMK Mendorong Kemajuan


Negara-negara seperti Swiss, Jerman, dan Finlandia telah membuktikan dengan SMK mereka bisa melahirkan orang-orang hebat dan berdaya saing.

Muchlas Rowie

MONDAYREVIEW, Jakarta - Dalam beberapa kali kunjungan ke beberapa negara dan penelitian sederhana yang saya lakukan tentang kaitan antara daya saing sebuah negara dengan pendidikan, ada dua hal yang saya temukan dan menarik perhatian.

Pertama tentang filosofi pendidikan yang mereka terapkan dalam sebuah lembaga pendidikan. Bagi mereka, mendidik para siswa adalah tentang bagaimana merangsang orang agar maju (encouragement). Rumus sederhananya, apresiasi bukan menutupi kelemahan, tapi untuk menggugah kemajuan.

Ini tentu berbeda dengan apa yang seringkali kita lihat dan rasakan di Tanah Air. Para siswa acapkali diberikan setumpuk tugas, lalu bila tidak bisa mengerjakannya, maka siap-siap untuk kena marah atau bahkan sanksi.

Rhenald Kasali punya catatan khusus soal ini. Menurutnya, bagaimana bisa kita melahirkan anak-anak yang hebat lebih banyak lagi, bila cara kita lebih senang menciptakan hambatan dan rasa takut bagi anak-anak kita.

Betul bahwa lingkungan rumah atau pun sekolah yang ketat ‘tidak nyaman’ kadang kala dapat membuat anak-anak menjadi lebih disiplin. Tapi ingatlah pula, bila kondisi tersebut juga dapat mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Beberapa temuan terbaru dalam ilmu otak terbukti menunjukkan bahwa, otak manusia itu tidak statis, melainkan dinamis. Otak dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh (membesar). Dan semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekelilingnya.

Hal kedua yang saya temukan dan menarik perhatian adalah bagi para siswa di negara-negara maju terutama Swiss, Jerman dan Finlandia, sekolah kejuruan bukanlah tempat pembuangan bagi siswa yang kurang berbakat. Sebaliknya, sekolah kejuruan adalah alternatif dan tempat bagi para siswa yang kreatif.

Fakta ini mengingatkan kita kepada Presiden Joko Widodo yang tak mampu menutupi kegusarannya melihat tingginya pengangguran dari SMK. Di tengah besarnya angkatan kerja Indonesia, besarnya lulusan pengangguran SMK tentunya memunculkan beban tersendiri.

Lulusan SMK memang masih dianggap sebelah mata. Gengsinya dianggap lebih rendah jika dibandingkan dengan lulusan SMA. Itulah mengapa minat siswa masuk SMK masih lebih rendah. Data Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan, jumlah siswa SMA lebih besar dibandingkan SMK. Untuk tahun ajaran 2015/2016, jumlah siswa SMA sebanyak 4.442.835 siswa, sementara SMK 4.419.423 siswa.

Sebaliknya, di Swiss, para siswa lebih banyak memilih sekolah kejuruan daripada SMA bahkan universitas dengan biaya gratis. Sekolah kejuruan di negara ini menciptakan jalur yang jelas untuk mendapatkan pekerjaan. Dari total populasi kaum muda Swiss, hanya terdapat kurang dari 3% pengangguran, dan gaji tahunan awal rata-rata lulusan SMK adalah sekitar 50 juta.

Dengan sekolah kejuruan, negara-negara dengan peringkat daya saing yang tinggi memang berniat menciptakan sebuah sistem yang besar, bukan hanya untuk para siswanya tapi juga untuk para pemberi kerja (dunia industri).

Apakah Indonesia tidak melakukan hal serupa? Jawabannya, Indonesia sesungguhnya telah melakukan hal serupa. Namun sejarah panjang bangsa ini kadang mengidentifikasi sekolah kejuruan sebagai sekolah pilihan kedua. Padahal, nyatanya dengan SMK, negara-negara seperti Swiss, Jerman, dan Finlandia telah membuktikan dengan SMK mereka bisa melahirkan orang-orang hebat dan berdaya saing.

Yang terpenting sesungguhnya adalah mari memulai untuk mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Mari bantu orang lain untuk maju, bukan dengan memberi mereka batu karang sebagai ujian kesuksesan. Karena seringnya, mereka merasa terancam dan takut menghadapi masa depan. [Muchlas Rowi]