Monday, 22 Oct 2018 mondayreview

Pentingnya Penguatan Pendidikan Vokasi


Kesesuaian antara demand dengan supply atau Link and Match menjadi kunci utama dari penguatan pendidikan vokasi.

SMKN 5 Jogjakarta

MONDAYREVIEW, Jakarta - Salah satu alasan kenapa bangsa Indonesia menyatakan dirinya terbuka terhadap pergaulan dunia internasional tentu saja agar dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Dari sisi manapun, sikap ini menjadi penting terutama demi menunjang kesejahteraan umum dan pemulihan ekonomi nasional.

Dalam pergaulan internasional ada sejumlah kesepakatan yangmenuntut adanya keterbukaan, kemudahan, dan jaminan keamanan. Di level regional ASEAN misalnya, kini mengacu kepada blueprint AEC 2015 disebutkan bahwa liberalisasi sektor jasa di maksudkan untuk menghilangkan hambatan penyediaan jasa oleh pemasok ataupun pendirian jasa baru lintas negara di kawasan ASEAN dengan tetap tunduk pada regulasi domestik, melalui mekanisme AFAS.

Dengan ketentuan ini, tenaga kerja asal manapundalam lingkup ASEAN dapat bekerja di Indonesia atau negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.Tentu saja dengan standar kompetensi yang sudah di sepakati dalam kesempatan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Meski pada dasarnya segala bentuk kesepakatan yang telah di buat ditujukan untuk terciptanya pasar tunggal,namun dalam kenyataannya sejumlah kesepakatan tersebut bukanlah proses tunggal,atau “satu ukuran untuk semua orang.”Begitu banyak pelaku bisnis merasakan kekecewaan dengan penjualan di pasar internasional versi lama, yang mulai menjenuhkan lalu menghendaki adanya pasar versi baru.

Gambaran perkembangan negara-negara di dunia ataupun kawasan tak ubahnya seperti di katakan Kaname Akamatsu “like the swan, we always move forward.” Semua bangsa bergerak maju, namun senantiasa membentuk v terbalik. Seperti angsa-angsa yang terbang di angkasa, selalu ada yang di depan dan di belakang.

Akibatnya, di era persaingan global seperti sekarang ini ekspansi tenaga kerja asing menjadi tak bisa di hindari. “Persaingan tenaga kerja terjadi di semua tempat mulai dari level terendah hingga internasional,”ujar Mentri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri.

Maka yang perlu dilakukan tentu terbang seperti angsa-angsa lainnya, bukan untuk membentuk huruf v terbalik, namun terbang sama rata. Seperti yang saat ini tengah didorong oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, pendidikan vokasi harus diintegrasikan dan direvitalisasi dalam konteks pembangunan. Upaya ini dilakukan dengan tujuan mempercepat dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja di Indonesia.

Integrasi Pendidikan Vokasi

Indonesia harus bergerak cepat. Apalagi bila mengacu pada catatan Badan Pusat Statistik pada kuartal kedua tahun 2016, ekonomi Indonesia yang meskipun tumbuh 5,18% dibanding tahun sebelumnya.Ternyata pertumbuhan ini lebih banyak dipacu oleh lonjakan konsumsi dan belanja infrastruktur pemerintah.

Sementara itu, bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia di tahun 2020 hingga 2030 juga malah diyakini berpotensi menjadi pisau bermata dua. Jika kita siap dan mampu memanfaatkannya dengan baik,maka tentu kemajuanlah yang kita raih. Sebaliknya, jika bonus demografi tidak bisa di manfaatkan dengan baik,tanpa persiapan yang serius, niscaya jadi malapetaka. Karena akan ada begitu banyak angkatan kerja yang menganggur, alih-alih memberikan bonus, tapi malah menjadi beban.

Memang dibutuhkan tenaga terampil terstandar dengan jumlah yang cukup besar. Dimana tiap tahunnya, dibutuhkan 1,8juta tenaga terampil agar Indonesia bisa merebut pasarnya sendiri di tingkat nasional serta eksis di pasar sendiri dan memenangkan persaingan di tingkat regional dan internasional.

Revitalisasi pendidikan vokasional memang menjadi penting, terutama untuk meningkatkan kualitas dan akses Sekolah Menengah Kejuruan, penyediaan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri, peningkatan layanan sekolah dan citra SMK di hadapan dunia usaha.

Bila mengacu pada sejumlah kesepakatan yang telah dibuat baik di tingkat regional dan internasional, maka tentu ada banyak standar kompetensi yang harus disesuaikan.Standar kompetensi lulusan, layanan, pembelajaran, pengelolaan serta standar lainnya merupakan bagian utama dari revitalisasi harus dilakukan.

Sementara untuk menyesuaikan perkembangan pasar tenaga kerja baik ditingkat regional maupun internasional, maka yang digarap adalah analisis potensi dan kekuatan,kemudian memilih bidang-bidang prioritas yang membuat tenaga kerja Indonesia lulusan SMK menjadi lebih kompetitif. Dalam hal ini ada 4 prioritas dan beberapa pendukungnya, yaitu bidang kemaritiman, pariwisata, agrikultur/agribisnis, serta industri kreatif.

Hal penting lainnya, adalah memformulasikan kebijakan dan implementasinya untuk mencapai tujuan. Sementara untuk menyesuaikan perkembangan kebutuhan pasar dan dunia usaha, maka yang dilakukan adalah melakukan harmonisasi program keahlian di SMK agar sesuai dengan kebutuhan industri, perkembangan teknologi, perbaikan kualitas layanan sekolah dan kualitas lulusan serta memenangkan persaingan di tingkat nasional, dan regional.

Kesesuaian antara demand dengan supply atau Link and Match menjadi kunci utama dari penguatan pendidikan vokasi. Makanya berbagai standar pendidkan di SMK perlu dibenahi, terutama kurikulum yang sesuai dengan perkembangan teknologi, kebutuhan pasar dan merespon derasnya persaingan. [Mrf]