Wednesday, 22 Aug 2018 mondayreview

Kopi, Penemuan Orang Islam yang Mengubah Dunia


Awalnya, kopi ini menjadi konsumsi para sufi. Mereka menjadikan kopi sebagai penahan kantuk agar kuat berdzikir dan shalat malam.

ilustrasi foto

MONDAYREVIEW.COM – Kopi merupakan salah satu minuman yang sangat populer di kalangan masyarakat dunia. Seolah, tiada hari tanpa ditemani segelas kopi. Membaca koran, menikmati kudapan, menonton televisi, atau bahkan sekadar bertukar pikiran seolah tak lengkap tanpa segelas kopi.

Bila mengacu pada data statistik dari Organisasi Kopi Internasional, maka tak heran bila dalam satu hari, paling tidak ada sekitar 1,6 miliar gelas kopi yang dikonsumsi di seluruh dunia. Karena dewasa ini miliaran orang memang menjadikan kopi sebagai minuman favoritnya.

Sayangnya, begitu sedikit orang yang tahu bila kopi sebetulnya memiliki keterkaitan dengan kejayaan Islam di masa lampau. Termasuk soal siapa yang pertama kali menemukan kopi dan bagaimana menyajikannya.

Penemuan yang hilang

Hingga saat ini, kebanyakan orang mengenal kopi sebagai tradisi orang-orang barat (Eropa dan Amerika). Padahal, untuk pertama kalinya kopi ditemukan dan populer di Yaman sekitar tahun 1400-an (ada pula yang menyebut Ethiopia).

Awalnya, kopi ini menjadi konsumsi para sufi. Mereka menjadikan kopi sebagai penahan kantuk agar kuat berdzikir dan shalat malam. Hal ini tentu saja diakibatkan oleh kafein yang dikandungnya. Dari para sufi inilah kopi atau qohwah (begitu pertama kali dikenal) dikonsumsi masyarakat Yaman lalu kemudian menyebar ke seluruh dunia melalui para musafir dan jamaah haji. Kopi pun mulai dikenal di Makkah dan Turki sekitar akhir abad 15, lalu juga dikenal di Kairo pada abad 16.

Sumber lain menyebutkan, bahwa awalnya seorang pengembala menuturkan bila kambing-kambingnya berubah lebih energik dan tak bisa diam setelah mereka memakan biji dari sebuah pohon. Dan bahkan si penggembala kambing sempat membuktikannya sendiri. Sampai akhirnya mereka pun mulai terbiasa untuk memanggang biji-biji tersebut lalu merendamnya dalam segelas air untuk membuat sebuah minuman. Demikian selanjutnya hingga kopi atau qohwah semakin populer di Semenanjung Arab Selatan.

Rahasia kecerdasan

Selain soal sejarah perkopian yang hilang, dari miliaran penikmat kopi tersebut juga sedikit sekali yang tahu akan rahasia kecerdasan di balik secangkir kopi. Aneh memang, bila selama puluhan tahun kita dihipnotis oleh sains bahwa kopi tak bagus untuk kesehatan. Padahal sebenarnya kopi adalah salah satu minuman kegemaran Nabi kita selain susu dan madu.

Selain itu, kopi ternyata memiliki sejuta manfaat; kopi memberikan semangat pagi, membuat kita terjaga dan terhindar dari penyakit. Beberapa hasil penelitian terkini bahkan menganjurkan agar kita meminum 2-4 cangkir kopi setiap hari untuk memaksimalkan manfaat antioksidan di dalamnya.

Antioksidan diperlukan untuk menangkal radikal bebas yang mengganggu fungsi normal sel-sel tubuh dan merusak DNA tubuh. Antioksidan lebih lanjut dapat meminimalisasi kemungkinan terkenanya penyakit jantung dan kanker. Dan bahkan, antioksidan juga dapat mencegah kemungkinan berkembangnya gangguan otak degenerative seperti penyakit Alzheimer. Pun demikian dengan penyakit diabetes dapat diatasi dengan mengkonsumsi zat antioksidan.

Selain dapat meminimalisasi kemungkinan munculnya beberapa penyakit tersebut, mengkonsumsi kopi ternyata juga dapat merangsang kecerdasan otak. Sayangnya selama ini, para penikmat kopi seringkali dihantui oleh bahaya kafein yang terkandung dalam kopi. Sehingga rahasia kecerdasan dari kopi ini tak banyak diketahui para penikmat kopi. Padahal, tak hanya kafein saja yang terkandung dalam secangkir kopi yang kita minum, melainkan juga polyphenol berupa chloregenic acid. Polyphenol inilah yang sebetulnya dapat merangsang konsentrasi seseorang. Untuk saat ini, mungkin umat Yahudi lah yang paling engeuh, akan manfaat kopi karena adanya polyphenol ini. Sehingga tak heran bila di meja para professor Yahudi selalu ada secangkir kopi. Pun demikian kedai-kedai kopi di Israel yang sebisa mungkin diupayakan dapat menyajikan kopi yang kandungan polyphenolnya lebih tinggi.

Sajikan kopi terbaik

Bisa jadi, kenapa kemudian kopi yang dinikmati miliaran orang dianggap berbahaya untuk kaesehatan tak lain karena disajikan secara keliru. Menurut Dr. Mehmet C. Oz, miliaran cangkir kopi memang telah dibuat secara keliru. Dan salah satunya adalah karena kopi umumnya dinikmati dengan tambahan gula, susu atau bahkan creamer. Padahal ketiga campuran tersebut, dapat membunuh beberapa senyawa dalam kopi, terutama creamer. Sementara Casein, protein yang ada dalam susu akan mengikat polyphenol dalam kopi dan mengubahnya menjadi lemak jenuh.

Kata Dr. Oz, cara terbaik menikmati kopi adalah tanpa gula, hanya dengan susu rendah lemak. Karena jika kopi ditambahkan dengan gula, itu artinya akan ada banyak kalori tambahan. Sedangkan campuran susu full cream dan beberapa jenis creamer lainnya malah akan meningkatkan lemak jenuhnya.

Penyajian terbaik lainnya adalah dengan difermentasi. Ternyata tidak hanya susu saja yang bisa difermentasi, namun kopi juga bisa. Dengan cara yang serupa pada susu, kopi hasil fermentasi ternyata memiliki rasa yang tak kalah dengan yoghurt. Dan yang terpenting kopi hasil fermentasi ini ternyata memiliki kandungan yang sama dengan yang ada dalam yoghurt, yaitu vitamin C dan antioksidan.

Adalah Cecilia Hariyanto, mahasiswa Fakultas Teknologi Universitas Surabaya yang menemukan model penyajian kopi dengan cara difermentasi. Kombucha cofee, demikian Cecilia memberi nama kopi hasil temuannya tersebut. Awalnya, kopi fermentasi ini merupakan karya tugas akhir Cecilia Hariyanto di Universitas Surabaya. Namun, karena setelah dilakukan penelitian kombucha coffe ini memiliki rasa yang lumayan enak dan menyehatkan, maka kopi ini pun mulai dikembangkan lebih serius.

Arabika, jenis kopi terbaik

Secara umum kopi yang biasa dinikmati masyarakat kita sebetulnya mampu menurunkan risiko diabetes militus, kanker dan meningkatkan konsentrasi. Hal ini seperti disampaikan sebelumnya karena kandungan polyphenol yaitu chlorogenic acid di dalam kopi, namun manfaat ini bergantung dari jenis kopi yang diminum.

Di kalangan masyarakat, kita mengenal begitu banyak jenis kopi; ada arabika, robusta, Sumatra mendheling, kopi hijau, kopi luwak, dan toraja kalosi. Namun, di antara jenis-jenis tersebut arabikalah yang terbaik. Selain karena kadar kafein dan tingkat keasaman yang rendah, kopi jenis arabika juga memiliki kadar antioksidan yakni polyphenol yang tinggi dibandingkan dengan jenis kopi lainnya. Tak heran bila kepi jenis ini memiliki harga yang sedikit lebih mahal.

Sahabat, sesempurna apa pun kopi yang diracik dan disajikan, kopi memang tetaplah kopi, ada rasa pahit yang tiada dapat dihilangkan. Dan ingatlah, bahwa apa pun yang dilakukan secara berlebihan (ghuluw) termasuk meminum kopi tetaplah tidak baik. 

[M.Sagara]