Wednesday, 22 Aug 2018 mondayreview

Antara Gizi Buruk dan Keluhuran Budaya Asmat


Masyarakat Asmat percaya, roh orang meninggal dapat menyebabkan bencana atau menyebarkan penyakit. Untuk menghindarinya, Suku Asmat akan membuat patung dan menyelenggarakan berbagai macam pesta.

ilustrasi foto

MONDAYREVIEW.COM - Rawa kecoklatan, hijau rimbun dedaunan, lalu langit yang mengharu biru menyambut siapa saja yang berkunjung ke wilayah Asmat. Sebuah kabupaten yang berada di wilayah adat Animha, dan berbatasan langsung dengan Nduga, Yahukimo, Boven Digoel dan Mappi.

Di atas hamparan hutan dengan kontur tanah yang lembek, berawa, dan diselingi sungai besar, terlihat elang terbang mengitari sarangnya. Seperti itulah panorama Asmat sesungguhnya, yang menyegarkan mata, mendamaikan pikiran.

Namun, kesan itu seolah hilang, setelah mendenhar perbincangan seputar warga Asmat yang terkena campak dan gizi buruk. Menurut data yang diperoleh, penduduk Asmat terkena wabah campak dan gizi buruk sejak September 2017. Ketika itu, ada sekitar 68 balita dan anak-anak yang meninggal dunia.

Beberapa langkah medis sebetulnya telah ditempuh pemerintah daerah, namun lagi-lagi akses transportasi kemudian membuat penanganan campak dan gizi buruk ini menjadi lebih menyulitkan.

Ada pula usulan agar beberapa warga yang terkena wabah untuk direlokasi baik ke daerah di sekitar Asmat sendiri, atau pun ke Jayapura. Hanya saja, entah karena alasan adat atau jauhnya jarak, relokasi pun urung dilakukan.

Masyarakat Asmat memang percaya, bahwa roh orang yang telah mangkat dapat menyebabkan bencana bagi orang yang masih hidup, menyebabkan peperangan, atau bahkan menyebarkan penyakit. Untuk menghindari hal tersebut, orang-orang suku Asmat akan membuat patung dan menyelenggarakan berbagai macam pesta. Diantaranya adalah Pesta Bis, Pesta Perah, Pesta Ulat Sagu, dan Pesta Topeng.

Itulah sebabnya, masyarakat Asmat pandai membuat hiasan ukiran. Hebatnya, mereka membuat ukiran tanpa membuat sketsa terlebih dahulu. Ukiran-ukiran yang mereka buat memiliki makna, yaitu persembahan dan ucapan terima kasih kepada nenek moyang. Bagi Suku Asmat, mengukir bukan pekerjaan biasa. Mengukir adalah jalan bagi mereka untuk berhubungan dengan para leluhur.

Lebih lanjut, Suku Asmat meyakini, bahwa mereka berasal dari keturunan Dewa Fumeripitsy yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari. Menurut keyakinan mereka, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan.

Peradaban Asmat

Sejatinya, Kabupaten Asmat menyuguhkan destinasi wisata yang penuh tantangan, unik dan eksotis. Objek wisata yang menonjol adalah Objek wisata Budaya, Objek Wisata Alam dan Objek Wisata Taman Nasional Lorentz. Objek Wisata Budaya yakni Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat yang tersimpan benda-benda bersejarah Suku Asmat seperti ukiran patung (Mbis, Panel, Salawaku, Perisai Woramon/perahu adat, panah, busur, terompet, pakain roh, kapak batu, busur, dll),  Keunikan lain yang dijumpai adalah rumah adat Asmat (Jew) dikhususkan untuk para pemuda asmat yang belum menikah. Rumah ini terdiri satu ruangan dengan beberapa pintu, dibangun dengan berbahan kayu, atap dari daun sagu, dan tidak menggunakan paku besi, berukuran 30 – 60 meter.

Kehebatan serta keunikan peradaban yang dibangun Suku Asmat telah membuka mata dunia, tentang arti sebuah keseimbangan kehidupan umat manusia dengan alam semesta. Keberadaan mereka telah membuat Taman Nasional Lorentz yang resmi diakui UNESCO sebagai warisan alam dunia pada tahun 1999, menjadi kian mempesona. Setiap tahun pada bulan Oktober selalu diadakan event Festival Budaya yang diprakarsai oleh Kurator Museum asmat, Keuskupan dan Pemda Asmat. Beberapa kegiatan dalam festival ini adalah Lelang Patung, Demonstrasi Ukir dari para Pematung Asmat, Pagelaran Masakan Khas Suku Asmat, Pemilihan Abang dan None Asmat, Pementasan Tarian Adat Asmat, Maneuver Perahu/Lomba Perahu Asmat dan lain-lain.

Begitulah Asmat, keunikan dan kehabatannya tiada tara. Semoga saja, saat menyusuri kampung-kampung Asmat, masih akan terasa teduh oleh kanopi dedaunan. Berlindung dari sengatan matahari. Longboat yang kita kemudikan, lalu meliuk-liuk mengikuti aliran sungai. Sesekali sensasi keteduhan dan ketenangan sungai, berganti arus bergelombang. Tikungan tajam, pohon yang tumbang, serta air yang terbelah oleh deru mesun 55 PK yang kencang menjadi tantangan yang mengasyikan. Dan yang terpenting tentu saja, apa yang saat ini melanda masyarakat Asmat segera dapat diatasi.

[Mrf]