Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Menakar Mahfud MD


Lugas, moderat, dan memiliki pengalaman di ranah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sangat layak didorong dalam bursa capres-cawapres.

(c) koranmadura.co

 

MONDAYREVIEW - Mahfud MD adalah kader HMI yang berlatar belakang NU. Berasal dari lingkungan keluarga Nahdliyyin  namun bisa diterima di kalangan ormas lain termasuk di lingkaran Muhammadiyah. Maka, bila menimbang siapa yang paling sesuai mendampingi Jokowi di pilpres sebagai cawapresnya, Mahfud MD menjadi salah satu pilihan tepat. Ia mewakili basis Islam sekaligus tidak berhadapan secara diametral dengan kalangan non-muslim.    

Tokoh kelahiran Sampang Madura, 13 Mei 1957 ini pernah menjadi menteri, anggota DPR RI, hingga Ketua MK, dan kini anggota dewan pengawas Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Sebagai politisi yang pernah menjadi ketua tim sukses Prabowo-Hatta, ini menunjukkan dua hal. Di satu sisi, Jokowi bukan pendendam dan tidak melibas mantan seteru politiknya. Di sisi lain, Mahfud  seorang demokrat tulus yang bisa menerima kekalahan dan ikut mendukung bekas lawan politiknya.

Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013 ini seorang pakar hukum yang faham betul dengan ketatanegaraan. Ia juga memahami Pancasila hingga kedalaman penghayatannya. Mahfud cukup lama mengajar matakuliah Pancasila, terutama di almamaternya UII Yogyakarta. Di kelas Pancasila, Mahfud selalu membawa para mahasiswanya untuk memahami Pancasila tak sekedar sebagai hafalan. Ia mampu membuat kelas berfikir untuk mengiplementasikan Pancasila dalam keseharian.   

Mahfud MD lugas sekaligus santun. Karakter yang mewakili pengaruh sub-kultur Madura yang unik, intelektual yang berani sekaligus beradab. Sikapnya yang terbuka dan jauh dari kesan hipokrit membuat Mahfud patut didorong sebagai capres atau cawapres. “Sikap saya pasif”, kata Mahfud ketika diminta konfirmasi kesediaannya anda Jokowi meminangnya. Sikap yang sangat terukur, jauh dari basa-basi.   

Sikap dan pemikirannya ‘clear’ dan fokus pada agenda-agenda kebangsaan. Tidak terjebak dalam diskusi yang dangkal dan sia-sia. Sebagai cendekiawan muslim, Mahfud memiliki basis ilmu agama  yang memadai. Tak hanya topik hukum dan ketatanegaraan yang disoal di berbagai forum, pun persoalan ideologis yang tak jarang berkeling kelindan dengan soal-soal teologis. Dan Mahfud memiliki wewenang ilmiah untuk bicara masalah ‘berat’ di ranah teologis.

Sejak kecil Mahfud MD memang selalu menjalani pendidikan agama dan pendidikan umum secara simultan. Pagi Sekolah di SD dan sore di Madrasah Diniyah, Pendidikan Guru Agama Islam Negeri (PGAN), Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Hingga di Perguruan Tinggi, ia mengambil jurusan Sastra Arab di UGM dan Hukum Tata Negara di UII.

Tak ada gading yang tak retak. Mahfud pasti memiliki kekurangan dan pernah berbuat salah dalam berpendapat atau mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun sejauh ini, Mahfud termasuk tokoh yang memiliki integritas yang kuat dan rekam jejak yang bersih. Jejak bersihnya seterang pendapat-pendapat yang dilontarkannya.    

Mahfud muda adalah aktivis, terutama di pers mahasiswa. Sikap kritis dan analisisnya yang tajam terasah dalam rentang perjalanan yang panjang. Proses itulah yang bukan tidak mungkin melahirkan konsistensi dan kematangan sebagai seorang negarawan. Maka, andai politik elektoral Indonesia sudah lebih matang, Mahfud MD sangat layak dicalonkan sebagai presiden. Pengalamannya di berbagai posisi trias politika demokrasi memberi kita referensi yang cukup untuk mendukungnya.  

Wakil Ketua Umum DPP PKB periode 2002-2005 ini  sangat terbuka dalam berdiskusi. Termasuk pakar yang tidak canggung merespon perkembangan dunia digital. Keterbukaan dalam diskusi di medsos terutama di twitter menunjukkan kedalaman ilmu dan rentang wawasannya yang luas. Maka, kehadirannya di tengah persoalan sosial politik yang tengah  menghangat bahkan memanas menjadi penting.

Sungguh jadi apapun dan dalam posisi apapun, keberadaan Mahfud MD pasti akan selalu bermanfaat bagi proses demokrasi di Indonesia. Dan bila posisi wapres bahkan presiden untuk republik multikultural dengan mayoritas muslim ini sangat mungkin akan mengoptimalkan peran kebangsaannya.  

Jadi, kita tunggu perkembangan selanjutnya. Akankah Pendekar Trias Politika ini memperoleh dukungan rakyat dan momentum sejarah dalam menyambut takdirnya sebagai cawapres Jokowi atau bahkan menjadi capres pesaing Jokowi?