Sunday, 15 Jul 2018 mondayreview

Indonesia dalam Pusaran Ekonomi Digital Asia Pasifik


Potensi EKonomi Digital Indonesia, bersama negara-negara ASEAN dan Asia Pasifik sangat besar dan menjanjikan. Siapkah dan siapakah yang akan diuntungkan?

(c) econsultancy

MONDAYREVIEW- Pertumbuhan ekonomi Asia tidak hanya terjadi di  China. Negara-negara berkembang  seperti Vietnam, Indonesia, Kamboja, dan Filipina juga berubah dengan cepat dan meningkat pesat economic size-nya. Salah satu yang mendorong pertumbuhan tersebut adalah ekonomi digital.

Pengertian Ekonomi Digital merujuk pada ekonomi yang berbasis pada teknologi komputasi digital. Tak jarang memang disamakan dengan istilah ekonomi berbasis internet atau web.  Digital ekonomi merupakan jejaring global dari aktivitas ekonimi, transaksi komersial, dan interaksi profesional. Kehadirannya menjadi mungkin karena pencapaian dalam teknologi informasi dan komunikasi.

Bagaimana Indonesia dapat berlari cepat di lintasan arena ekonomi digital? Kata kuncinya adalah adopsi teknologi, investasi asing, dan inovasi digital yang bisa dilakukan dan dikendalikan oleh Indonesia sebagai suatu negara. Pergeseran pola dan pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN tak dipungkiri sangat menjanjikan. Walau perubahan tantangan yang dihadapi cukup berat, namun pendulum pertumbuhan ekonomi dunia memang sedang bergerak ke kawasan ini.

Pusat gravitasi ekonomi, sebagaimana dinyatakan Presiden Jokowi ketika berkunjung ke Australia beberapa waktu lalu, telah bergeser dari Atlantik ke Pasifik.  Sinyalemen ini tentu didukung dengan data yang akurat. Dan secara umum, hal ini memang sudah dinyatakan oleh banyak kalangan di berbagai kesempatan. Pergeseran pusat ekonomi ini adalah bagian dari proses alamiah dalam mencapai titik keseimbangan baru secara global.

Selanjutnya, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa semua orang dan semua hal bertransformasi dengan adanya 'mobile internet', 'cloud computing' dan 'digital economy'. Terkait ekonomi digital, dengan populasi yang lebih muda, kemakmuran yang tumbuh, dan orang-orang yang semakin paham teknologi, populasi internet di Asia Tenggara diperkirakan akan meningkat dari 260 juta menjadi 480 juta antara tahun 2015 dan 2020.

Tahun 2025, ekonomi digital di negara-negara Asia Tenggara akan bernilai sebesar $ 197 miliar atau meningkat 640% dibanding  satu dekade sebelumnya. Perkembangan ini sangat cepat dan luar biasa. Menunjukkan potensi ekonomi yang sangat menarik bagi para pelaku usaha, terutama yang sudah menyadari data-data terkait revolusi industri 4.0 sebagai era internet of thinking.  

Menurut data milik Google dan perusahaan investasi Temasek, sektor yang paling menarik untuk diamati di kawasan ini meliputi e-commerce, hiburan digital, travel online, dan layanan keuangan digital. Data ini menunjukkan potensi pergeseran dari kebutuhan non-leissure ke kebutuhan leissure. Bisnis hiburan dan jalan-jalan sangat menjanjikan.

Pasar travel dan transportasi  diperkirakan akan booming dengan kenaikan 90% pada 2021, dan ini akan didorong oleh pertumbuhan pelanggan di layanan taksi-on-demand. Kepadatan jalanan, mahalnya parkir, mahalnya BBM, dan berbagai persoalan yang dihadapi publik akan terjawab dengan kehadiran layanan ini. Tidak perlu membeli kendaraan bermotor, cukup membeli fungsinya saja.

Kawasan ini juga akan melihat sektor hiburan digitalnya  tumbuh hampir tiga kali lipat kecepatan China selama tahun-tahun mendatang. Masyarakat yang semakin sibuk akan memilih dan membeli tayangan sesuai dengan kebutuhannya. Film, video musik, dan berbagai tayangan hiburan dinikmati dengan gawai dalam perjalanan pergi-pulang ke kantor.  

Pada tahun 2021, pembayaran mobile akan memiliki pangsa pasar 43% di wilayah Asia Pasifik dan Jepang. Uang tunai hanya untuk cadangan. Transaksi yang cepat perlu dilakukan dengan aman. Uang elektronik berbasis chip dan dompet elektronik semakin dibutuhkan. Dan teknologi baru yang memungkinkan pedagang kaki lima bisa menerima pembayaran mobile atau pembayaran elektronik juga akan tersedia dimana-mana.

Kebutuhan akan transformasi digital di Asia Pasifik & Jepang telah mencapai tingkat kritis,  menurut survei yang dikeluarkan oleh CA Technologies sebagaimana dilansir di laman networkasia.net. Delapan puluh persen pemimpin bisnis dan TI yang disurvei sepakat bahwa industri mereka terkena dampak guncangan digital. Ini merupakan angka yang sangat signifikan. Keyakinan ini mengarah pada strategi baru yang ditempuh oleh pemimpin bisnis untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, merespon dampak digitalisasi, dan membangun kolaborasi untuk mengantisipasi hal tersebut.

Namun, sebagian besar organisasi belum siap ketika menghadapi ekonomi digital ini karena hanya 17 persen yang disurvei yang memiliki strategi transformasi digital yang terbentuk sepenuhnya. Dalam dunia baru yang didefinisikan oleh keterlibatan digital, diferensiasi kompetitif untuk organisasi, dan bahkan pemerintah, semakin ditentukan oleh kemampuan mereka untuk mentransformasikan dirinya secara digital dan membangun perangkat lunak ke dalam strategi bisnis mereka.

Survei tersebut menemukan bahwa kondisi ekonomi yang berkembang pesat, titik temu untuk mengubah harapan pelanggan dan menggunakan transformasi digital sebagai keunggulan baru dalam memenangkan pesaing tradisional dicatat sebagai tekanan terbesar untuk transformasi digital di wilayah ini.

Sementara itu hanya 51 persen dari organisasi yang disurvei telah meluncurkan proyek transformasi digital dengan tujuan perusahaan yang jelas, seperti meningkatkan produktivitas dan meningkatkan pendapatan. Temuan ini mencerminkan tiga prioritas utama bisnis dimana organisasi di Asia Pasifik dan Jepang berfokus pada pemecahan tantangan dewasa ini, yaitu mengoptimalkan efisiensi operasional, meningkatkan kolaborasi tenaga kerja, dan mengurangi biaya operasional.

Untuk berkembang dalam ekonomi aplikasi, dunia usaha perlu mengadopsi  teknologi informasi, terutama perangkat lunak. Dunia usaha perlu membangun pabrik perangkat  lunak modern di mana kecepatan, otomasi, wawasan, dan keamanan bahu-membahu dalam menghidupkan transformasi digital.