Wednesday, 22 Aug 2018 mondayreview

Ketika Buya Syafii Kena Tilang Lantaran Melanggar Aturan Ganjil-Genap


Sang polisi yang rupanya mengenal sosok yang berada di dalam mobil menjadi sedikit kikuk. Namun Buya spontan memberi kode, bila dirinya dalam posisi yang salah.

Ilustrasi foto/Net

USIA MESTINYA memang tak menjadi penghalang untuk melakukan aktivitas. Selagi kita masih bisa menyeimbangkan antara gerak fisik dan olah pikiran, maka aktivitas apa pun niscaya bisa kita lakukan. Buya Syafii- sebutan akrab Ahmad Syafii Maarif – mungkin adalah salah satu yang bisa menyeimbangkan kedua hal tersebut. Karena Nyatanya, meski usia beliau telah menginjak tahun ke-83, namun seabreg aktivitas masih bisa beliau lakukan seperti biasa.

Shalat berjamaah di mushala, bersepeda santai, melayani tetamu yang berkunjung ke rumahnya, berdiskusi dengan anak-anak muda, menghadiri undangan menjadi pembicara, atau bahkan megnhadiri kegiatan kenegaraan.

Terbaru, pada Kamis (29/3) kemarin, beliau bertolak dari Yogyakarta ke Jakarta untuk menghadiri satu undangan kegiatan. Ketika sampai di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Buya Syafii, langsung dijemput kendaraan yang sudah menunggu 1 jam sebelum pesawat yang tumpanginya menyentuh landasan pacu bandara.

Mobil yang ditumpangi Buya lalu meluncur ke lokasi acara. Di tengah perjalanan, saat Buya tampak fokus memgamati beberapa proyek infrastruktur di Jakarta, tiba-tiba saja mobil yang dinaikinya diminta berhenti oleh beberapa polisi lalu lintas.

Buya pun kaget sekaligus juga heran. Meski tak terlalu memperhatikan laju mobil yang dinaikinya, namun Buya masih bisa merasakan, bila sang sopir tak melakukan manufer apa pun yang berpotensi melanggar lalu lintas.

Rupa-rupanya, setelah mendapat penjelasan petugas kepolisian, kesalahan ada pada nomor kendaraan mobil yang dinaiki Buya. Sesuai aturan yang telah ditetapkan, harusnya, mobil yang digunakan memiliki flat ganjil. Namun ternyata, plat yang digunakan adalah flat genap.

Buya yang awalnya telah mengirim pesan wa kepada perihal apa yang menimpanya tersebut, buru-buru melakukan klarifikasi, bila kesalahan ada pada nomor kendaraan yang digunakannya.

“Iya, mobil yang saya tumpangi dihentikan polisi, dan posisinya polisi sudah benar. Karena hari ini nomor ganjil harusnya, sedangkan yang jemput memakai mobil dengan flat genap. SIM diminta, lalu polisi menengok ke dalam, SIM diserahkan sambil berkata: teruskan!”, ujar Buya dalam pesan WA yang diterima Pemimpin Perusahaan Suara Muhammadiyah, Deni Asy’ari.

Sang polisi yang rupanya mengenal sosok yang berada di dalam mobil menjadi sedikit kikuk. Namun Buya spontan memberi kode, bila dirinya dalam posisi yang salah. Buya tak berkomentar apa pun dan membiarkan proses penilangan. Bagi Buya, kejadian tersebut menjadi pengalaman berharga soal aturan berkendaraan di Jakarta. Aturan tetaplah aturan, siapa pun mesti menaatinya, jika melanggar harus menerima konsekuensinya, dan jangan sampai mengulanginya kembali.

Itulah Buya Syafii, tetap bersahaja meski dengan status apa pun yang disandangnya. Bagi Buya, sesuatu jika itu hak maka katakan hak, sebaliknya jika itu batil katakanlah batil meski orang punya persepsi lain terhadap dirinya.

Dalam sebuah diskusi santai di Jakarta, Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti pernah mengatakan, bila memahami Buya tidak bisa berdasarkan asumsi-asumsi saja, tanpa mengenalnya lebih mendalam. Padahal, kata Mu’ti, Buya merupakan sosok yang memiliki komitmen besar terhadap ajaran agama, serta kepedulian yang luar biasa tinggi terhadap persoalan sosial-kemasyarakatan.

“Masyarakat cenderung menganggap beliau dengan persepsi dirinya terhadap sesuatu, tetapi tidak berani masuk ke dalam menyelami pemikiran-pemikirannya,” ujar Mu’ti.

[Mrf]