Monday, 28 May 2018 mondayreview

Isro Mi’raj dan Kepemimpinan Bangsa


Peringatan Isro Mi’raj menjadi momentum untuk perbaikan bangsa menuju kejayaan Indonesia

Presiden Jokowi di Masjid Istiqlal

MONDAYREVIEW- Peringatan Isra Mi’raj digelar dimana-mana, dari kampung hingga istana. Fenomena ini membuktikan tradisi islam sudah lama mengakar di negeri ini, sekaligus menunjukan politik negara tidak bisa dilepaskan dari kehidupan beragama. Tentu, kita berharap tidak sekedar seremonial, nilai-nilai agama melekat dalam kehidupan berbangsa.

Isra Mi’raj, perjalanan Rasulullah dari Masjidil Harom menuju Masjidil Aqsa, kemudia naik ke Sidratul Muntaha, telah meninggalkan mandat kewajiban shalat lima waktu bagi umat islam. Shalat adalah puncak penghambaan terhadap Alloh Subhaanahu wa Ta’ala, karena itu Rasulullah menyebut shalat sebagai tiang agama. Orang yang tidak shalat, sama dengan telah meruntuhkan tiang yang menjadi fondasi dirinya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam peringatan Isra Mi'raj di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pekan lalu memberi makna luas dalam memahami Isra Mi'raj. Menurut presiden, Isro Mi’raj merupakan momentum perbaikan bangsa Indonesia, termasuk peningkatan kepemimpinan Indonesia di antara negara-negara muslim serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Presiden juga mengatakan tentang peran Indonesia, untuk berkontribusi bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia. Salah satunya diwujudkan dalam bentuk kepedulian Indonesia terhadap negara-negara muslim lainnya yang tengah dilanda masalah kemanusiaan, seperti di Palestina dan pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Tentu, hikmah Isra Mi’raj bisa ditarik ke konteks kekinian. Karena, perintah shalat bagi umat islam, bisa menjadi tolak ukur bagi semua hal. Semuanya, dimulai dari shalat. Bahkan, mempersiapkan masa depan kepemimpinan nasional pun bisa dinilai dari kualitas shalatnya.

Namun, shalat pun berubah jadi urusan persiangan politik. Gerakan shalat subuh berjamaah, ketika musim Pilkada DKI Jakarta, misalnya dicurigai bagian dari skenario politik untuk mengkonsolidasi dukungan umat terhadap lawan politik Ahok-Djarot, yang kemudian berlanjut hingga saat ini menjelang Pilpres 2019.

Permusuhan politik belum usai. Sebagian kita pun terpancing menjadi gampang curiga, misalnya ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Aghanistan, dan menjadi imam shalat berjamaah. Foto-fotonya menjadi viral, kemudian jadi bahan ejekan, dianggap sebagai pencitraan.

Sebagian kita yang seharusnya wasathon, yaitu adil dan moderat berubah menjadi pencaci dan pemarah karena perbedaan pilihan politik. Padahal, shalat merupakan hubungan pribadi seorang hamba dengan Tuhannya. Jika ada niat-niat lain selain totalitas penghambaan, biarlah hanya Alloh berhak menilai, bukan kita, sebagai hamba-Nya.

Tentu kita pun harus instrospeksi diri, apakah shalat kita sudah sesuai yang dijanjikam  Alloh Ta’ala, “ sesungguhnya shalat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar” (QS al Ankabut: 45). Jika ternyata kemaksiatan dan perbuatan mungkar lainnya masih merajalela di negeri ini, artinya ada yang salah dalam pemahaman dan pelaksanaan shalat kita. 

Keberkahan dan kemajuan negeri ini tergantung pada kualitas rakyat dan pemimpinnya. Moment Isro Mi’raj memberi pelajaran bagi kita tentang hikmah di balik perintah shalat. Salah satunya, mari kita belajar kepada Muhammad Al Fatih.

Setelah berhasil memimpin penaklukan Constantinople pada usianya yang sangat belia (usia 20 tahun Masehi atau 22 tahun Hijriyah) – dengan cara yang tidak terbayangkan oleh pemimpin-pemimpin perang sebelumnya, Al-Fatih dan pasukan hendak melaksanakan sholat Jum’at pertamanya di Constantinople.

Saat itu, tak ada anggota pasukannya yang berani menawarkan diri menjadi imam dan khotib. Kemudian Al-Fatih berdiri dan mengajak semua pasukannya juga berdiri, kemudian dia berucap: “Siapakah di antara kalian yang   sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!” , maka tidak ada seorangpun yang duduk – Alhamdulillah berarti semua anggota pasukan Al-Fatih adalah ahli shalat fardhu dan tidak ada yang pernah melalaikannya sekalipun.

Lalu Al Fatih bertanya kembali: “ siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunnah sekali saja silakan duduk.” Sebagian pasukannya-pun duduk – artinya sebagian pasukan yang lain tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib.

Dengan memandangi seluruh pasukanya Al-Fatih pun kembali bertanya: “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud? Yang pernah meninggalkan sekali saja, silakan duduk !” Ternyata semuanya duduk – artinya pernah sekali-kali meninggalkan shalat tahajjudnya.

Tinggal satu orang saja yang berdiri – yang tidak pernah meninggalkan shalat wajib, shalat rawatib maupun shalat tahajjudnya – dialah Muhammad Al-Fatih sendiri, maka hanya dialah yang layak menjadi Imam sholat Jum’at saat itu.

Al Fatih, adalah pemimpin pasukan yang dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam – sekitar 800 tahun sebelum kelahirannya melalui hadits: “Constantinople benar-benar akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin pasukan adalah pemimpin pasukannya dan sebaik-baik pasukan-adalah pasukannya.” (HR. Ahmad).

Mudah-mudahan kisah ini menjadi inspirasi bagi Jokowi atau pun Prabowo, yang tengah menimang-nimang siapa yang layak mendampinginya sebagai calon wakil presiden

Seorang pemimpin yang memiliki wawasan kebangsaan memang sangat dibutuhkan, tapi lebih dari itu, seorang pemimpin dengan kualitas moral dan keteguhan agamanya, bisa membawa negeri ini meraih kejayaanya.