Wednesday, 22 Aug 2018 mondayreview

Terror Bom Surabaya dan Eksploitasi Anak


Pelibatan anak dalam terror bom Surabaya jadi sorotan.

Pelaku bom Surabaya beserta keluarga.

MONDAYREVIEW - Sekira pukul 08:30 WIB, sebuah minibus hendak memasuki gerbang penjagaan Mapolrestabes Surabaya. Saat mobil tersebut diperiksa para petugas jaga dan provost, tiba-tiba dua buah sepeda motor berusaha menyalip dan masuk ke Mapolretabes. Petugas yang melihat dua motor itu pun segera menghentikan dan melakukan pemeriksaan. Belum sempat melakukan pemeriksaan, blaarr... ledakan cukup keras terjadi di salah satu motor tersebut.

Ya Allah…ya Allah….terdengar suara dari orang-orang yang tak dari lokasi kejadian. Tak lama setelah itu, saat asap dari ledakan masih mengepul, serta potongan tubuh dan material lainnya bercereran di sekitar gerbang masuk Mapolrestabes Surabaya, tiba-tiba seorang anak kecil bangkit sambil terhuyung-huyung dan meminta tolong. Anak kecil yang ternyata ikut dibonceng oleh seorang pelaku perempuan itu terlihat begitu kesakitan, dan berusaha untuk tegak berdiri.

Beberapa petugas kepolisian yang berdiri cukup jauh memanggilnya berkali-kali, namun si anak sepertinya belum bisa mendengar dengan jelas. Tak lama kemudian, seorang polisi tiba-tiba saja berlari dan meraih si anak dan langsung digendong dan ia pun lari sekuat tenaga.

Cuplikan peristiwa naas yang menimpa bocah kecil yang turut serta dalam teror bom di Mapolrestabes Surabaya tersebut diketahui dari rekaman CCTV yang saat ini beredar luas di media sosial. Duka cita, dan keprihatinan yang amat mendalam tak henti-hentinya disampaikan sejumlah pihak. Tak hanya untuk kejadian ledakan bom di Mapolrestabes Surabaya ini, namun juga rangkaian terror bom Gereja Santa Maria, GKI Wonokromo, dan GPPS Sawahan di Surabaya. Sejumlah pihak ramai-ramai mengutuk aksi tersebut. Selain karena menimbulkan banyak korban yang tak berdosa, sorotan lainnya adalah disertakannya anak-anak dalam aksi tak berprikemanusiaan tersebut.



Seperti disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dari proses identifikasi yang dilakukan tim kepolisian, diketahui bahwa pelaku 3 bom Surabaya, diduga sat keluarga, baik yang melakukan serangan di gereja Pantekosta, yang menggunakan Avanza diduga orangtua dan bapaknya, bernama Dita Oepriarto.

Sebelumnya, Dita mendrop istrinya dan dua anak perempuannya, istrinya diduga meninggal bernama Puji Kuswati. Dua anak perempuannya bernama Fadhila Sari (12) dan Famela Rizqita (9). Pelaku lainnya, adalah kedua putra Dita sensiri yang meledakan Gereja Santa Maria. Terdiri dari Yusuf Fadhil (18) dan Firman Halim (16). Semuanya adalah serangan bom bunuh diri, dengan jenis dan daya ledak yang berbeda. Pun demikian dengan pelaku bom di Mapolrestabes Surabaya, juga diduga satu keluarga.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menyatakan, Komnas Anak mengecam keras peristiwa pengeboman di Surabaya pada Minggu (13/5/2018). Apalagi, pengeboman tersebut melibatkan anak-anak sebagai pelaku. "Kami mengecam keras penyerangan bom yang tidak berperikemanusiaan dimaksud. Apalagi anak dilibatkan," kata Susanto, Senin (14/5/2018). Susanto menuturkan, tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius dan seharusnya tidak terjadi. Menurut dia, inisiator di balik pengeboman di tiga gereja di Surabaya itu harus dihukum seberat-beratnya. "Kami menduga, pelaku hanyalah operator lapangan. Ada inisiator utama yang menyuruh, sehingga perlu pendalaman lebih jauh," ucap Susanto.

KPAI, imbuh dia, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya sejumlah korban termasuk anak. Untuk memastikan jumlah korban anak, KPAI melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian. Susanto mengimbau pula kepada masyarakat agar selalu berhati-hati dan tidak perlu takut. Masyarakat juga perlu terus bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, termasuk kepolisian, untuk mencegah potensi kejadian berulang. "Kerja sama sinergis merupakan kekuatan besar bagi upaya mewujudkan kehidupan yang aman, damai dan tanpa teror," ujar Susanto. Pengeboman yang terjadi di tiga gereja di Surabaya tersebut menewaskan sembilan orang. Para pelaku merupakan satu keluarga, termasuk di dalamnya adalah empat orang anak.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa (UE) juga mengutuk keras terror bom terhadap geraja di Surabaya. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres bahkan menggunakan istiah terkeras dalam Bahasa diplomasi, yaitu appaled atau jijik, karena pelaku melibatkan anak-anak dalam aksinya.

“Antonio Guterres mengutuk serangan teroris terhadap Jemaah di gereja-gereja di Indonesia, jijik dengan kabar bahwa anak-anak digunakan dalam serangan tersebut,” kata juru bicara PBB, Stephane Dujaricc, lewat akun twitter resminya, Senin 914/5).

Sosiolog Universitas Airlangga Prof. Bagong Suyanto menuturkan, kalau dulu calon pengantin bom bunuh diri selalu didominasi laki-laki. Sekarang, dengan pecepatan infomrasi melalui media sosial serta perubahan pola gerakan radikal menjadi massif.

“Ini pola baru, mereka (pelaku bom bunuh diri) di Surabaya sepertinya ingin meniru di luar negeri,” ujar bagong, Minggu (13/5/2018).

Dia melanjutkan, perempuan selama ini dianggap bisa mengecoh pemerinksaan. Apalagi mereka membawa anak-anak untuk ikut serta. Berbagai kejadian membuat pelaku gerakan radikal belajar dari kegagalan mereka.

“Anak-anak ini jadi korban. Makanya saat ini yang dibutuhkan adalah gerakan bersama dari amsyarakat untuk mencegah terorisme,” ungkapnya.

Aksi terror melibatkan anak-anak sejatinya adalah perbuatan keji. Dan pastinya orangtua manapun taka da yang menginginkan anaknya bersimbah darah atau bahkan tewas mengenaskan. Siapa pun akan merasa tersayat melihat kejadian seperti itu. Namun sayangnya, penggunaan anak sebagai pelaku bom bunuh diri terbukti ada.

Selama ini, hanya orang-orang sekelas kelompok Boko Haram di Nigeria yang seringkali mengeksploitasi anak dalam aksi terror mereka. Mereka memang terkenal menggunakan anak-anak sebagai pelaku bom bunuh diri.

Laporan Organisasi Pemerhati Anak PBB (UNICEF) menyebutkan, sekitar 27 anak dilibatkan kelompok teroris Boko haram untuk melancarkan serangan bunuh diri selama tiga bulan pertama di 2017. Di tahun sebelumnya, Boko haram melibatkan 30 anak dalam aksi bom bunuh selama 2016. Kebanyakan korban adalah anak perempuan.

“Anak-anak ini adalah korban, bukan pelaku. Memaksa atau menipu mereka untuk melakukan tindakan mengerikan adalah sikap tercela,” tutur direktur regional UNICEF untuk Afrika barat dan Tengah, Marie-Pierre Poirer seperti dikutip Reuters.

Dengan adanya perubahan pola dan strategi para teroris ini, maka tugas polisi, pemerintah, ulama, atau siapa pun yang memiliki kepedulian atas isu terorisme ini menjadi kian berat. Apalagi dengan kehadiran internet dan media sosial, yang membuat siapa pun dapat dengan mudah mengakses konten-konten gerakan radikal. Berapa pun usianya, tak ada lagi batasan yang menghalangi. [ ]