Wednesday, 24 Oct 2018 mondayreview

"Caplok" Yerusalem, AS Dinilai Buka Kotak Pandora Krisis Timteng


AS telah melewati garis merah batas perdamaian

Abdul Kharis Almasyhari. (ist)

MONDAYREVIEW - Dalam satu hari terakhir, puluhan warga Palestina tewas dibantai Zionis Israel di perbatasan Gaza dengan ribuan orang lainnya terluka. Pembantaian itu terkait aksi warga Palestina yang terlibat bentrok saat hari pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) di Yerusalem.

Terkait hal ini, Ketua Komisi 1 DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari mengutuk keras AS atas pembukaan Kedubesnya di Yerusalem. Ia menyampaikan duka mendalam kepada warga Palestina di Gaza yang menjadi korban kebiadaban Israel serta doa untuk perjuangan warga Gaza.

Abdul menilai warga Palestina di Gaza gigih memperjuangkan kemerdekaan sebagai sebuah bangsa. Namun di sisi lain, AS mengamini pembantaian itu dengan membuka kantor di Yerusalem

"Langkah AS seperti membuka kotak Pandora krisis Timur Tengah yang kian meruncing dan melampaui batas kemanusiaan, dimana128 negara menentang langkah Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, termasuk Indonesia," kata Abdul dalam keterangan tertulis kepada media, Selasa (15/5/2018).

Hal tersebut menurut Politisi PKS ini jelas menunjukkan sikap arogan AS dan tidak menghormati PBB dan Majelis yang ada sebagai kesepakatan negara dunia. Langkah sepihak AS memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv, ujar Abdul, mengganggu perdamaian dunia yang selama ini turut diperjuangkan AS sendiri.

"AS telah melewati garis merah batas perdamaian di Palestina dan kawasan Timur Tengah yang merupakan langkah awal kehancuran bagi perdamaian yang Amerika sendiri menggagasnya," tukas dia.

"Perlawanan akan semakin masif, semua negara Islam bersama Palestina dan 128 negara yang lain juga. Amerika harus menghentikan langkahnya," pungkas Abdul.