Wednesday, 22 Aug 2018 mondayreview

Ketua Dewan Pers: Media adalah Oksigen Teroris


Pemberitaan yang berulang atas aksi terorisme menimbulkan efek mencekam di masyarakat

Ketua Dewan Pers, Yosep Stanley Adi Prasetyo. (Foto: Yusuf Tirtayasa/Mondayreview)

MONDAYREVIEW - Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo menjelaskan telah banyak jurnal-jurnal di luar negeri yang memuat topik penelitian soal keterkaitan antara tindak terorisme dengan peran media.

Menurutnya, ketika sekali media memberitakan suatu aksi teror maka cenderung akan diikuti dengan tindakan teror susulan.

"Almarhum Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher pernah mengatakan bahwa media adalah oksigen di dalam terorisme," ujarnya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 bertajuk 'Cegah dan Perangi Aksi Teroris' di Gedung Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (16/5/2018).

"Jadi terorisme itu kalo kita melihat kaitannya dengan media itu adalah unsur dadakan-nya, faktor kejutnya dan efek menggetarkan," tambahnya.

Media, ujar Yosep, membuat ketiga efek tersebut menjadi semakin besar. Pemberitaan yang terus berulang atas aksi terorisme menimbulkan efek mencekam bagi masyarakat.

Yosep lantas mengaku pihaknya telah mengeluarkan surat edaran untuk meminta sejumlah media elektronik mengevaluasi kembali soal "breaking news" aksi terorisme yang dinilai telah berlebihan.

"Breaking news bangun tidur kita nonton sampe tengah malem. Kita tahu bahwa pelaku teror sudah meninggal ketika dia meledakan bom. Tapi message dari teror itu diteruskan oleh media justru, oleh temen-teman wartawan," tukasnya.

Celakanya, lanjut Yosep, ada banyak wartawan tidak mengecek kembali dan menggunakan sumber dari media sosial terutama Whatsapp. Seperti orang iseng yang memasukan pesan di tengah kepanikan, dimana menurutnya akan semakin membuat orang lain panik.

"(Wartawan) tidak bisa membedakan mana yang lucu, mana yang fakta, semuanya kemudian dikutip masuk di running text. Nah itu membuat yang namanya efek gentar untuk masyarakat," sebut dia.

Untuk itu, menurutnya Dewan Pers telah menganjurkan agar siaran live soal aksi terorisme difikirkan ulang. Ada banyak video hasil rekaman warganet yang juga kemudian diunggah, masuk di grup dan viral, hingga akhirnya diambil oleh media.

"Media hati-hati jangan berlebihan. Jangan over ekspos dan justru menimbulkan kepanikan masyarakat. Itu sama saja media menyampaikan message terorisme," pungkasnya.