Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Psikolog : Terorisme Tumbuh dari Kegagalan Seseorang di Lingkungan Sosial


Beberapa kasus orang yang terkena radikalisme ialah ialah orang yang pernah mengalami kegagalan.

Diskusi bertajuk "Menangkal Terorisme melawan Fear of Crime" Bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis, (17/5).

MONDAYREVIEW - Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana, Dr. Muhammad Iqbal menyatakan, sebelum orang masuk dalam ranah radikalisme, biasanya melalui tahap pra-radikalisme. Rata-rata pelaku yang terlibat dalam aksi terorisme berawal dari kegagalan seseorang dalam lingkungan sosialnya. 

"Beberapa kasus orang yang terkena radikalisme ialah ialah orang yang pernah mengalami kegagalan," kata Iqbal, dalam diskusi bertajuk "Menangkal Terorisme melawan Fear of Crime" Bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis, (17/5/2018).

Dari kegagalan itu, kata Iqbal, maka seseorang mencari sesuatu yang bisa membuatnya tenang. Mereka menjadikannya sebagai tempat refleksi dan memperbaiki diri. Dari situlah mereka menemukan paham-paham radikal.

Menurut Iqbal, yang terpenting dari paham radikal yang bisa menarik orang ketika sedang mengalami kegagalan yaitu adanya ajaran yang menunjukan bahwa membunuh orang yang dianggap musuh agama merupakan jihad, dan mati syahid, yang pada akhirnya membawanya masuk ke dalam surga. Hal tersebut yang membuat orang seperti mempunyai hidup yang lebih bermakna di tengah kegagalan di lingkungan sosial.

Selain itu, Iqbal mengungkapkan, ada juga dari mereka yang masuk dalam paham radikal memerlukan kedudukan sosial. Karena di dalam paham radikal tersebut memungkinkan anggotanya diberikan sebuah kedudukan.

"Ada yang diangkat jadi panglima, dan mendapat jabatan-jabatan lain, yang kemudian orang merasa lebih berharga di kehidupannya ketika mereka sedang terpuruk" ungkap Iqbal.

Kemudian juga, terorisme disebabkan karena mereka merasa dirinya mempunyai banyak dosa, dan takut jika dirinya mati dalam kondisi mempunyai banyak dosa. Karena itu bom bunuh diri lah yang membuat orang bisa mati dengan terhormat karena dianggap telah membunuh orang-orang yang mereka anggap musuh dari agama mereka.

Karena itu, kata Iqbal, mereka yang melakukan pemboman bisa disebut juga pelaku sekaligus korban. Karena mereka juga dijadikan objek dari penyebaran paham radikal.

Kemudian, terkait semakin berkembangnya terorisme. Menurut Iqbal, mereka senang ketika media memberitakan para pelaku teror secara terbuka. Mereka menganggap hal tersebut menunjukan eksistensi mereka.

"Ketika mereka diliput mereka semakin bersemangat, mereka menganggap telah berhasil membuat orang takut kepada mereka," papar Iqbal.

Tags