Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Marak Aksi Terorisme, Ini Proses Seseorang Terjangkit Paham Radikal Menurut Pengamat


Jika fase-fasenya sudah diketahui, maka tinggal mencari pendekatan yang harus dipakai untuk melakukan deradikalisasi.

Ketua Prodi Kajian Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia, Dr. Yon Machmudi.

MONDAYREVIEW - Ketua Prodi Kajian Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia, Dr. Yon Machmudi menyebut, benih dari terorisme di Indonesia adalah NII. Hal itu karena NII merupakan organisasi pertama yang menginginkan Indonesia berdiri sebagai negara Islam.

"Jadi pintu masuknya yaitu NII, sedangkan yang trans nasional itu hanya suplemen saja. NII mau mati ada suplemen dari luar jadi hidup lagi," ujar Mahmudi, di Jakarta, Rabu, (16/5/2018).

Hal tersebut dikatakan Machmudi merespons maraknya aksi terorisme yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Hingga kini diduga pelaku terorisme masih tersebar di berbagai wilayah karena penyebaran paham radikalnya begitu kuat.

Mahmudi mengutarakan, ada beberpa fase seseorang memasuki organisasi teroris, terutama yang mengatas namakan Islam. Pertama, yaitu adanya penolakan maupun ketidak sepakatan atas sistem yang ada, baik itu sistem keagamaan (Islam), maupun adanya ketidak adilan sistem yang ada. Dari hal itu timbul keinginan untuk memperbaiki sistem yang salah tersebut.

Setelah sistem Islam yang ada dianggap salah, maka perlunya diislamkan kembali. Ada fase di mana seperti dilakukan syahadat kembali. Pada masa ini kemudian orang akan mencari tempat yang paling nyaman untuk mengamalkan pemahamannya, yaitu dengan memasuki organisasi-organisasi radikal.

kedua, fase Takfiri, yaitu fase ketika seseorang telah menganggap pemahaman keagamaan yang dianutnya yang paling benar dan yang lainnya dianggap salah. Kemudian orang akan mengkafirkan yang lain dan tidak percaya dengan sistem yang ada.

Kemudian fase ketiga yaitu Hijrah. Menurut Mahmudi, Hijrah dalam hal ini dilakukan untuk memutus hubungan dengan lingkungan yang ada saat ini. Kemudian ketika hijrah itulah akan dilakukan pencucian otak, dan akan ditanamkan secara mendalam pemahaman-pemahaman radikal.

"Karena itu pada masa hijrah ini banyak orang-orang gila yang keluar, banyak orang yang linglung karena brain washing ini," imbuh Mahmudi.

Pada fase ini juga kata Mahmudi, akan terjadi pemiskinan. Karena diisolasi dari tempatnya bekerja, semua yang dia punya dikeluarkan untuk membiayai segala operasional setiap anggota dalam melakukan aksi-aksi terorisme. Fase ini orang sudah tidak memikirkan hartanya karena Ia akan segera menjadi subjek dari aksi terorisme.

Setelah itu, baru kemudian seseorang akan masuk menjadi pelaku terorisme. Meski berbeda beda gerakannya, tapi pola dan tujuannya tetap sama.

"Ada NII yang kawin dengan Al-Qaeda kemudian lahir Jamaah Islamiyah, yang ini aksi-aksinya terstruktur, dan mempunyai dampak yang besar. Berbeda dengan ISIS yang brutal seperti yang sekarang ini," terang Mahmudi.

Menurut Mahmudi, Jika fase-fasenya sudah diketahui, maka tinggal mencari pendekatan yang harus dipakai untuk melakukan deradikalisasi, ataupun jika seseorang sudah terjangkit pemahaman radikal, maka harus dicari pendekatannya agar orang tersebut meninggalkan pahamnya.

"Pendekatannya harus komperhensif dan dapatenyelesaikan akar masalah dari persoalan terorisme," pungkasnya.

Tags