Sunday, 15 Jul 2018 mondayreview

Sejak Bom Gereja, Kominfo Telah Blokir 1.285 Akun Medsos Terindikasi Radikal


Sejak pertama kali terjadi bom di sejumlah gereja, di Surabaya, Jawa Timur, ada 1.285 akun medsos yang sudah diblokir.

Ilustrasi

MONDAYREVIEW - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah memblokir ribuan akun medsos yang terindikasi menyebar paham radikal, terhitung sejak pertama kali terjadi bom di sejumlah gereja, di Surabaya, Jawa Timur. Pemblokiran dilakukan dalam upaya mencegah merambahnya paham radikal ke masyarakat.

"Sejak pertama kali terjadi bom di sejumlah gereja, di Surabaya, Jawa Timur, ada 1.285 akun medsos yang sudah diblokir," ungkap Tenaga Ahli Kominfo Donny Budi Utoyo, di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Donny mengungkapkan, hanya dalam waktu 3-4 hari proses blokir dilakukan. Salah satu upaya terkait itu, adalah dengan membuka aduan konten, internet sehat, siber kreasi dan lainnya. “Isinya dengan melakukan literasi digital, cara menghindari paham radikal,” ucap Donny.

Diketahui, kini ada 143 juta pengguna medsos yang berpotensi terkena virus radikal. Bersamaan dengan itu, propaganda kelompok radikalisme dan terorisme kerap dilakukan di dunia maya atau media sosial (medsos).

“Sekitar dua tahun yang lalu tanpa sengaja saya bersama teman-teman tim sedang masuk ke youtube. Tiba-tiba ada video yang baru di-upload. Menurut saya bagus sekali. Judulnya, “Ayahku Teladanku”. Kami sempat download,” ujar Donny.

Menurut Donny, ini video dokumenter yang bagus sekali karena digarap secara profesional. Di film itu diaawali ada sekumpulan anak yang sedang latihan baris-berbaris dan latihan bela diri.

“Ternyata, ini video ISIS. Menariknya, sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya. Di film itu, seorang anak memberikan testimoni, ‘saya mengikuti teladan ayahku, ayahku dibunuh oleh kafir dan sekarang saya harus membunuh kaum kafir’,” jelas Donny seraya mengutip kalimat di film tersebut.

Donny menilai, film ini jelas memiliki tujuan sebagai bagian dari proses mendorong orang menjadi radikal melalui sosial media. Dan, dengan kemasan yang mereka buat di film itu, sangat mungkin sekali ada yang terpengaruh. Khususnya anak-anak.

“Jika film ini ditonton oleh anak-anak, sudah bisa dipastikan akan terpengaruh. Karena menurut saya, kemasan dalam film ini dibuat secara profesional dan mudah dicerna anak-anak,” ujarnya.

Donny menjelaskan, di film itu mengadegankan, anak-anak yang berkelompok disatukan dalam satu rumah, ruangannya gelap, mereka bergerak seperti pasukan dengan menggunakan infrared, mengejar sesosok musuh yang mereka kejar.

“Ternyata, musuh yang dikejar mereka adalah warga negara asing yang sedang diikat matanya. Kemudian di adegan berikutnya musuh yang mereka kejar itu dieksekusi. Terlihat sangat real,” ulas Donny.

Untungnya, lanjut Donny, film ISIS itu tidak lama ada di youtube, setelah itu langsung ditakedown. Karena harus ada ketegasan atas audiovisual di media sosial yang berisi agitasi propaganda yang berbahaya seperti itu.

“Kami dari Kementerian Komunikasi dan Informatika mendorong penggunaan platform media sosial secara baik, sehat dan positif. Dan jelas sekali film itu sangat berbahaya. Karena itu harus ditakedown,” papar Donny.

Tags