Sunday, 15 Jul 2018 mondayreview

Pengamat: Teroris Manfaatkan Media Tebarkan Rasa Takut


Kalo aksi teror terjadi di kutub utara dan kutub selatan, pasti tidak akan menimbulkan rasa takut. Teroris membutuhkan media untuk menyebarkan rasa takut.

Pengamat Terorisme dari Universitas Indonesia, Solahudin.

MONDAYREVIEW - Pengamat Terorisme dari Universitas Indonesia, Solahudin menyebut, terorisme amat membutuhkan media untuk menebarkan rasa takut. Hal ini disampaikan merespons maraknya terjadi aksi terorisme beberapa waktu terkahir ini.

“Kalo aksi teror terjadi di kutub utara dan kutub selatan, pasti tidak akan menimbulkan rasa takut. Teroris membutuhkan media untuk menyebarkan rasa takut,” kata solahudin, di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Solahudin menilai bahwa para teroris zaman sekarang sudah paham akan news value (nilai berita). Hal tersebut bisa dilihat pada aksi terorisme bom bunuh diri teranyar di Surabaya, Jawa Timur.

“Apa teroris tahu news value? Tahu, itu sebabnya modus terbaru pakai anak-anak dan perempuan. Ada beberapa alasannya, salah satunya karena mereka tahu kalau laki-laki sudah biasa, tetapi kemudian kalau pelakuknya ibu dan anak-anak, itu baru luar biasa, baru akan dapat coverage yang luas," papar Solahudin.

Hal itu yang menurut dia, media asing juga ikut meliput kasus tersebut. Buat para pelaku teroris ini kabar yang menggembirakan, karena punya news value yang tinggi.

Menurut Solahudin, aksi terorisme melibatkan perempuan dan anak-anak ini dilakukan karena tiga alasan. Pertama, sekuriti, kalau dilakukan perempuan dan anak-anak lebih sulit diidentifikasi.  

"Kedua untuk mendapatkan coverage dari media sehingga menyebarkan rasa takur. Ketiga, ini yang penting, sebagai pesan untuk disebarkan ke jaringan mereka sendiri, yaitu provokasi bahwa perempuan dan anak-anak aja berani, masak lo kagak berani?” terangnya.

Tags