Monday, 28 May 2018 mondayreview

Pendidikan Muhammadiyah Terbuka Bagi Siapapun, Namun Tak Terkait Profil 2 Anak Bomber Surabaya


Pendidikan merupakan inti dari lahirnya gerakan Muhammadiyah. Sang pendiri dahulu meyakini, bila melalui pendidikan akan muncul pencerahan yang bisa menyelesaikan masalah.

PELAKU BOM SURABAYA BESERTA KELUARGA.

MONDAYREVIEW - Pendidikan merupakan inti dari lahirnya gerakan Muhammadiyah. Sang pendiri dahulu meyakini, bila melalui pendidikan akan muncul pencerahan yang bisa menyelesaikan masalah.

Lalu para penerusnya di kemudian hari pun menerjemahkan spirit itu dengan mendirikan sekolah dan madrasah. Berdirilah ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, serta lembaga pendidikan lainnya.

Muhammadiyah pun lalu berkhidmat untuk berjuang di jalan ini, untuk mencerahkan ummat, dan sama sekali bukan untuk kepentingan tertentu, apalagi apa yang saat ini ramai dibicarakan, aksi terorisme.

Oleh karena itu, bila saat ini ada pihak-pihak yang berusaha mengkait-kaitkan Muhammadiyah sengan sejumlah peristiwa terror di beberapa daerah adalah keliru.

Pemilik Monday Media Grup, sekaligus alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), M. Muchlas Rowie, menuturkan bahwa selama ini Muhammadiyah menampung siswa dengan latar belakang keluarga yang majemuk.

“Pendidikan di Muhammadiyah tidak membeda-bedakan anak dan keluarganya. Bahkan di di Indonesia Timur mayoritas non muslim,” ujarnya.

Lebih lanjut Muchlas Rowie menuturkan, bila dari informasi kepala sekolah masing-masing, diketahui bila semua murid bersikap baik dan berpaham agama yang baik.

Bila begitu, Muhammadiyah, kata Muchlas Rowie, tidak tahu menahu apa yang ditanamkan keluarga setiap anak, termasuk keluarga Dita Oeprianto.

“Karenanya, sama sekali tidak ada kaitan dengan lembaga pendidikan yang bersangkutan,” papar Muchlas.

Muchlas menjelaskan, saat ini kita juga tidak tahu, jangan-jangan anak-anak itu hanya mengikuti orangtuanya. Malah boleh jadi termasuk korban dari paham yang dianut orangtuanya.

Senada dengan Muchlas Rowie, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy membantah adanya anggapan mengenai perilaku anak pelaku bom di Surabaya dikaitkan dengan perilaku mereka di sekolah.

Muhadjir mengatakan siswa tersebut tak pernah melakukan hal yang disangkakan orang saat ini termasuk yang disebut Walikota Surabaya Tri Rismaharani. "Saya sudah panggil kepala sekolah, guru kelas, dikumpulkan di Surabaya. Enggak ada itu (tak pernah ikut mata pelajaran PPKN)," kata Muhadjir di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu, 16 Mei 2018.

Diketahui Risma sebelumnya menyatakan anak dari Dita Oepriarto dan Puji Kuswati, tidak pernah mengikuti pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) di sekolah. Dia juga menolak mengikuti upacara bendera.

Menurut Muhadjir, anak pelaku bom di Surabaya itu malahan termasuk anak baik. “Bahkan kakaknya sering memimpin upacara. Jadi tidak ada tanda-tanda anak itu melakukan penyimpangan,” tutur Muhadjir.

Muhadjir menuturkan sekolah pasti sudah mengambil tindakan tertentu jika anak tersebut menolak belajar. "Apalagi anak kecil enggak mau ikut PMP, enggak mau nyanyi, saya jamin itu pasti sekolah (kasih sanksi)," ujarnya. Pasalnya siswa bisa tak naik kelas jika tidak mengikuti pelajaran. [Mrf]