Monday, 25 Jun 2018 mondayreview

LIPI: Akar Utama Terorisme adalah Radikalisme dan Intoleransi


Mencegah ideologi terorisme pada tingkat keluarga adalah kunci utama untuk mencegah ideologi ini berkembang dengan cepat dimasyarakat luas

Ilustrasi. (ist)

MONDAYREVIEW - Rentetan aksi teror belakangan ini melanda sejumlah tempat diantaranya Mako Brimob Depok, tiga gereja dan satu Polrestabes di Surabaya serta Mapolda Riau. Hal tersebut kembali memunculkan pertanyaan bagaimana cara memutus mata rantai terorisme di Indonesia.

Peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (PSDR) LIPI, Cahyo Pamungkas menyampaikan bahwa strategi deradikalisasi paham radikal yang mendasari aksi terorisme bisa diimplementasikan melalui berbagai pendekatan yakni psikologis dan sosial.

"Pendekatan positif bisa dilakukan dengan memberikan pendidikan khusus kepada anak-anak pelaku teroris, memberdayakan perempuan bagi keluarga yang ditinggalkan kepala keluarganya karena tersangkut masalah terorisme dan pemisahan tahanan teroris," katanya di Gedung Widya Graha LIPI, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5/2018).

Kemudian, Cahyo menegaskan mencegah berkembangnya ideologi terorisme pada tingkat keluarga adalah kunci utama untuk mencegah ideologi ini berkembang dengan cepat dimasyarakat luas. Pasalnya, ideologi terorisme dapat berkembang luas di masyarakat karena gerakan gagasan atau ide radikalisme seringkali terjadi melalui keluarga teroris.

"Kalau penyelesaiannya hanya pendekatan keamanan saja, tentu tidak akan mampu memutus mata rantai terorisme yang telah menyebar luas ke berbagai sendi kehidupan masyarakat," imbuhnya.

Selain itu, Cahyo memaparkan strategi deradikalisasi juga harus dilakukan melalui media sosial yang telah menjadi tempat memproduksi narasi-narasi kebencian dan kekerasan. "Gerakan terorisme dilakukan tidak hanya gerakan fisik tapi juga penyebaran ideologi kekerasan di media sosial. Meskipun upaya antisipasi dan counter terhadap narasi di media sosial telah dilakukan, tetapi masih dinilai kurang optimal," jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya menilai untuk memutus mata rantai gerakan terorisme tidak hanya dilakukan dengan mematahkan narasi kekerasan agama atau menciptakan narasi tandingan, tetapi perlu identifikasi dan analisis mendalam pada proses produksi narasi tersebut.

"Akar utama terorisme adalah radikalisme dan akar radikalisme adalah intoleransi baik di dunia maya dan di dunia nyata," tutur Cahyo.

"Jadi kita tidak dapat mengesampingkan fakta menguatnya intoleransi di Indonesia karena dikhawatirkan akan menjadi lahan subur gerakan terorisme," pungkasnya.