Wednesday, 22 Aug 2018 mondayreview

Surabaya Disebut Tempat "Reproduksi" Teroris


Kota Surabaya dikenal sebagai tempat persaingan gengsi antar kelompok pengusung jihad

Ilustrasi. (ist)

MONDAYREVIEW - Mantan narapidana kasus terorisme Ali Fauzi Manzi membeberkan di kalangan para aktivis jihadi, Kota Surabaya dikenal sebagai tempat reproduksi para calon teroris.

"Berapa banyak pemain berasal dari Surabaya. Bom Bali 1, Marriot 1, Marriot 2 kemudian bom Kedubes Australia banyak melibatkan warga Surabaya," katanya dalam diskusi bertajuk 'Memutus Mata Rantai Terorisme, Mungkinkah?: Keberhasilan dan Kegagalan Deradikalisasi' di Gedung Widya Graha LIPI, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5/2018).

Dirinya menjelaskan bahwa Kota Surabaya dikenal sebagai tempat persaingan gengsi antar kelompok pengusung jihad. Setidaknya ada empat jaringan teroris yang berkembang di Surabaya, yakni JI, JAD, JAS dan JAT.

Namun, ia menyarakan bahwa dari tahun 2000 sampai 2018 Surabaya tidak pernah tersentuh. Ali juga memaparkan murahnya biaya pembuatan bom di Surabaya.

Hal tersebut didukung dengan mudahnya mereka mendapatkan bahan-bahan kimia secara legal. Masyarakat menurutnya salah mengira bahwa pembuatan bom mematikan disebut memerlukan biaya yang besar.

Bahan-bahan tersebut pula menurutnya dijual secara legal dan mudah didapatkan, diantaranya gula. "Bahan bom itu paling mahal 1 kilonya 20ribu," pungkasnya.