Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Ini Kata Ketum PP Muhammadiyah Terkait Polemik Daftar Mubaligh Kemenag


Muhammadiyah berharap, masukanberbagai pihak dapat dijadikan pijakan evaluasi Kemenag.

Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir

MONDAYREVIEW - Menanggapi polemik daftar mubaligh yang dikeluarkan Kementerian Agama (Kemenag), Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, Muhammadiyah menghargai niat baik Kemenag untuk meningkatkan kualitas mubaligh dengan membuat rekomendasi 200 mubaligh. Harapannya, spirit keislaman di tubuh umat islam kian tumbuh, menghadirkan islam yang damai, rahmatan lil alamin dan juga islam yang memiliki komitmen kebangsaan dan kemanusiaan.

Haedar mengatakan, ketika Kemenag mengeluarkan daftar 200 mubaligh yang direkomendasikan kepada masyarakat, sangat wajar kemudian menimbulkan kontroversi.

“Muhammadiyah berharap, masukan-masukan dari berbagai pihak perlu menjadikan pijakan bagi Kemenag untuk melakukan evaluasi, sekaligus juga perubahan atas kebijakan tersebut. Ke depan, jauh lebih penting bagi Kemenag, bagaimana dapat mengembangkan akhlak mubaligh, semacam etika dakwah,”ujar Haedar ketika ditemui pasca tarawih berjamaah di Islamic Center Masjid Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Senin (21/5).

Bagi Haedar, pengembangan akhlak mubaligh melalui etika dakwah jauh lebih penting, sehingga dengan etika dakwah itu setiap mubaligh mengetahui mana yang salah dan benar, baik dan tidak baik untuk disampaikan di muka publik.

Haedar juga berharap agar masalah ini jangan menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan, sehingga membuat umat Islam saling tuding, menyalahkan, dan bersebrangan satu sama lain, yang kemudian akhirnya umat Islam terus terpecah belah, dan berbeda pandangan secara tajam dari berbagai hal.

“Sehingga akibatnya nilai ukhuwahnya luruh, kerja-kerja amaliyah yang membawa kemajuan akan menjadi terkalahkan oleh isu-isu atau persoalan yang mugkin bisa kita selesaikan bersama,”tutur Haedar.

Haedar berpesan agar ke depan Kemenag dapat bertemu dengan ormas islam, lalu mencari solusi dari masalah yang ada saat ini.

“Semua pihak harus bisa mencari hikmah dari masalah ini, jangan terus kita berada pada posisi pro dan kontra, sehingga dapat meninggalkan kerja-kerja produktif,”pungkas Haedar. [Dam/Mrf]