Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Saat Idris Laena Bertanya Soal Status dan Sertifikat Penceramah Acara Buka Puasa


Status tak terlalu penting, pengakuan masyarakat lebih penting.

Idris Laena saat membuka acara Buka Puasa Bersama, Kamis (24/5).

MONDAYREVIEW - Ada hal menarik saat politisi Golkar Idris Laena membuka acara Buka Puasa Bersama di Komplek Alexandria Islamic School, Bekasi, Kamis (24/5/2018).

Saat membuka acara tersebut, Anggota DPR dan pendiri Laenaco Group ini mempersilahkan pengisi ceramah maju ke depan untuk memberikan tausiah.

Menurut Idris Laena, sang ustad merupakan salah satu teman lamanya. Ia telah banyak melakukan perjalanan dakwah ke beberapa tempat secara bersama. Menariknya, Idris sempat mencandai status sang ustad yang entah sudah mendapat sertifikat dari Kemenag atau belum.

“Ustad ini adalah orang dekat saya sejak lama, selalu menemani kemana-kemana. Hanya saja saya belum tau apakah beliau memiliki sertifikat atau tidak. Nanti beliau sendiri yang menyampaikan apakah punya SIUB (Surat izin untuk berceramah),” canda Idris Laena, disambut tawa hadirin.

Lebih lanjut Idris Laena pun menjelaskan, bila dirinya tak ada urusan dengan kasus tersebut. Yang jelas, kata dia, persoalan tersebut merupakan blunder yang sejatinya tidak mesti terjadi.

“Saya tidak ada urusan soal daftar mubalig tersebut, itu merupakan blunder yang sejatinya tak mesti terjadi,” ujarnya.

Sang ustad yang tak lain KH. Mujib Khudori, kemudian menimpali candaan sohibnya tersebut. Menurut Ketua DPP Ikhwanul Mubalighin ini, dirinya memang salah satu yang masuk dalam daftar 200 mubalig yang dirilis Kemenag.

“Alhamdulillah saya masuk daftar rilis tersebut, tepatnya nomor 131. Namun terdaftar atau tidak yang penting diakui masyarakat,” ujar KH Mujib, disambut tawa hadirin.

Mantan anggota Dewan Syura PKB ini juga mengatakan, bila sebetulnya dia tidak terlalu senang dan biasa biasa saja. Karena pengakuan masyarakat jauh lebih penting.

“Eksis itu bukan karena diakui pemerintah, melainkan kalau diakui masyarakat. Karena itu, yang namanya dakwah harus mengajak bukan mengejek. Merangkul bukan memukul,” pungkasnya. 

[Mrf]