Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Harapan Dunia Jelang KTT AS- Korut


Pertemuan antara Trump dan Kim Jong Un diharapkan meletakkan solusi mendasar dan jangka panjang bagi perdamaian di Semenanjung Korea

(c) bbc

MONDAYREVIEW-  Konferensi Tingkat Tinggi antara AS dan Korea Utara akan digelar Selasa (12/6) di SIngapura. Harapan dunia semakin besar pada keberhasilan negosiasi antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un.

Biaya pertemuan dua pemimpin negara yang selama ini berseteru mencapai 207 Miliar Rupiah dan sepenuhnya ditanggung oleh pihak Singapura.  PM Singapura Lee Hsien Loong menegaskan bahwa kesediaan negaranya akan berbuah manis pada citra Singapura di mata dunia internasional. Buat negara pulau yang kaya raya itu, biaya ratusan miliar rupiah bukan beban berat dan akan segera kembali dalam bentuk manfaat langsung dan tidak langsung dari pertemuan tersebut.   

Seementara itu, bagi AS pertemuan ini menunjukkan kemampuan diplomasinya yang handal dalam menembus dinginnya sikap Korut. Trump mengklaim dirinya memiliki kemampuan negosiasi yang tinggi sebagai pengusaha. Ia seorang dealmaker yang faham betul bagaimana menyatukan kepentingan yang berbeda dan mencapai kesepakatan. Setelah gertakan dan kecaman Trump yang sangat keras beberapa bulan lalu, siapa sangka beberapa jam ke depan keduanya akan duduk dalam satu meja.  

Di sisi lain, Kim Jong Un yang selama ini menyuarakan sikap tak mau berkompromi memperlihatkan kelenturannya setelah pertemuan-pertemuan yang hangat dengan Presiden Korea Selatan. Keinginan untuk memperbaiki situasi politik dan keamanan di Semenanjung Korea menemukan monentumnya. Walaupun belum jelas apa yang menjadi komitmennya dan alasan dibalik sikap lunaknya. Yang jelas, komitmen denuklirisasi di Semenanjung Korea bagai oase di padang gersang.

Kim Jong Un tiba di SIngapura pada Minggu (10/6) dengan menggunakan pesawat komersial Air China pada pukul 14.30. Dan tak berapa kemudian Trump juga tiba setelah melakukan perjalanan udara tak kurang dari 20 jam dari Kanada. Keduanya akan menginap di hotel yang berbeda dan akan bertemu di salah satu hotel di Pulau Sentosa.

Pertemuan kedua pemimpin ini secara substansial terjadi setelah pembicaraan yang dilakukan utusan masing-masing. Sebagaimana diketahui, tim perunding dari AS sudah melakukan pembicaraan awal dengan Pyongyang beberapa waktu lalu. Demikian pula dengan utusan khusus Kim Jong Un yang sudah mengantarkan surat Pemimpin Tertinggi Korut itu ke Gedung Putih.

Pada Senin (11/6) ini tim perunding AS dan Korut akan bertemu untuk menyelesaikan draft kesepakatan yang akan ditandatangani oleh Trump dan Kim. Banyak fihak menduga bahwa pada prinsipnya kesepakatan sudah dicapai. Apa yang dilakukan oleh kedua pemimpin dan tim masing-masing adalah formalitas semata.

Publik internasional patut bertanya-tanya, mengapa Korut mau melunak terhadap AS. Beberapa media mengungkap dugaan terkait kerusakan atau kegagalan uji coba nuklir Korut di fasilitas utama mereka menjadi penyebabnya. Alih-alih menjadi senjata pelindung pertahanan mereka, kegagalan itu mengancam kerusakan fatal di dalam negerinya. Bahkan ada yang membandingkannya dengan kemungkinan terjadinya bencana seperti kasus Chernobyl.

Kondisi ekonomi Korea Utara juga dimungkinkan menjadi penyebab melunaknya rezim komunis di negeri itu. Biaya yang cukup besar untuk mengembangkan persenjataan nuklir menyedot anggaran yang sangat besar. Sementara itu sanksi ekonomi yang diterapkan kepada Korut juga melumpuhkan sumber pendapatan negara itu. Dalam kondisi semacam itu, konstelasi politik internasional juga terus mengalami pergeseran dan perubahan yang signifikan.

Dunia berharap bahwa pertemuan ini bisa meletakkan dasar-dasar kesepakatan jangka panjang bagi perdamaian di kawasan. Dan publik menunggu dengan harap-harap cemas, jawaban apa yang kelak akan disampaikan Kim kepada rakyatnya tentang perubahan sikap yang sangat besar terhadap AS.