Wednesday, 22 Aug 2018 mondayreview

Sabyan Gambus dan Tren Spiritualitas Digital


Shalawat yang dilantunkan Khoerunisa memberi kesejukan sehingga memberi inspirasi ‘perdamaian’.

Ilustrasi foto/Net

SPIRITUALITAS sejatinya mampu menghasilkan lima hal, yaitu: integritas atau kejujuran; energi atau semangat; inspirasi atau ide dan inisiatif; wisdom atau bijaksana; serta keberanian dalam mengambil keputusan. Demikian kesepakatan tak tertulis yang kita yakini tentang spiritualitas.

Sayang, di era digital kesepakatan tersebut menjadi tak berlaku lantaran teknologi atau dunia digital dianggap memberi efek negatif yang cukup banyak. Selain dianggap melahirkan kegaduhan, ruang digital juga membuat ikatan dan temali emosi yang selama ini terangkai menjadi rapuh.

Namun belakangan temali emosi itu ternyata dapat dirajut kembali membentuk hubungan yang harmonis antara teknologi dan spiritualitas. Viralnya sosok Mohamed Salah, Ustad Abdul Shomad, Ustad Adi Hidayat, atau bahkan Nissa Sabyan, telah mengubah pandangan banyak orang soal hubungan teknologi dan spiritualitas.

Khusus untuk Nissa Sabyan, kemunculannya bahkan dianggap memberikan efek positif; baik dari sisi estetis, maupun etis. Dari sisi estetis, Nissa Sabyan berhasil mengangkat kembali genre musik gambus yang telah lama tenggelam seiring berkembangnya genre-genre musik kekinian.

Sementara secara etis, Nissa Sabyan disebut berhasil menebarkan narasi alternatif soal etika sosial persaudaraan dan perdamaian. Dua entitas yang seperti disebut di awal telah rapuh justru sejak kehidupan sosial berhenti bergerak secara luring, lalu beralih ke jejaring-jejaring sosial secara daring.

Nissa Sabyan menjelma bak Mohammed Salah baik bagi liverpuldian maupun masyarakat Mesir. Lantunan shalawatnya begitu digandrungi masyarakat bukan hanya di tanah air namun juga di dunia. Dari berbagai testimoni dan reaksi para penonton Youtube Chanel Offisial Sabyan Gambus, terlihat betapa banyak orang yang terinspirasi oleh music yang dibawakan Sabyan Gambus.

Beberapa chanel Youtube memuat video reaction terhadap Yaa Asyikol Mustafa fersi Nissa Sabyan. Selaian dari Korea juga dari Youtuber Rusia dan Jerman. Pengakuan mereka atas shalawat yang dilantunkan Khoerunisa memberi kesejukan, kedamaian sehingga memberinya inspirasi ‘perdamaian’.

Sabyan Gambus dengan Vocal Khoerunnisa betul-betul mampu menghadirkan inspirasi religiusitas tanpa batas, atau spiritualitas digital. Shalawat sejatinya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai bentuk kecintaan seorang muslim atas jungjungannya. Dengan sentuhan musik modern serta tampilan zaman now, ternyata pesan-pesan cinta dalam shalawat itu mampu menembus kanal-kanal batas kalbu.

Dari sisi penggarapan musik kelompok anak-anak muda ini cukup serius. Musik yang mereka tampilkan amat easy listen dengan sentuhan Timur Tengah dan Barat.  Hal yang sama dalam penggarapan video, visual yang sangat apik sehingga membuat kalangan milenial terpincut.

Hasilnya, Shalawat YA HABIBAL QOLBI telah ditonton 115.623.432 kali, 43.173 komentar dan 36 ribu kali dibagikan. Syair Qomarun ditonton 19.076.859 kali, 3.8 ribu dibagikan dan 3.674 komentar. Ya Rohman 49.439.780 kali ditonton, 13 ribu dibagikan dan 10.595 komentar. Deen Assalam ditonton 27.228.198 kali, 8,6 ribu dibagikan dan 46.970 mendapat komentar. Shalawat Qomarun 19.076.974 kali ditonton 3,8 ribu dibagikan dan 3.675 komentar. Ahmad ya Habibi ditonton 16.983.172 kali dan YA JAMALU ditonton 12 juta kali.

Fenomena Sabyan Gambus, setidaknya menguatkan tren spiritualitas digital yang saat ini coba dikuak oleh para praktisi teknologi Silicon Valley, bernama “Wisdom 2.0 Conference”. Yang sejak tahun 2010, konferensi ini mengedepankan isu-isu mengenai teknologi dan spiritual, serta mencari benang merah dari kedua topik tersebut.

Tahun 2013, konferensi ini bahkan dihadiri oleh 1500 peserta, dengan pembicara Bill Ford, CEO Ford, Evan Williams (pendiri twitter), Arianna Huffington (pimpinan redaksi Huffington Post), dan beberapa anggota kongres Amerika.

Misi dari konferensi ini adalah untuk mengeksplorasi kehidupan manusia di era digital. Alasannya, teknologi telah mengubah kehidupan manusia secara total, mulai dari budaya ‘always on’ yang dimulai sejak kehadiran telephone genggam, hingga saat ini ketika sosial media begitu digandrungi.

Salah satu hal yang menarik dari apa yang dihasilkan darikonferensi ini adalah, bahwa teknologi bukanlah sebuah masalah ataupun jawaban untuk mengatasi lika-liku kehidupan. Karena fokus sebetulnya adalah bagaimana manusia memiliki kesadaran penuh ketika memanfaatkan teknologi.

Jadi, ketika seseorang sadar secara penuh, maka teknologi dengan segala macam turunannya semestinya tak lagi disebut sebagai penyebab dari keretakan sosial kita. Namun sepeti dirasakan ketika orang menyimak musik-musik Sabyan Gambus, dapat mendorong etika persaudaraan dan perdamaian.

Sejatinya, alasan Tuhan memilih manusia sebagai khaifah di muka bumi adalah karena manusia mampu memiliki kesadaran tertinggi untuk menjaga keseimbangan hidup, baik secara ekologis, sosiologis maupun politis.

[Mrf]