Monday, 25 Jun 2018 mondayreview

Membangun Pusat Keunggulan Digital Muhammadiyah


Di era digital Muhammadiyah perlu menyajikan narasi alternatif tentang pesan damai dan kemajuan peradaban.

Ilustrasi foto/Net

Keadaban Digital 1
ERA DIGITAL diawali dengan perkembangan internet yang akhirnya mempengaruhi pola komunikasi dan hubungan sosial manusia. Piranti-piranti digital pun telah menggantikan piranti-piranti analog. Yang paling populer adalah penggunaan kamera digital dalam kehidupan sehari-hari. Sudah jarang sekali orang menggunakan kamera analog untuk kepentingan fotografi.

Data yang besar bisa diproses, dikirimkan/dibagi, dimanfaatkan dan dinikmati untuk berbagai kepentingan. Kualitas suara, gambar, video yang tinggi bisa dihasilkan dalam beragam format sesuai kebutuhan. Semua itu mendobrak berbagai keterbatasan yang selama ini mengungkung manusia.

Penggunaan kertas mulai berkurang, media cetak mulai tenggelam. Proposal dan bahan presentasi dibuat dan didistribusikan dalam bentuk dokumen digital. Buku sebagian masih dicetak, sebagian lagi terdistribusi dalam bentuk e-book berformat pdf. Catatan Medis pasien rumah sakit pun disimpan dan dikelola dalam bentuk digital.

Surat elektronik sudah lebih banyak menggantikan fungsi surat tercetak. Bahkan lampiran-lampiran dokumen yang membutuhkan otorisasi karena berkaitan dengan validitas dan legalitasnya di mata hukum juga sudah menghadirkan apa yang di sebut digital signature (menggantikan kop surat dan tandatangan).

Orang bisa saling terhubung satu sama lain. Para penjual dan pembeli semakin banyak yang bertemu dan bertransaksi di layanan e-commerce. Bahkan media sosial pun bisa dimanfaatkan untuk aktivitas bisnis. Foto dan video di instagram, misalnya, sudah menggantikan etalase lapak-lapak konvensional. Bukalapak, Tokopedia, Shopee dan sebagainya terus tumbuh dan berinovasi.

Bisnis online menghadirkan berbagai macam layanan. Perusahaan rintisan atau start-up baru terus tumbuh dan beberapa diantaranya menjadi unicorn (perusahaan baru dengan valuasi di atas US$ 1 M). Di sekitar kita muncul Go-Jek sebagai layanan transportasi online yang akhirnya mengembangkan layanan bisnis pembayaran Go-Pay. Aplikasi dan layanan lain pun bersaing ketat.   

Uang elektronik dan dompet elektronik semakin banyak digunakan. Kalau tidak siap menghadapi perubahan kita bisa tergopoh-gopoh. Sama seperti saat kita masuk ke jalan tol dan ternyata kita tidak bisa membayar dengan uang tunai. Mungkin kita lupa melakukan top-up kartu tol atau uang elektronik kita.  Apapun alasannya, kita tak akan bisa melakukan transaksi tunai.  

Dakwah Islam Di Era Digital

Kita bisa melihat beberapa contoh pemanfaatan media digital dalam kegiatan dakwah akhir-akhir ini. Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz  Adi Hidayat, dan Ustadz Abdul Somad adalah fenomena yang menandai  pemanfaatan media digital khususnya Youtube dalam dakwah Islam. Kebetulan ketiganya masih berusia relatif muda.  Walaupun sebenarnya banyak juga kalangan tua yang melek dan aktif dalam penggunaan media online dan media sosial. Mereka memiliki jejak digital yang intens dan panjang.

Ust. YM sudah dikenal lama menggunakan piranti digital untuk berkomunikasi dengan jamaahnya. YM sudah akrab dengan gawai digital. Akun medsosnya pun sudah aktif sejak lama. Intensitasnya dalam memasuki dunia digital kini memasuki area bisnis. Ia berani dan terus bertarung memperjuangkan PAYTREN menjadi bisnis ummat. Setelah produk pengelolaan asetnya berjalan, kini paytren mendapat izin sebagai penyelenggara uang elektronik.  

Ust. Adi Hidayat dengan kelebihannya dalam memori otaknya bisa dikenal luas dengan dukungan Youtube. Daya ingatnya yang luar biasa seperti memori yang tertanam pada piranti digital paling canggih, bahkan lebih karena kemampuan analisanya yang belum bisa ditandingi superkomputer sekalipun.  Namun semua kelebihan itu, materi dakwahnya, analisisnya, uraiannya itu bisa tersebar luas karena media sosial. Karena teknologi digital, kajian Ustadz alumnus Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut ini diakses jutaan netizen.

Ust. Abdul Somad juga bisa dikenal luas karena Youtube.  Paparannya yang khas, ketajaman analisisnya, kemampuan retorikanya yang memukau bisa menjangkau jutaan viewer melalui media sosial. Belakangan media televisi pun mengundangnya sebagai narasumber. UAS juga memiliki blog yang menguraikan beberapa kajian yang ditekuninya. Termasuk beberapa buku dalam format pdf yang bisa diunduh gratis oleh siapa saja. Jadi keterbatasan waktu dalam menguraikan suatu pedapat secara komprehensif di youtube dapat diantisipasi dengan mengakses blog dan e-book nya.

Bagaimana dengan Muhammadiyah? Kita mungkin sudah memiliki muhammadiyah.or.id, aplikasi muvon, TVMu dan berbagai media online di tingkat wilayah, daerah, cabang dan bahkan mungkin ranting. Kehadirannya sangat potensial untuk disinergikan dan dikembangkan sebagai sarana dakwah. Media online ini harus selalu mendapatkan sentuhan inovasi dan kreatifitas agar menarik dan optimal sebagai sarana dakwah.

Muhammadiyah, khususnya para muballigh harus bersinergi dengan para jamaahnya yang merupakan digital citizen dan melek dengan teknologi digital. Upaya menyesuaikan diri dengan teknologi digital ini lebih banyak bertumpu pada inisiatif-inisiatif yang bersifat bottom-up dan bermula dari lingkaran-lingkaran kecil namun berinteraksi intens.

Upaya untuk melakukan penguatan di tingkat struktural tentu saja bisa dilakukan, namun sifatnya lebih pada kajian strategis, menfasilitasi perkembangan yang muncul dari bawah, dan membangun jejaring yang luas. Jadi agenda utamanya adalah menunjuk salah satu elemen dalam Muhammadiyah sebagai JANGKAR PENGEMBANGAN DAKWAH DI ERA DIGITAL. Sehingga ada langkah yang saling mengisi dan menguatkan dalam meneguhkan peran Muhammadiyah sebagai organisasi Dakwah.