Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Terkait Kunjungan Kiyai Staquf, Komisi I: Indonesia Dibuat Malu


Harus ada langkah tegas dari Istana.

KH. Yahya Cholil Staquf. (ist)

MONDAYREVIEW - Ketua Komisi 1 DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mengecam kepergian Katib Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf ke Isarel dalam rangka menjadi pembicara seminar. Menurutnya, kunjungan Staquf menunjukkan arogansi pribadi dengan alasan memenuhi undangan konferensi hubungan Yahudi-Amerika.

"(Kunjungan Staquf) secara langsung atau tidak langsung telah merusak jalan diplomasi Palestina yang telah ditempuh oleh Indonesia sejak lama," katanya dalam keterangan tertulis yang diperoleh, Rabu (13/6/2018).

Terlebih, Abdul menyatakan Indonesia baru mendapat amanah dengan terpilih sebagai salah satu anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB. "Belum sempat bekerja, kita dibuat malu di depan dunia internasional dengan arogansi seorang Staquf yang nota bene anggota Dewan Pertimbangan Presiden," tukas dia.

Dirinya lantas berharap ada sikap tegas Presiden Jokowi terhadap langkah Staquf yang menurutnya jelas menyakiti Palestina dan Indonesia bahkan dunia Islam. Kemudian, Politisi PKS ini menegaskan posisi Staquf tidak bisa begitu saja mengatasnamakan pribadi, melainkan tidak dapat dilepaskan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

"Harus ada langkah tegas dari Istana, karena ini jelas membuat blunder diplomasi politik internasional yang kuat dan telah dibangun dalam membersamai Palestina," ucap dia.

Lebih lanjut, Abdul menyatakan Istana harus menjelaskan dimana posisi Presiden Jokowi terhadap langkah Staquf. "Sudah clear posisi kita bersama Palestina jadi rusak, karena nila setitik yang ditorehkan Staquf," sebutnya.

"Jelas ini blunder diplomasi dan ketidak mampuannya Istana menertibkan staf dan orang disekelilingnya Presiden," pungkas Abdul.