Sunday, 15 Jul 2018 mondayreview

Ulang Tahun Jokowi, Populisme dan Masa Depan Indonesia


Di milad Jokowi, kita ucapkan selamat bagi kelahiran populisme baru, harapan kemajuan Indonesia.

Presiden Joko Widodo/Net

USAI MENINJAU arus balik Lebaran di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Kamis (21/6) pagi, seperti biasa para jurnalis diberikan kesempatan meminta keterangan dari Presiden seputar agenda kegiatannya.

Di akhir doorstop, seorang wartawan tiba-tiba menyatakan memiliki informasi penting yang mesti diisampaikan kepada presiden. “Pak Presiden, ada informasi penting yang perlu kami sampaikan. Ini tentunya tidak fair jika kami, wartawan di Istana, tidak menyampaikan ini,” ujar wartawan itu.

Suasana hening sesaat, hingga akhirnya informasi itu pun disampaikan. Ternyata, informasi penting itu adalah ucapan selamat ulang tahun untuk Presden Joko Widodo yang hari ini menginjak usia ke-57. Setelah itu, ucapan selamat pun mengalir untuk Presiden Jokowi.

“Saya tidak pernah ulang tahun,” kata Jokowi menjawab ucapan selamat dari para pewarta sambil tersenyum.

Presiden Jokowi lalu menyampaikan harapannya bagi kemajuan Indonesia di masa depan. “Tentu saja kita ingin Indonesia maju, sejahtera, adil, dan makmur. Saya kita itu. Harapan rakyat sama seperti itu,” kata Presiden Jokowi.

Meski demikian, dalam momen tersebut, Kepala Negara sempat menyampaikan harapannya bagi kemajuan Indonesia di masa-masa mendatang.

“Tentu saja kita ingin Indonesia maju, sejahtera, adil, dan makmur. Saya kira itu. Harapan rakyat sama seperti itu,” kata Presiden Jokowi.

Harapan kemajuan bangsa tersebut tentu saja wajar, terutama bila melihat babakan hidup Jokowi. Dimana momen paling berarti tidak hanya bagi Jokowi namun bagi bangsa ini adalah momen kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014. Marcus Mietzner peneliti dari Australian National University dalam tulisan berjudul Rise of a Polite Populist menyebut kemenangan Jokowi waktu itu adalah kemenangan populisme di Indonesia.

Mietzner menjuluki populisme versi Jokowi sebagai jenis populisme yang terbuka, tidak meledak-ledak dan santun luar biasa. Intinya populisme Jokowi dianggap lebih lembut dan bersahabat.

Populisme jenis ini menjadi antitesis bagi gaya lawan tandingnya pada Pilpres 2014. Prabowo Subianto, yang tampak lebih keras dan mengandung unsur-unsur ultra-nationalisme dan konfrontasi yang kental dengan retorika-retorika yang ‘brutal’. Jokowi bukan dari jenis pemimpin yang memberi rakyatnya sarapan agitasi, menyuguhkan makan siang konfrontasi, dan menyajikan makan malam berupa mimpi.

Populisme Jokowi tak digunakan untuk mengeksploitasi sentimen massa namun lebih banyak mengarah pada bagaimana mengajak masyarakat untuk menyelesaikan persoalan praktis sehari-hari yang memang harus dihadapi secara konkret.

Majalah The Economist pernah menulis uniknya jenis populisme Jokowi itu, mereka menyebutnya sebagai “sosok penuntas masalah” atau Mr. Fix-It.

Itulah kenapa pada era Jokowi, populisme justru bersandar pada sosok Jokowi sendiri. Populisme politik itu dibangun di atas kemuakan rakyat akan negara dan parpol yang korup dan oligarkis.  Rasa muak itu bertransformasi menjadi partisipasi elektoral mendukung Jokowi dalam Pilpres 2014 karena dipandang sebagai sosok yang jujur, sederhana, dan bukan mewakili oligarki elit politik. Jokowi dianggap sebagai representasi masyarakat, seperti dalam slogan kampanye “Jokowi adalah kita”.

Munculnya sosok Jokowi yang didukung relasi personal dan gerakan relawan yang tidak diikat dalam sebuah organisasi partai politik adalah ciri utama gerakan populisme. Tak berlebihanlah bila di hari kelahiran Jokowi ini, kita juga ucapkan selamat bagi kelahiran populisme baru, yang memberi harapan untuk kemajuan Indonesia.

[Mrf]