Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Waketum PAN Dukung Kementan Blacklist Importir Bawang Nakal


Petani bawang merah lokal tidak laku lantaran kesulitan bersaing dengan bawang merah imitasi.

Ilustrasi. (ist)

MONDAYREVIEW - Wakil Ketua DPR RI, Taufik Kurniawan mendukung langkah Kementerian Pertanian (Kementan) yang melakukan blacklist kepada lima importir bawang bombai yang tidak sesuai aturan. Bahkan, kabarnya bawang bombai yang berukuran kecil itu rencananya dipasarkan sebagai bawang merah.

Ia pun menegaskan hal tersebut akan membuat petani bawang merah lokal tidak laku lantaran kesulitan bersaing dengan bawang merah imitasi itu. "Ini tentu saja merugikan petani bawang merah kita, karena bawang impor imitasi itu harganya jauh lebih murah. Jadinya petani kita tidak mampu bersaing secara harga," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diperoleh, Senin (25/6/2018).

Wakil Ketua Umum PAN ini lantas menyatakan Pemerintah harus mengambil langkah tegas. "Kalau bisa, jangan hanya blacklist, tapi ambil tindakan hukum," sebutnya.

Taufik menilai, tindakan blacklist dari Kementan itu sebagai bentuk perlindungan kepada petani lokal dan konsumen. Pasalnya, bawang bombai berukuran kecil itu berpotensi mengelabui konsumen, karena bentuknya menyerupai bawang merah lokal.

Ke depannya, ia meminta Kementan untuk lebih meningkatkan pengawasan kepada importir. Selain itu, Taufik mendorong Kementan untuk memberikan perhatian lebih serius kepada petani bawang lokal.

"Ke depannya, kita mendorong Kementan meningkatkan pengawasan kepada importir. Jangan sampai ada lagi importir nakal dan melakukan kecurangan, masyarakat kita jangan sampai dirugikan," ucap dia.

"Kementan juga harus memperhatikan lebih serius petani bawang kita, dan mendorong untuk meningkatkan produksi, sehingga bisa memenuhi kebutuhan bawang secara nasional," pungkas Taufik.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ada lima importir bawang bombai yang akan dikenakan sanksi blacklist karena diduga memasukkan bawang bombai yang tidak sesuai ketentuan. Kelima importir itu antara lain PT TAU, PT SMA, PT KAS, PT FMP dan PT JS.

Mentan Amran mengatakan bahwa masuknya bawang merah imitasi ini bisa merusak pasaran harga bawang merah di pasar. Sehingga, para petani tidak akan mampu bersaing dengan bawang merah imitasi impor tadi.

“Kalau misalnya bawang bombai diimpor dengan harga R 2 ribu per kilogram, harusnya dijual paling di kisaran harga Rp 6 ribu per kilogram. Ini kan mereka membrandingnya sebagai bawang merah, pasti mereka jualnya di kisaran harga Rp 10 sampai Rp 20 ribu per kilogram," kata Amran di Kementan, Jumat (22/6/2018).