Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Transformasi Intelektual Buya Syafii, Dari Fundamentalis Ke Pluralis


Perjalanan panjang transformasi pemikiran Buya Syafii sedikit banyaknya dipengaruhi oleh konsistensi Buya dalam menuntut ilmu.

Ahmad Syafii Maarif, (Foto: ist)

MONDAYREVIEW - Peneliti Senior MAARIF Institute Dr. Zuly Qodir, menyampaikan kepada para peserta "Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif" bahwa seorang Buya Syafii Maarif juga pernah mengalami transformasi intelektual. Hal itu disampaikan Zuly saat menjadi salah satu narasumber dalam acara tersebut.

"Sebagai tokoh Islam, Buya Syafii Maarif dulunya bukan seorang pluralis, tapi seorang fundamentalis," ujar Zuly dalam keterangan persnya Kamis, (26/7/18).

"Dari seorang pemikir modernis Maududian ke Neo-Modernis," imbuhnya.

Peneliti Senior MAARIF yang juga Dosen UMY itu menuturkan, perjalanan panjang transformasi pemikiran Buya Syafii sedikit banyaknya dipengaruhi oleh konsistensi Buya dalam menuntut ilmu.

"Di Universitas Chicago, disana Buya bertemu gurunya Fazlur Rahman. Buya mengalami perubahan drastis," tuturnya.

Fazlur Rahman, kata Zuly, dialah yang mengenalkan kepada Buya tentang pemikiran-pemikiran etis-humanis. Fazlur adalah seorang pemikir Neo-Modernis asal Pakistan yang mengajar di Universitas Chicago.

"Melalui Fazlur Rahman-lah, Buya tak lagi mendukung Negara Islam, sebagaimana yang dicita-citakannya dulu," kata Zuly

Selain itu, Zuly, juga menceriterakan, bahwa dalam kehidupan sehari-hari, Buya adalah sosok yang menegakkan moralitas dan kemanusiaan. Termasuk dalam menghargai perempuan misalnya.

"Dalam urusan domestik misalnya. Buya memasak sendiri, mencuci bajunya sendiri", terang Zuly. 

"Masalah ini memang jarang sekali dielaborasi," imbuhnya

Selanjutnya, Zuly berharap, pikiran-pikiran bernas dan kehidupan Buya Syafii yang mampu menginspirasi serta menjadi kiblat moral anak-anak generasi sekarang harus tetap dirawat dan lestarikan.