Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Ibarat Magnet, Dukungan untuk Jokowi Karena Daya Tarik dalam Dirinya


Derasnya dukungan yang mengalir kepada dirinya tak lain lantaran daya tarik dari dalam dirinya sendiri.

Presiden Joko Widodo saat menghadiri Rapat Umum Relawan/Net

“Jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian” 
DI hadapan ribuan relawan, Sabtu (4/8/2018) di Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor, Jokowi menyampaikan pesannya.

Memakai kemeja berwarna putih, celana hitam dan sepatu sneakers khasnya, Jokowi kemudian menyerukan persatuan dan kesatuan bangsa dalam sambutannya.

"Bahwa aset terbesar bangsa kita adalah persatuan, persaudaraan dan kerukunan. Karena kita sadar bahwa bangsa ini berbeda-beda, majemuk, bermacam macam, berbeda suku, agama, bahasa,dan tradisi," ujar Jokowi.

Dalam rapat umum ini, hadir para relawan Jokowi dari berbagai organisasi. Beberapa di antaranya adalah Projo, Bara JP, Seknas Jokowi, Almisbat, Duta Jokowi, Rumah Kreasi Indonesia Hebat (RKIH) Galang Kemajuan, hingga Buruh Sahabat Jokowi.

Imbauan Jokowi ini disampaikannya seiring banyaknya dukungan yang mengalir untuk dirinya agar periode kepemimpinannya berlanjut.

Menanggapi hal tersebut, salah satu Presidium Gen-Mu, Yayan Sopyani el-Hadi menuturkan ada banyak alasan kenapa kemudian Jokowi layak kembali memimpin Indonesia pada 2019-2014.

“Dibandingkan dengan calon lainnya, dari sisi manapun Jokowi tetap lebih unggul,” ujar Yayan Sopyani.

Calon anggota legislatif dapil 10 Jabar ini pun menuturkan sejumlah alasan kenapa kemudian Joko Widodo harus dua periode. Salah satunya, kata dia, dari sisi ideologis Presiden Jokowi benar-benar menjalankan Pancasila 1 Juni 1945, yang bukan semata ideologi partai melainkan juga Ideologi negara bangsa Indonesia.

“Rumusan-rumusan yang tertuang dalam sila-sila Pancasila benar-benar dijalankan Presiden Joko Widodo. Pancasila sebagai basis program Nawacita pun dilaksanakan dengan sangat baik. Sebagai contoh, terkait dengan Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Ketua PP Baitul Muslimin ini juga menuturkan, bila Jokowi benar-benar menjalankan Ketuhanan yang Berkebudayaan. Yaitu Ketuhanan yang Beradab, yang menghargai semua agama yang diakui negara, bahkan termasuk aliran kepercayaan.

“Ketuhanan yang beradab, sebagaimana penjelasan Bung Karno pada 1 Juni 1945 saat menjelaskan falsafah dasar negara Indonesia adalah, ketuhanan yang bisa dan harus saling menghormati satu sama lain,” tambahnya.

Secara faktual, di era Jokowi berhasil meminimalisasi ketuhanan yang kurang beradab. Yaitu ketuhanan yang justru menjadi basis persoalan, atau bahkan dijadikan masalah untuk kepentingan tertentu.

“Era Jokowi sangat clear. Karena Jokowi menjalankan ideologis Pancasila dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Selanjutnya dari sisi politik, Jokowi betul-betul telah berhasil membangun susunan politik yang stabil. Bahkan secara cerdas dan elegan, Jokowi berhasil mengatasi beban politik pasca Pilpres 2014 yang mengkristal dalam koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP).

Secara praktis, Jokowi telah berhasil membangun stabilitas politik. Kebijakan-kebijakan Jokowi untuk mewujudkan Nawacita mendapat dukungan penuh dari parlemen. Sebut saja kebijakan dalam menentukan Panglima TNI, Kapolri maupun kebijakan terkait dengan tax amnesty.

Ini berimbas pada dukungan kepada Jokowi dari partai politik yang kian menguat. Jokowi berhasil membangun kekuatan politik partai yang mencapai hampir 70 persen. Tentu saja ini penting sebab salah satu prasyarat menjalankan pembangunan nasional adalah dengan adanya stabilitas politik. Tanpa stabilitas, pembangunan bisa terganggu. Dan inilh kelebihan lain Jokowi, yaitu menopang stabilitas politik dengan cara-cara demokratis, bukan dengan cara-cara otoriter.

“Tidaklah heran, secara global, Jokowi menuai banyak pujian karena menjadikan Indonesia benar-benar negara demokratis yang membuat bangsa lain terharu. Misal saja, sebagaimana yang disampaikan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani. Demonstrasi di jalanan atau protes di medsos bisa dijalankan dengan bebas. Beda dengan negara di bawah rezim ototiter, begitu ada protes langsung ditangkap dan sebagian di antaranya tiba-tiba menghilang hingga kini,” tutur Yayan Sopyani.

Begitulah Jokowi saat ini, derasnya dukungan yang mengalir kepada dirinya tak lain lantaran daya tarik dari dalam dirinya sendiri.