Saturday, 22 Sep 2018 mondayreview

Mahfud MD 'The Next JK'


Mahfud MD bagi Jokowi adalah pilihan paling objektif dan rasional.

Mantan Ketua MK, Mahfud MD/Net

BILA kita gambarkan, politik pilpres saat ini seperti tengah berada antara dilema dan galau. Baik Jokowi, Prabowo dan sejumlah nama lainnya yang disebut-sebut bakal menjadi calon presiden dalam perhelatan Pilpres 2019 tengah kesulitan menemukan pasangannya.

Padahal, di tengah ulah dunia yang sarat jejaring sosial, baik daring maupun luring, menemukan pasangan mestinya tidaklah sulit. Karena revolusi digital semestinya dapat memudahkan apa pun termasuk soal pencarian pasangan. Ada banyak faktor dan pertimbangan yang dapat diraih dan disimpulkan secara cepat.

Akibatnya, elite partai politik, tim sukses pasangan calon, relawan, atau bahkan jejaring media pun belum dapat meramu isu, melancarkan strategi yang jitu untuk memenangkan pasangan yang diusungnya. Ini menguatkan pepatah lama kita, dunia tidak berasa gurih, bila hidup tidak beraroma cinta.

Saat dunia hampa, maka orang seringkali menerawang masa lalu. Memimpikan hal-hal ideal di masa lalu dapat kembali terjadi di masa kekinian. Karena itu, kendati telah banyak alasan disampaikan terkait ketidakmungkinan JK menjadi pendamping Jokowi, namun tetap saja Jusuf Kalla terus dielu-elukan. Kalau pun tidak JK sendiri, maka sosok seperti JK lah yang kiranya pantas mendampingi Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang.

Termasuk soal siapa yang pantas menjadi pasangan Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang. Sosok JK menjadi ukurannya. Baik dalam kapasitas intelektual, spektrum jejaring, kemampuan menyelesaikan masalah, integritas, elektabilitas, hingga urusan itung-itungan di atas kertas. Semua mesti selengkap JK.

Salah satu nama yang dinilai pantas menjadi pengganti JK adalah mantan Ketua MK, Mahfud MD. Kenapa, karena sosok Mahfud MD disebut memiliki kriteria yang mendekati sosok JK. Kalau JK dikenal sosok yang piawai mendamaikan konflik di berbagai daerah, Mahfud MD juga terbukti mampu mendamaikan dan mengambil tindakan yang cepat di tubuh MK ketika itu.

Mahfud MD mampu bertindak cepat dan memiliki keterbukaan yang tinggi dalam kepemimpinannya. Mahfud tak pernah berkompromi soal urusan korupsi, baginya kebenaran harus ditegakkan. Ia pernah menjabat di lembaga eksekutif, legislatif, maupun Yudikatif. Mahfud juga sampai saat ini bersih dari kasus pelanggaran hukum.

Kedua, Mahfud juga memiliki komunikasi yang baik dengan tokoh-tokoh kunci di sekeliling Jokowi. Sebut saja Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan, dan tentu saja Jokowi sendiri. Bersama Megawati, Mahfud MD menjadi anggota tim UKP Pancasila. Sementara bersama Luhut Binsar Panjaitan, Mahfud MD pernah sama-sama menjadi anggota Kabinet di bawah Gusdur pada tahun 2000-2001

Sosok Mahfud MD memang dinilai mampu menggantikan Jusuf kalla untuk meraih simpati dari kelompok tradisional dan modernis. Kedekatan Mahfud dengan Gus dur membuatnya dekat dengan para kiai dan alim ulama NU. Darah dan kelahirannya sebagai orang Madura tak disangsikan lagi sebagai warga Nahdliyin.

Selain itu, Mahfud juga pernah besar di kalangan ‘modernis’ dari basis para intelektual modernis kampus UII Yogyakarta. Di kampus itu, Mahfud aktif di HMI dan KAHMI. Selama di Jogja, Mahfud juga dekat dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Mahfud MD pun dinilai sosok yang dapat diterima semua kalangan.

Di Pilpres 2014, Mahfud MD memang jadi Ketua Tim Sukses Prabowo-Hatta. Namun jika ia menjadi wakil Jokowi, akan kian menguatkan Jokowi sebagai pemimpin yang tak pandai menyimpan rasa dendam. Baginya, yang lalu biarlah berlalu, kita tatap masa depan.

Meskipun Mahfud MD bukan berasal dari luar Jawa seperti JK. Sehingga kurang merepresentasikan suara dari luar pulau jawa. Namun itu mestinya tidak jadi soal, selama Mahfud MD punya kemitmen yang kuat terhadap kesatuan NKRI, maka sebetulnya ia adalah representasi seluruh anak negeri, dari Sabang hingga Merauke. Mahfud MD bagi Jokowi adalah pilihan paling objektif dan rasional.

Karena itu, jangan dulu buru-buru patah arang atau menyalahkan pihak-pihak tertentu apalagi memaksa partai-partai politik untuk segera mengumumkan pasangan calonnnya. Karena romantisme politik meniscayakan upaya untuk menjadi sosok berdaya pikat bagi sang kekasih di seberang sana. Bersabarlah sedikit.

Meminjam sebuah nukilan tips yang ditulis Susan Jeffers dalam buku ‘Life is Huge, Laughing, Loving and Learning from it All’, maka beberapa hari ke depan buatlah hidup kita semarak mungkin dan rayakanlah hidup sebagaimana diri kita ada. Yakinlah, bila Jokowi akan segera menemukan pasangannya, dan semoga takdir segera menyatukannya dengan Mahfud MD.

M. Muchlas Rowie
Koordinator Relawan Balad Jokowi