3 Aspek Pendidikan Yang Membebaskan

3 Aspek Pendidikan Yang Membebaskan
3 Aspek Pendidikan Yang Membebaskan

MONDAYREVIEW.COM - Apa tujuan sekolah atau kuliah? Sebagian orang percaya pendidikan harus menekankan tentang karakter dan kesadaran kewarganegaraan atau kebangsaan.  Sama pentingnya dengan belajar tentang karir dan perdagangan.  

Di tingkat perguruan tinggi untuk memenuhi tujuan pendidikan universitas, mahasiswa sarjana harus belajar tentang dunia alami yang kita jumpai saat lahir dan dunia yang kita bangun. Juga tentang sarana yang digunakan untuk menengahi antara dunia yang kita jumpai dan dunia yang kita bangun. Antara kenyataan dan harapan. Antara realitas dan mimpi.

Kita boleh memaknai bahwa hari ini bukan lagi "zaman informasi", tetapi lebih sebagai "zaman imajinasi". Kita hidup di zaman yang membutuhkan pendekatan kreatif untuk menyelesaikan masalah.

Dalam konteks ini, tiga aspek terpenting dari pembelajaran adalah sejarah, imajinasi, dan kasih sayang. Robert A. Scott dalam artikelnya seputar pendidikan yang membebaskan menegaskan hal itu.

Yang pertama adalah SEJARAH. Salah satu cara untuk memikirkan pertanyaan tentang apa yang harus dipelajari adalah dengan merenungkan masalah-masalah kontemporer dan menanyakan pelajaran apa yang telah kita pelajari.

Survei cepat selama beberapa tahun terakhir akan menunjukkan bahwa terlalu banyak orang, bahkan mereka yang memiliki peran canggih, tidak memiliki pengetahuan sejarah, tidak memiliki pemahaman kontekstual.

Sejarah adalah subjek yang penting, terutama jika kita ingin memahami cara orang yang berbeda untuk "mengetahui" kebenaran — dengan bukti, melalui pencerahan, oleh emosi — dan bagaimana mereka menantang asumsi dan memvalidasi pernyataan. Tanpa pengetahuan latar belakang ini, seseorang tidak dapat membedakan cant dari Kant, atau antara dan di antara masalah hukum, moralitas, dan etika.

Area kedua yang harus dikembangkan adalah IMAJINASI. Latihan imajinasi memungkinkan kita untuk melihat pola, untuk melihat di mana mereka berbeda dan ketika mereka bertemu. Itu menuntut kita untuk mendengarkan, memahami, menoleransi kesunyian, dan memahami sebelum kita merespons.

Seperti yang ditunjukkan oleh krisis politik dan keuangan baru-baru ini dan yang sedang berlangsung, banyak orang terkenal menghadapi masalah baru tanpa kemampuan untuk melihat hubungan antara variabel yang berbeda; mereka tidak dapat memvisualisasikan atau memperkirakan arah, tidak dapat mendekati masalah secara kreatif. Mereka dapat memandang tapi tidak melihat, mendengar dan tidak tahu, memahami sesuatu dan sama sekali tidak mengetahui hal itu.

Bidang ketiga yang harus dikembangkan adalah COMPASSION — kemampuan untuk mendengarkan, benar-benar mendengar, dan memahami perspektif orang lain dan juga untuk bersikap adil.

Keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan di dunia saat ini tidak hanya pengetahuan tentang neraca dan bagaimana menganalisisnya, tetapi juga kemampuan untuk memahami dinamika budaya dan bagaimana orang berinteraksi.

Terlalu banyak orang dewasa yang kelihatannya kurang memiliki kesadaran diri dan persiapan dalam refleksi dan pemikiran kritis: mereka adalah orang-orang yang jawabannya menyembunyikan pertanyaan, baik tentang diri mereka sendiri maupun tentang orang lain.

Inilah sebabnya, misalnya, studi literatur dan sejarah sangat penting. Ini membantu kita melihat pertanyaan dan asumsi yang begitu sering disembunyikan oleh jawaban, membantu kita mengembangkan filosofi kehidupan yang bermakna.