Faktor Prabowo di Antara AHY dan Puan

Faktor Prabowo di Antara AHY dan Puan
ahy dan puan/ net

MONDAYREVIEW.COM – Politik adalah seni kemungkinan. Banyak hal tak terduga dapat terjadi. Seringkali kita menyebut perubahan arah politik sebagai dinamika. Begitu dinamisnya politik seolah para elit terjangkit amnesia. Jika sudah mendekati pemilu atau pemilukada dinamika itu dapat berlangsung dalam intensitas yang tinggi. Menit demi menit menjanjikan kejutan yang memacu adrenalin.  

Politik juga ajang kompromi yang terkadang dibaca khalayak bak dagang sapi. Kursi dan dukungan suara ditransaksikan demi kepentingan pragmatis. Apalagi jika para aktor politik dan partainya telah tersandera oleh berbagai skandal dan kepentingan sempit nan pragmatis. Demokrasi yang substansial semakin jauh dari harapan digeser oleh politik transaksional.

Pemilu 2019 telah setahun berlalu. Masih banyak luka yang belum sembuh. Namun dinamika di tingkat elit sudah jauh bergeser. Setidaknya terlihat di seputar Kongres Luar Biasa Partai Gerindra. Prabowo terlihat mendekatkan jarak partainya dengan seluruh potensi politik termasuk PDIP dan Partai Demokrat. Bahkan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan sambutan pada perhelatan akbar Partai Gerindra tersebut.

Dukungan internal Partai Gerindra masih solid bagi Sang Ketum. Permintaan Prabowo menjadi capres 2024 disampaikan langsung oleh seluruh DPD dan DPC Gerindra di KLB. Seluruh DPD dan DPC meminta Prabowo bersedia kembali menjadi Capres. Partai Gerindra mulai berbicara soal pencalonan di Pilpres 2024 mendatang. Sekjen Gerindra Ahmad Muzani mengungkap, sang ketum Prabowo Subianto siap kembali maju sebagai capres apabila diminta kadernya.

sumber : hops.id

sumber foto : hops.id

Prabowo Subianto masih menjadi tokoh sentral dengan elektabilitas tertinggi jika Pemilu dilangsungkan hari ini. Kepemimpinan Prabowo sangat kuat berakar di Partai Gerindra. Partai itu sendiri juga masih mendapatkan dukungan suara yang menentukan. Apalagi jika dalam pilkada serentak 2020 kader-kader yang diusungnya dapat meraih kemenangan.

Prabowo disimulasikan berpasangan dengan dua tokoh muda pewaris dinasti kepresidenan yakni Puan Maharani dan Agus Harimurti Yudhoyono. Dalam hitungan sederhana para pengamat menilai kemungkinan Prabowo berpasangan dengan Puan lebih besar. Basis dukungan konstituen dan efektifitas mesin politik PDIP lebih kuat dibanding Partai Demokrat. Namun politik adalah seni kemungkinan yang siap menawarkan kejutan-kejutan tak terduga.

Banyak kalangan yang berharap pada munculnya pemimpin muda. Bukan tidak mungkin Puan justru berpasangan dengan AHY. Jika Prabowo pensiun dan memilih menjadi Kingmaker maka Gerindra pantas mendorong Sandiaga Uno yang telah berpengalaman sebagai pengusaha, wakil gubernur, dan cawapres.  

Dan sebaris pemimpin muda lainnya akan siap berkontestasi dengan mereka untuk memimpin negeri. Kans tokoh muda seperti Anies Baswedan, Ridwan Kamil, dan Ganjar Pranowo akan semakin terbuka. Pengalaman mereka sebagai gubernur sangat pantas menjadi jalan meraih kepercayaan publik bahwa mereka mampu memimpin di level nasional.

Bagi loyalisnya kesediaan Prabowo bergabung dalam Kabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan adalah bagian dari strategi politik dan sikap kenegarawanan. Posisi itu mengurangi tensi keterbelahan politik selepas kontestasi politik paling panas dalam sejarah Indonesia. Bagaimanapun kehadiran sosok yang kuat dan terkesan patriotik masih dibutuhkan bagi sebagian rakyat.

Sebaliknya bagi mantan pendukungnya yang sudah balik kanan. Prabowo dinilai sudah mencederai kepercayaan mereka selama ini. Tak ada lagi sosok penyeimbang yang mengkritisi rezim berkuasa. Langkahnya seakan melegitimiasi segala klaim kemenangan politik Jokowi.

Kelompok PA 212 yang selama ini berada di belakang Prabowo menilai Prabowo sudah selesai dan harus memberikan tingkat estafeta bagi para pemimpin muda. Usia Prabowo yang mendekati kepala tujuh memang sudah tak muda lagi.

Pun bagi berbagai elemen pro demokrasi yang menolak lupa pada dugaan keterlibatan Prabowo dalam peleanggaran HAM terutama menjelang kejatuhan Orde Baru.  

Bagi Puan dan AHY kedekatan dengan Prabowo tentu harus terus dijalin. Entah arah angin annti akan membawa kembali Prabowo sebagai capres atau tidak maka komunikasi politik dengan orang nomor satu di Partai Gerindra itu bernilai sangat strategis.  

Puan yang pernah menjabat sebagai Menteri Kordinator PMK dan Ketua DPR RI tentu memiliki pengalaman dan kecakapan yang memadai dalam kepemimpinan politik. Puan yang kalem memang tak banyak merebut perhatian publik. Namun bagi sebagian rakyat yang pengap dengan kegaduhan politik bukan tak mungkin merindukan sosok tenang seperti Puan.  

Berbeda dengan AHY yang belum memiliki rekam jejak di posisi strategis jabatan politik. Putra Mahkota Cikeas ini memiliki kharisma yang kuat, cerdas dan tenang. Disamping pendidikan militer AHY menyandang dua gelar master dari kampus ternama di Amerika Serikat. Bukan tidak mungkin hal itu menjadi faktor penentu dalam kontestasi politik. Gaya kepemimpinan dan pencapaian Presiden SBY saat menjabat Presiden yang menjadi referensi bagi publik dalam memilih AHY. Dengan memegang adagium bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Prabowo menjanjikan jawaban setahun atau lebih atas permintaan pendukungnya di Partai Gerindra untuk maju sebagai capres. Puan dan AHY pun mesti menyiapkan diri sambil menjalin komunikasi politik dengan seluruh kekuatan politik. Harapan rakyat tentu besar pada konsolidasi politik yang lebih kuat dan menjanjikan hadirnya pemimpin kuat yang berfihak pada rakyat. Bukan berfihak pada kepentingan diri dan kelompoknya semata.