'Aisyiyah dan Ketahanan Pangan di Tangan Perempuan

'Aisyiyah dan Ketahanan Pangan di Tangan Perempuan
Gerakan MAMPU/ aisyiyah.or.id

MONDAYREVIEW.COM - Soal pangan jangan dianggap enteng. Dengarlah jeritan para ibu rumah tangga di saat harga sembako naik. Harga naik yang berbanding lurus dengan kelangkaan. Dalam soal pangan tak mudah memenuhi ketersediaan bagi 270 juta penduduk. Dan tak dapat dipungkiri kaum perempuan itulah yang berada di garis pertahanan keluarga dan komunitasnya dalam mengatur logistik terpenting dalam kehidupan manusia.  

Jadi tak heran bila hari ini Kementerian Pertahanan pun bicara soal ketahanan pangan. Pertahanan sebuah bangsa dapat saja runtuh bukan oleh senjata lawan namun luluh lantak karena kelaparan rakyatnya.  Kedaulatan pangan adalah kunci agar sebuah bangsa dapat dikatakan mandiri. 

Peringatan FAO tentang ancaman krisis pangan mesti diantisipasi. Kita memiliki jumlah penduduk yang tak sedikit. Tingkat ketergantungan kita pada beras sebagai sumber karbohidrat utama begitu besar.  Agar tak hanya bergantung pada beras Pemerintah pun melirik jagung dan singkong. Konon Kalimantan Tengah akan dikembangkan sebagai lumbung pangan baru. Tetapi apa kita hanya berharap pada langkah Pemerintah? Tentu tidak.  

Kita berharap tidak terjadi krisis pangan namun kewaspadaan menjadi kunci. Selagi dapat mencegah dan masih ada waktu untuk bersiasat akan lebih baik menyiapkan strategi mengantisipasinya. Meski kemarin Bulog harus dihadapkan pada situasi dimana cadangan beras di gudang terlalu banyak. Hingga kedaluawarsa dan mengganggu serapan gabah dari petani saat musim panen tiba.

Jika krisis pangan tiba belum tentu negeri jiran seperti Thailand dan Vietnam mau kita beli beras mereka. Apalagi jika mereka sendiri melihat kebutuhan dalam negerinya terbatas. Maka menghasilkan pangan secara mandiri menjadi salah satu kuncinya. Negara harus memiliki strategi berlapis untuk membangun ketahanan pangannya.

Demikian pula di tingkat komunitas bahkan keluarga. Diperlukan strategi ketahanan pangan. Termasuk dengan memanfaatkan lahan yang ada. Gerakan lumbung pangan menjadi sangat penting untuk menghadapi kemungkinan tersebut. Kebutuhan pangan tak hanya soal beras. Sayur-mayur, sumber protein, dan beragam buah-buahan sangat penting sebagai sumber nutrisi.

Penerapan strategi ketahanan pangan di tingkat komunitas dan keluarga pasti melibatkan perempuan. Bahkan perempuanlah yang paling mungkin mengawal strategi ini. Sejarah telah berkisah tentang perjuangan perempuan dalam menghadapi berbagai krisis pangan di banyak negara. Perempuan, terutama para ibu rumah tangga, telah berjuang dalam melewati kesulitan pangan demi keluarga terutama anak-anaknya.

Integritas adalah kunci. Peran gerakan perempuan Aisiyah dalam membangun ketahanan pangan menjadi secercah harapan. Di tengah sikap skeptis banyak kalangan bahwa program ketahanan pangan seringkali berhenti menjadi lip service Pemerintah dan para politisi.  Banyak program terkait yang mangkrak tak berkelanjutan. Banyak pula yang salah sasaran bahkan dikorupsi. Wajar kalau harapan muncul pada gerakan perempuan yang telah membuktikan dedikasinya dalam mengabdi pada kemanusiaan.

Aisiyah menggelar strategi berlapis dalam membangun ketahanan pangan. Gerakan perempuan ini  mengedukasi para perempuan tentang pentingnya ketahanan pangan dan menggerakkan distribusi benih tetanaman yang relatif pendek masa tanamnya berikut peralatan sederhana untuk bercocok tanam.

Lain ladang lain belalang. Strategi di daerah satu dengan daerah lain dapat disesuiakan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Pengurus Daerah atau Cabang 'Aisiyah daerah tertentu ada yang menerapkan strategi untuk mendorong pemenuhan kebutuhan protein yang dirasa masih kurang. Dalam bahasa sederhana ‘kadang nasinya ada, lauknya yang nggak ada’. Maka komunitas perempuan setempat didorong untuk mengembangkan budidaya lele. Lain lubuk lain ikannya. Daerah lain dapat saja mengembangkan budidaya jenis ikan lainnya.

Beberapa program Aisyiyah yang saling terkait dan bersinergi dalam strategi ketahanan pangan adalah program Lumbung Hidup, program MAMPU, dan program Rumah Gizi.  Program Lumbung Hidup dari Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Program MAMPU memberikan benih sayuran maupun jenis tanaman lainnya kepada komunitas Balai Sakinah ‘Aisyiyah yang ada di enam desa dampingan di 15 Kabupaten dan Kota.

Ketahanan pangan penting sekali digiatkan, dengan memberikan benih dan mengedukasi, Aisiyah mengajak para ibu untuk bertanam di kebun masing-masing agar kalau nanti situasi sulit maka ibu dapat memenuhi kebutuhan gizi dari rumah masing-masing.

Benih tanaman yang diberikan dipilih yang mudah dan cepat dipanen seperti cabai, sawi, kakung, bayam, akan tetapi dapat juga berbeda sesuai dengan potensi tanaman lokal bergizi yang ada di masing-masing daerah.

Tidak semua kelompok atau anggota BSA memiliki pekarangan di rumahnya karena itu 'Aisyiyah Blitar tetap mendorong dengan memberikan media tanam.

Beberapa anggota BSA tidak memiliki pekarangan untuk ditanami, karena itu kami berikan juga media tanam dan polybag untuk tetap mendorong mereka dapat bertanam dan harapannya dari kegiatan ini jika hasilnya berlebih juga dapat menjadi pemasukan bagi mereka.

Program Rumah Gizi. Pemenuhan gizi keluarga dari pekarangan sendiri. Upaya ini terlaksana di berbagai daerah. Penguatan ketahanan pangan keluarga perlu ditingkatkan di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini sehingga dapat mencegah stunting.

Pemberian bibit ikan lele juga menjadi prioritas di beberapa daerah seperti di Magelang dalam upaya memenuhi asupan protein bagi keluarga.  Berdasar hasil pemetaan, masih banyak keluarga yang kekurangan konsumsi protein.

Pemberian bibit buah dan ikan karena dari hasil pemetaan yang kami lakukan masih banyak keluarga yang kekurangan asupan protein dan juga kurang konsumsi buah. Pemberian bibit ini dapat mendorong ibu-ibu untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai upaya ketahanan pangan di masa pandemi ini.

sumber : aisyiyah.or.id