Antara Musik dan Kampanye Politik

Antara Musik dan Kampanye Politik
Rapimnas Partai Demokrat

MONDAYREVIEW.COM – Pada hari ini (9 Maret) diperingati sebagai Hari Musik Nasional. Pemilihan 9 Maret dikarenakan tanggal tersebut merupakan tanggal kelahiran WR Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya. Lagu Indonesia Raya sendiri merupakan lagu kebangsaan bangsa Indonesia. Sempat dilarang diperdengarkan ke publik (pada masa penjajahan Belanda), karena ada kata ‘merdeka’, lagu Indonesia bukan hanya indah didengar, tapi juga memiliki pesan-pesan kebangsaan.

Pada Era Orde Baru

Lagu sendiri, tak sekadar bisa dimaknai dari lirik dan melodinya. Dalam konteks politik, musik bisa menjadi wahana hiburan yang efektif dalam melibatkan massa dalam jumlah besar. Kampanye Golongan Karya (Golkar) di masa Orde Baru kerap menyuguhkan menu musik dangdut dalam kampanyenya. Sang raja dangdut Rhoma Irama pun ditarik untuk menjadi kader Golkar.

Pada Era Reformasi

Pada era reformasi, musik dangdut pun mewarnai kampanye sejumlah partai politik. Era reformasi juga ditandai dengan pemihakan sejumlah musikus pada politikus tertentu. Pada masa kampanye pilpres 2014 dihelat Konser Revolusi Mental yang diisi oleh sejumlah musikus seperti Slank, KLA Project, Glenn Fredly, Tompi, JFlow, dan lain sebagainya.

Pada masa Pilkada DKI Jakarta, konsep setipe Konser Revolusi Mental pun coba diadopsi pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dengan mengadakan Konser Gue 2.

Pada musim kampanye Pilkada DKI Jakarta, para calon gubernur ada yang melakukan rekaman lagu dan bernyanyi bersama para pendukungnya. Agus Harimurti Yudhoyono terlihat merekam suaranya di lagu Dia yang dipopulerkan Anji. Ahok terlihat bernyanyi bersama Giring Nidji di lagu Garuda Di Dadaku yang dipopulerkan Netral. Sedangkan Anies Baswedan merekam suaranya di lagu Rindu Kami Padamu ciptaan Bimbo.

Sementara itu Susilo Bambang Yudhoyono saat menutup Rapimnas Partai Demokrat menyanyikan lagu Munajat Cinta yang dipopulerkan The Rock. Di bagian reff lagu, SBY menyentil Ahok yang terkenal dengan persepsi galak dan suka menggusur.

"Tuhan kirimkanlah aku, gubernur yang baik hati, yang mencintai rakyatnya apa adanya," sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan SBY di Jakarta Convention Center, Jalan Gatot Subroto, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2).

Demikianlah sejumlah simbiosis yang menunjukkan antara musik dan kampanye politik.