Apa Tugas Berat Tim Ekonomi Kabinet Indonesia Maju?

Apa Tugas Berat Tim Ekonomi Kabinet Indonesia Maju?

MONDAYREVIEW.COM - Presiden dan Wakil Presiden telah dilantik. Anggota kabinet teah diumumkan pada Rabu (23/10/2019). Menteri Keuangan kembali dijabat oleh Sri Mulyani. Publik sudah memperkirakan dan pasar pun merespon dengan baik tampak dari geliat di pasar saham. IHSG menguat signifikan saat SMI, demikian sapaaanya, datang ke istana. Walaupun pada saat pengumuman dan pelantikan Kabinet baru pasar sempat menunjukkan reaksi negatif.

Menteri Keuangan harus bekerja keras memastikan pencapaian target Nawacita Jilid II. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%-6% dengan tingkat konsumsi rumah tangga 5,21%-5,37%, belanja pemerintah 3,28%-4,11%, investasi 7,45%-8,25%, ekspor 6,75%-7,60% dan impor sebesar 7,56%-8%.

Pencapaian tersebut harus didukung oleh kinerja koleganya di Kementerian Perindustrian. Pertumbuhan sektor manufaktur ditargetkan bisa mencapai 5,4%-7,05%, Agrikultur 3,57%-3,94%, kelistrikan 4,01%-4,48%, konstruksi 5,42%-5,96%, dan transportasi 8,68%-9,11%. Banyak kritik dan catatan yang mengemuka terkait fenomena deindustrialiasasi yang menekan pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional.

Menteri yang memiliki kapasitas dan kompetensi dalam teknologi sekaligus bisnis juga penting untuk memperhatikan target yang akan dicapai. Pertumbuhan Information and Communication Technologies (ICT) hingga 10,84%-11,82%, jasa keuangan 7,15%-7,84%, perdagangan 5,01%-6,03% dan terakhir adalah pertambangan dengan target 0,5%-0,88%.

Secara umum fokus kebijakan Nawacita jilid II ini terkait pengembangan industri yang menyasar tiga target utama yaitu meningkatkan produktivitas, meningkatkan daya saing ekspor manufaktur, dan menguatkan industri hulu strategis. Fokus kebijakan ini akan didukung oleh enam langkah strategis.

Pertama, terkait dengan penguatan iklim investasi, keterbukaan perdagangan dan keterlibatan di dalam jaringan produksi global. Kerja Menteri Koordinator Perekonomian sangat diperlukan untuk mengatur orkestra tim ekonomi ini. Istilah supply chain atau rantai pasok beberapa kali diungkapkan oleh para calon menteri.     

Kedua, penguatan kemampuan riset dan pengembangan inovasi, dan akselerasi adopsi teknologi.  Mantan Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro bergeser ke Badan Riset Nasional. Langkah Jokowi ini tentu mempertimbangkan banyak hal. Namun pengalaman dan kompetensi Bambang telah matang. Pos menteri keuangan dan perencanaan pembangunan nasional bukanlah jabatn main-main.  

Ketiga, peningkatan diplomasi ekonomi dan utilisasi perjanjian perdagangan bebas. Peran Airlangga Hartarto sebagai Menteri Koordinator Perekonomian tentu sangat strategis. Menteri perdagangan pun harus pandai memilih strategi di tengah Perang Dagang AS-Tiongkok yang tak kunjung reda.

Keempat, pengoptimalan sumber potensi pertumbuhan ekonomi. Ekonomi digital dan pariwisata yang didukung oleh industri kreatif sangat berkaitan dengan pencapaian target ini. Ini juga menjadi kerja para menteri ekonomi termasuk Menkop UKM yang dijabat Teten Masduki dan Menteri PPN/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. Pada lini yang sama ada Wishnutama yang memiliki tugas membangun pariwisata dan industri kreatif.  

Masih ada agenda kelima, penguatan pilar pendukung pertumbuhan sektor manufaktur. Ini membutuhkan kerja keras Menteri Perindustrian. Termasuk dalam menularkan Smart Manufactring yang menjadi pintu masuk menuju Making Indonesia 4.0. Erick Thohir juga ditantang untuk membangun BUMN yang mampu menjawab tuntutan ini.

Dan yang keenam atau terakhir adalah penciptaan kebijakan makroekonomi yang kondusif untuk mendukung pengembangan industri manufaktur. Menteri keuangan tentu memiliki beban tugas yang cukup berat untuk membereskan agenda ini.