Asa (Nadiem) yang Kian Tak Sampai

Asa (Nadiem) yang Kian Tak Sampai
Ilustrasi foto/Net

Link secara harfiah berarti pertautan atau hubungan interaktif, dan Match berarti cocok. Sehingga Link and Match adalah adanya keterkaitan dan kesepadanan dengan kebutuhan dan permintaan (needs, demand). Wardiman Djojonegoro

 

JAUH sebelum kita terkoneksi secara digital di era revolusi industry 4.0., tokoh sekaligus mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tahun 1993 hingga 1998 di Era Soeharto, Wardiman Djojonegoro sesungguhnya sudah mengatakan, jika pendidikan mesti Link dan ‘match’ untuk menghadapi perubahan.

Link and Match menurut pria kelahiran pamekasan ini, link and match pada hakikatnya adalah peningkatan mutu agar kompetensi siswa sesuai dengan globalisasi. “Itu merupakan keharusan mutlak dalam persaingan global, agar bangsa kita tidak tertinggal dan mampu bersaing," katanya di sebuah acara Seminar Nasional dengan tema "Membangun Tekad Kembali Dunia Pendidikan" di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

"Link" dan "match" mengisyaratkan agar para lulusan mempunyai wawasan atau sikap kompetititf, seperti etika kerja (work ethic), motivasi mencapai (achievement motivation), penguasaan (mastery), sikap berkompetensi (competitiveness), arti uang (money beliefs), sikap menabung (attitudes to saving).Untuk itu, kata dia, "link" dan "match" memerlukan perubahan kerangka pikir dari seluruh pelaksana pendidikan seperti halnya baik institusi pendidikan maupun staf pengajar harus pro aktif "link" dan "match" dengan dunia kerja.

Kehadiran Nadiem Makarim sebetulnya untuk menjalankan visi Presiden Jokowi dalam pendidikan, seperti yang telah dikemukakan sejak lama oleh Wardiman Djojonegoro namun sulit kita realisasikan.

Menurut Nadiem, sebagai Mendikbud dia akan menjalankan visi Presiden Jokowi dalam pendidikan, menciptakan link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. "Kebutuhan lingkungan pekerjaan di masa depan itu sangat berbeda dan akan selalu berubah. Link and match itu adalah saya akan mencoba menyambung apa yang dilakukan di institusi pendidikan menyambung apa yang dibutuhkan di luar institusi pendidikan," ujarnya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Bagi Nadiem, peran teknologi dalam dunia pendidikan akan semakin besar untuk menciptakan kualitas, efisiensi dan sistem administrasi pendidikan di Indonesia. Teknologi akan diterapkan pada 300 ribu sekolah untuk mendukung 50 juta murid. "Seperti arahan Presiden kita enggak bisa business as usual, kita enggak bisa gitu-gitu aja, kita harus mendobrak, kita harus inovasi, makanya lah saya diberikan amanah ini," jelasnya.

Pasca dipilih, Mendikbud Nadiem Makarim pun langsung jadi sorotan publik. Pasalnya, ketika sebelum dan sesudah dilantik hingga sekarang namanya masih saja terus diperbincangkan kalangan masyarakat baik daring maupun luring.

Banyak para netizen yang tiba-tiba latah memberi komentar maupun presiksi soal kepemimpinan CEO Gojek ini ketika menggantikan Muhadzir Effendy. Tokoh yg selama ini namanya tidak pernah terdengar, mendadak menjadi fenomenal di kalangan masyarakat. Beragam pujian dan keraguan akan kemampuan nya untuk mengatasi masalah pendidikan di Indonesia pun sempat menjadi perbincangan yang cukup hebat.

Sayang, asa besar tersebut belum juga nyata. Keputusan Presiden Jokowi meminangnya sebagai Menteri belakangan dinilai kurang tepat dan tidak sesuai dengan perkembangan dan tantangan dalam kondisi pandemi. Padahal, Presiden Jokowi disebut telah memberi kewenangan lebih kepada Nadiem Makarim untuk mengubah kurikulum dan sistem pendidikan Indonesia agar sepenuhnya memiliki daya saing yang tinggi.

Di tangannya, pendidikan malah menjadi gaduh. Ada perubahan-perubahan kecil yang sudah terjadi, dia ingin mengajak semua guru-guru untuk mengubah paradigma dan mindsetnya dalam mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia.

Tentang peran teknologi untuk membuat pendidikan link and match dengan dunia kerja misalnya. Nadiem malah menelurkan istilah dan kebijakan 'Nikah Masal', entah bisikan apa yang didapatkannya. Sehingga mengeluarkan kebijakan dan istilah yang justru seolah melupakan sejarah pendidikan yang digagas para pendahulu.