Asah Kecerdasan Anak Melalui Dongeng

Asah Kecerdasan Anak Melalui Dongeng
Ilustrasi foto/Net

PENULIS dan sastrawan kenamaan AS Laksana pernah bertanya kepada seorang kepala sekolah di pelosok Finlandia.

“Apa yang membuat anak-anak menikmati sekolah? tanya As laksana.

“Pembacaan cerita atau dongeng,” kata Bu Kepala Sekolah.

Mendapati jawaban seperti itu, As Laksana makin penasaran. Lalu dia minta izin memotret jadwal pelajaran di sekolahnya, untuk melihat apa saja yang mereka ajarkan kepada anak-anak.

“Modersmal ini apa? Tanyanya lagi.

“Bahasa Ibu,” jawab Kepala Sekolah.

Anak-anak Finlandia ternyata belajar di sekolah 5 hari seminggu, dan pelajaran terpenting bagi anak-anak sekolah dasar adalah bahasa ibu. Untuk anak-anak tahun ketiga sampai keenam, pelajaran Bahasa ibu selalu ditempatkan pada hari senin jam pertama.

Jadi, setelah menikmati hari libur akhir pecan, mereka akan mengawali pelajaran dengan Bahasa ibu, dengan pembacaan cerita.

Cerita atau dongeng memang identik dengan anak balita, namun sejatinya tetap dibutuhkan oleh anak-anak usia sekolah. Terutama sekolah dasar, mereka masih perlu mendengarkan cerita atau dongeng.

Melalui cerita atau dongeng si anak akan terlatih menjadi pendengar dan penutur kisah yang baik. Bagaimana pengalaman hidup dapat diceritakan dan atau dituliskan dengan baik.

Tak dipungkiri, banyak orang yang lebih senang berbicara ketimbang mendengar. Lebih lantang dalam berpendapat dan mengkritik ketimbang mendengarnya. Padahal, untuk mencapai hidup seimbang, berbicara dan mendengarkan haruslah berjalan beriringan.

Apabila orangtua ingin memupuk kepribadian anak menjadi bagus, salah satunya membacakan dongeng sedari kecil.

Jika anak terbiasa mendengarkan dongeng, maka anak akan terbiasa mendengarkan orang lain berbicara dan tidak gampang memotong pembicaraan sebelum orang lain selesai berbicara.

Sikap ini membuat orang lebih merasa dihargai, sehingga sangat baik untuk pergaulan di kantor, dalam keluarga maupun bermasyarakat. Sehingga anak menjadi tumbuh sebagai pendengar yang baik di manapun ia berada. Karena di sini peran orangtua sangatlah penting.

Untuk itu, para orangtua supaya menyediakan waktu untuk membacakan dongeng di waktu luangnya. Cukup membacakan 1 dongeng yang singkat setiap hari atau beberapa hari dalam seminggu. Membacakan dongeng tidak harus di malam hari, atau siang hari, kapanpun dan di manapun juga bisa membacakan dongeng. Tidak hanya melalui nasihat orangtua, mendongeng juga bisa menumbuhkan budi pekerti pada si anak dengan membacakan, contohnya cerita rakyat.

Setelah selesai mendongeng, minta si anak untuk memberi pendapat tentang isi cerita yang didongengkan. Atau beri pertanyaan sedikit tentang isi ceritanya, supaya orangtua tahu, apakah si anak mendengarkan/fokus saat dibacakan dongeng.

Selain itu, jika di sebuah toko buku, beri kebebasan anak untuk memilih buku cerita yang ia mau, sehingga anak meminta lagi untuk dibacakan dongeng yang ia mau dan menjadi terbiasa.

Dengan kita sering membaca dan mendengarkan dongeng, pasti akan menemui kosakata yang baru, sehingga anak bisa menambah wawasan tentang kosakata, dan bisa mengenali beberapa karakter dan eksperesi di dalam cerita tersebut, baik itu sedih, senang, kecewa atau karakter yang jahat, baik dan sebagainya.

Dengan demikian, anak akan terlatih untuk mengungkapkan emosinya lewat kata-kata dan juga belajar mengerti emosi orang lain dan terbiasa mengucapkan kata-kata yang baik dan benar.

 

Selamat mendongeng!