Attitude is Everything

Attitude is Everything
Ilustrasi foto/Net

Bersikaplah menghargai orang lain jika anda ingin dihormati oleh orang lain.

SMKN 3 Tangerang punya cara sederhana namun unik untuk meningkatkan kesadaran para lulusannya akan pentingnya sikap (attitude). Saban hari, sebelum pukul 06:45 pagi, para guru diberi tugas secara bergiliran untuk menyapa para siswa di gerbang sekolah. Tak heran bila melintas Jalan Mochammad Yamin, Babakan-Tangerang, maka akan terlihat siswa-siswi SMKN 3 Kota Tangerang antrian panjang mengular rapi menanti giliran untuk bersalaman.

Tugas para guru sebetulnya sederhana, cukup menyapa mereka, melempar senyum, sambil memastikan bila sebelum proses belajar mengajar dilakukan, para siswa betul-betul siap; baik mental maupun fisik. Mereka juga secara tidak langsung diberi tugas untuk mentransfer aura positif kepada siswa, agar proses belajar mengajar lancar dan pelajaran yang disampaikan di sekolah dapat diterima dengan mudah. Semua itu dilakukan, karena SMKN 3 Tangerang sadar, bila sikap atau attitude menjadi faktor penting yang menentukan kebekerjaan para lulusannya.

Dalam konteks ini, maka meminjam perkataan praktisi pendidikan, Marlock, tak sedikit lulusan SMK yang gugur sejak awal dalam seleksi administrasi. Meski sepele, namun menurut Marlock, attitude dalam proses seleksi administrasi inilah yang menjadi penghambat utama lulusan SMK mendapat pekerjaan. Mulai dari cara menentukan foto, menjalani psiko test, kesehatan dan lainnya. Pun demikian ketika sesi wawancara, lagi-lagi persoalan attitude jadi penghambat utama.

“Dari cara mereka berbusana, komunikasi, tatap mata hingga bagaimana mereka bersikap, nilainya sangat rendah,” kata Marlock ketika menyampaikan materi presentasinya di ajang LKS Lombok.

SMKN 3 Tangerang juga menyadari bila permasalahan sebetulnya adalah sikap dan karakter anak itu sendiri. Attitute dan ditambah dengan pendidikan informal di keluarganya yang masih gausah jauh-jauh kerjanya dan lain sebaganya. “Jiwa petualanganya jiwa apa ya, pindah tempat kerja di luar negeri itu sangat sulit. Di Tanggerang mau kerja di Balaraja aja kan masih deket itu aja susah. Itu saja yang harus digempur. Memang tidak banyak tapi cukup mewarnai gitu makin kesini sih makin terkikis tapi masih tetep ada, memang tidak banyak, 10 persen aja sudah cukup mewarnai karena itu negatif kan,” ujar Hj. Endah.

Belakangan, pihak sekolah akhirnya memberi pengertian para orangtua, agar pola pikir yang sempit seperti itu dibuka. Jarak tidak masalah, yang penting anak-anak mereka bisa bekerja sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Kembali soal resep sederhana yang dimiliki SMKN 3 Tangerang, upaya tersebut juga sebetulnya dalam rangka menerapkan pembentukan karakter. Sejak masuk di pukul 06:30, siswa-siswi SMKN 3 Tangerang diminta untuk mencium tangan para guru. Setelah itu, mereka diberi wejangan khusus atau mengaji, dan berdoa.

Jika ada siswa atau siswi yang terlambat masuk sekolah, maka secara otomatis mereka akan mendapat sangsi sekolah full day. Ini menyesuaikan dengan jurusannya, misalnya jika ia jurusan tata boga maka hukumannnya adalah membantu urusan di dapur. Atau boleh juga membantu perpustakaan, boleh bantu kegiatan lain, atau dia tidak belajar namun tetap berada di sekolah.

“Setengah jam ya mungkin sampai jam 07:00. Nah yang lebih dari jam 06:45 telat seperempat mereka full day di sekolah, tapi full day dibina. Kalau jurusan tata boga suruh ke dapur sana urusan dengan guru siapa yang butuh bantuan. Boleh bantu perpustakaan, boleh bantu kegiatan-kegiatan, dia tidak belajar tapi tetap ada di sekolah,” ujarnya.

Cara tersebut merupakan upaya membuat mereka disiplin. Itu sentuhan sedikit kasar. Namun setiap pagi para guru menyapa mereka semua di depan sekolah. Dan ada tugas piket khusus kepada para guru dan pimpinan sekolah. Siapa yang bertugas, perharinya itu ada jadwal khusus. Setidaknya ada lima guru bahkan enam guru lebih untuk nyalamin anak-anak yang dateng.

“Setidaknya kita tegor senyum nak senyum gitu, setidaknya menegor itu karena penting senyum itu. Apabila ada tidak benernya ditegor langsung gitu,” ujar Hj. Endah.

Upaya lain agar lulusan SMKN 3 Tangerang memiliki attitude yang baik adalah melaui kegiatan ekstra kulikuler (eskul). Melalui ekskul mereka dibentuk karakternya. Ekskul itu adalah media mereka untuk mengekspresikan diri. “Kita punya keterampilan tapi tidak tahu caranya bagaimana berorganisasi, bagaimana caranya bersosialisasi itu kan bagaimana caranya menjual keterampilan yang ada dalam diri kita,” terang Ibu Kepala Sekolah.

Pelan tapi pasti, upaya ini menghasilkan perubahan yang baik. Dari sisi preastasi siswa SMKN 3 Tangerang ada yang berhasil di kejuaran di tingkat internasional, namanya Adam Putra Firdaus, yang meraih juara 1 ‘Hapkido Championship” tingkat Asia Tenggara 2018, di Bedok City, Singapura. Ini bahkan kali kedua bagi Adam mempersembahkan medali bagi Indonesia khussnya SMKN 3 Tangerang, sebelumnya Adam pernah meraih juara junior tingkat dunia di Jakarta.

Hapkido atau Shin So Hapkido adalah salah satu oahraga bela diri yang berasal dari Korea di samping Taekwondo. Dengan prestasi ini diharapkan memotivasi siswa lainnya untuk selalu melakukan hal terbia dalam bidang apa pun, baik akademis, kempetensi kejuruan, olahraga =, seni, maupun sosial. Prestasi lainnya misalnya adalah di kejuaraan karate.

Demikianlah attitude, atau biasa kita sebut dengan sikap, merupkan ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Beberapa yang dapat mempengaruhinya diantaranya adalah faktor kebudayaan, faktor pemahaman, dan emosional. Semuanya berkelindan membentuk sebuah sikap.

Attitude Is Everything bukan merupakan semboyan biasa, akan tetapi semboyan ini dapat menjadi salah satu motivasi bagi diri kita untuk membentuk kepribadian yang ada dalam diri kita, agar menjadi seseorang yang memiliki sikap dan kepribadian yang baik.

Maka bersikaplah menghargai orang lain jika anda ingin dihormati oleh orang lain. Sopan santun, dan saling menghargai kepada siapa saja, akan membuat jati diri dimanapun kita berada semakin lebih dihargai oleh orang lain. Begitu pula semestinya lulusan anak SMK.

Karena bila tidak, maka lahan pekerjaan yang sebetulnya diperuntukkan bagi siswa-siswi SMK justru malah diserap oleh lulusan SMA karena attitude yang lebh baik. Karena ada banyak contoh kasus bahwa baik lulusan SMK maupun SMA diterima di dunia kerja. Dari sisi skill, lulusan SMK memang unggul. Namun tak lama kemmudian, lulusan SMA pun bisa menyusul, mereka belajar dengan cepat. Lalu ketika kemampuan mereka sudah sama, attitude lah yang menjadi ukuran. Bila lulusan SMK tak memperbaiki attitude, mereka pun menjadi kalah bersaing.