Bayu Skak: SMK mengajarkan Saya Berani dan Kreatif

Bayu Skak: SMK mengajarkan Saya Berani dan Kreatif
Foto: twitter Andi F. Noya

BILA bukan karena memaksa masuk SMK, Bayu Skak mungkin tak jadi seperti saat ini; muda, terkenal, dan tentu saja berkecukupan. Satu hal lagi Bayu tak akan pernah menjadi 'Bayu Skak', melainkan 'Bayu Eko Moektito'. Kenapa begitu? Karena ‘SKAK” punya arti tersendiri dan sangat mendalam bagi Bayu.

Ya, bagi Bayu nama ‘SKAK’ memang bukan sekadar nama, melainkan simbol dari sejarah perjuangan kariernya. SKAK yang merupakan kepandangan dari ‘Sekumpulan Arek Kesel’ menggambarkan bagaimana kemudian dirinya merupakan pribadi yang tiada kenal lelah belajar dan berinovasi selama bersekolah di SMK Negeri 4 Malang, dan ketika ia memutuskan untuk menjadi seorang content creator.

Apa yang diraihnya saat ini, dan kenapa ia bisa menjadi content creator berkat dari apa yang ia pelajari di SMK. Konten-konten digital yang dibuatnya bisa diterima masyarakat luas. Kini, pria kelahiran Malang ini memiliki 1.743.388 subscriber Youtube dan 1,2 juta followers Instagram. SMK pun telah mengajarkannya untuk 'berani dan kreatif'.

Sejak sebelum masuk SMK, Bayu memang sudah memulai perjalanan di dunia content creative sejak SMP. Karena itulah ketika lulus SMP ia langsung memutuskan masuk SMK. Pikirnya, karena ia suka menggambar, maka meski wakttu orangtuanya ingin ia masuk SMA, Bayu tetap mantap milih SMK.

"Ketika saya SMP saya tuh mikirnya wis sok mben aku ora gelem (Saya selalu tidak mau) masuk sekolah yang isinya tuh ketemu lagi sama pelajaran lagi, aku penginnya yang isinya tuh uwis gambar tok (gambar saja). Akhirnya yo wes ketemu sama animasi aku liat selembaran kan dari temen-temen, wah ada animasi nih gambar-gambarnya toh wis milih ini wae," ujar Bayu Skak.

Bagi Bayu, lebih baik melakukan apa yang disukainya agar belajar dengan benar. Daripada melakukan yang tidak disukai, akan terpaksa jadinya. Dan nyatanya, pilihan itupun tidak salah. Bukan sekadar pengetahuan dan skill yang didapatnya dari SMK, namun soal mental dan kreativitas juga ia peroleh.

"Jangan pernah minder karena kamu itu anak SMK. Dulu bisa dibilang jam sekolah itu lebih panjang, tapi dari situ saya digembleng untuk bisa ke depannya punya sesuatu yang bisa ditontonkan semua orang. Sekarang saya memetik buah dari situ. Banyak sekali hal di luar dari pelajaran sekolah yang diajarkan di SMK khususnya di animasi ini," kata pembuat film Yowis Ben ini.

Apa yang ia peroleh selama di SMK juga membuat Bayu Skak kini menjadi ikon di media sosial. Ia belajar membangun rasa percaya diri hingga mampu bicara di depan publik, semua dari SMK. Sebagai content creator, telah banyak video yang diunggahnya ke situs berbagi video Youtube, maupun lini media sosial lainya. Bahkan film hasil garapannya sudah ditonton Mendikbud dan Presiden Joko Widodo.

Bayu mengaku tidak mudah baginya mewujudkan film tersebut. Apalagi film Indonesia mengikuti kemauan pasar. Ditambah film karyanya menggunakan bahasa Jawa. Banyak production house (PH) yang menyarankan Bayu menggantinya ke bahasa Indonesia. Namun, Bayu tetap bertahan dan akhirnya ada satu PH yang sanggup mewujudkan impiannya.

"Beliau (Jokowi) bilang ketika setelah nonton Bayu bagus filmnya. Saya enggak usah nonton subtitle-nya. Saya bisa paham saya bisa nonton dengan nyaman, tapi syukurlah kamu beri subtitle bahasa Indonesia agar saudara-saudara kita dari jauh juga bisa nonton film ini dan saya harap juga ke depannya bermunculan juga film-film berbahasa daerah lainnya.' Seperti yang saya bilang visi misi saya sudah terbaca oleh bapak," ujar Bayu mengutip perkataan Presiden.

Kini, Bayu Skak didaulat sebagai duta SMK. Ia mengemban tugas datang ke beberapa SMK yang direvitalisasi. Setiap tahun akan ada kompetisi antarsiswa SMK. Termasuk yang telah dihelat di Lombok beberapa saat yang lalu.

"Jangan takut-takut, jangan minder. Jika kalian punya kreasi, mengingat saat ini era digitalisasi. Manfaatkan era digital dan kita bisa memamerkan karya kita seperti ini," katanya penuh semangat.

[Mrf]