Belajar dari Kondisi Malaysia

MONDAYREVIEW.COM – Negara-negara di kawasan Asia khsusunya Asia Tenggara harus belajar banyak dari kasus mega skandal yang terjadi di Malaysia. Miliaran dolar dari dana negara terancam lenyap sistem keuangan global. Kesejahteraan dan stabilitas ekonomi Malaysia yang dikenal kuat selama lebih dari 30 tahun tiba-tiba goyah.

Indonesia yang tengah menghadapi pemilihan umum juga harus bisa mengambil hikmah dari peristiwa yang menimpa negeri jiran. Kekuasaan akan membutakan. Kepercayaan rakyat pada pemimpin rentan dikhianati dan dicederai. Sebesar apapun jasa keluarga Najib pada negeri itu tak berarti ia bisa melakukan tindakan yang merugikan negara dan rakyatnya. Pun siapa yang kelak akan memenangkan pemilu di Indonesia.

Skandal korupsi telah membusukkan kekuasaan politik di Malaysia. Rezim penguasa terbukti telah melakukan tindakan-tindakan yang memberi peluang kepada para petinggi untuk menumpuk kekayaan pribadi.  Menurut jaksa AS dan Malaysia, uang hasil korupsi itu mengendap direal estat mewah, jet pribadi, karya seni Van Gogh dan Monet . Bahkan sebagian untuk biaya produksi film  blockbuster Hollywood.

Investasi yang seharusnya menjadi dana abadi yang akan menjamin kesejahteraan rakyat Malaysia lari ke kantong pribadi. Penjarahan 1MDB dilakukan secara sistematis dan masif. Jumlah investasi yang sangat besar seharusnya ditanam di bisnis-bisnis yang aman sekaligus menguntungkan rakyat Malaysia.   

Setidaknya enam negara menyelidiki jaringan besar transaksi keuangan yang membentang dari bank Swiss ke pulau bebas pajak hingga jantung Asia Tenggara.  Gurita investasi ini terbongkar manakala Sang Penguasa tumbang. Tak kurang dari Goldman Sachs, salah satu bank paling kuat di Wall Street, menghadapi dakwaan kriminal di Malaysia. Keterlibatan entitas bisnis yang memiliki reputasi bergengsi secara internasional menggambarkan betapa ‘uang haram’ itu telah menyeruak ke nadi perekonomian dunia.    

Sementara itu dari kalangan pengusaha ada sorotan yang sangat kuat pada sosok sang Playboy buronan yang didakwa di AS dan Malaysia masih dalam pelarian - kapal pesiar mewahnya yang bernilai $ 250 juta di tangan pihak berwenang.

Semua mata tertuju pada ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, tempat mantan perdana menteri dan mantan ketua dewan penasehat 1MDB, Najib Razak, akan diadili dalam kasus pertama dari beberapa kasus terhadapnya. Wajah Malaysia muram. Apalagi kesalahan yang dilakukan Najib diduga tidak ringan. Bukan lagi nila setitik yang merusak susu sebelanga.

Mantan perdana menteri Malaysia: orang yang dulunya tak tersentuh yang mendirikan dana kedaulatan pada tahun 2009 untuk mendorong pembangunan ekonomi bangsanya ini bukan orang sembarangan. Ia adalah putra sulung perdana menteri kedua Malaysia, Abdul Razak. Penerus satu dinasti politik yang sangat dihormati negeri itu.

BBC mencatat bahwa Najib menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya di Malvern College Inggris, sebuah sekolah swasta bergengsi, sebelum belajar ekonomi industri di Universitas Nottingham. Latar belakang itu dan retorikanya tentang pentingnya "moderat" Islam membuatnya cocok secara alami dengan orang-orang sezaman Barat termasuk David Cameron dan Barack Obama.

Kesepakatan kapal selam Perancis dibuat pada tahun 2002 ketika ia menjabat menteri pertahanan. Diduga bahwa sejumlah suap $ 130 juta telah dibayarkan sebagai bagian dari kesepakatan $ 1,2 miliar.  Pembunuhan mengerikan model Mongolia yang berfungsi sebagai penerjemah bagi kesepakatan kapal selam itu menimbulkan pertanyaan lebih lanjut. Investigasi Perancis berlanjut sementara pemerintah baru Malaysia baru-baru ini membuka kembali penyelidikannya. Najib menegaskan dia tidak pernah bertemu wanita itu.