Benarkah Orang Kulit Hitam di AS Lebih Banyak Terpapar Covid-19?

Benarkah Orang Kulit Hitam di AS Lebih Banyak Terpapar Covid-19?
ilustrasi afro-america/ net

MONDAYREVIEW.COM – Amerika Serikat sedang berada dalam sutuasi paling mencekam terkait wabah Covid-19. New York menjadi episentrum wabah. Kota-kota lain juga mulai meningkat angka korban yang berjatuhan. Lebih banyak kota dalam peta AS yang ditandai merah yang menunjukkan tingginya angka penderita dan korban jiwa.

Disamping faktor usia ternyata ada dugaan perbedaan persentase mencolok jumlah korban berdasarkan ras. Orang Afro-Amerika atau kulit hitam diduga paling banyak terpapar dan tewas oleh virus corona di kota-kota di seluruh AS. Demikian laporan Deborah Barfield Berry dari USAToday.

Angka kasus dan jumlah kematian terkait Covid-19 melonjak di kota-kota dengan populasi kulit hitam yang signifikan, termasuk New Orleans, Detroit dan New York. Kelompok-kelompok hak sipil, anggota parlemen Demokrat dan Gedung Putih meminta pejabat kesehatan federal untuk merilis data rasial untuk memastikan ketersediaan sumber daya dan informasi sehingga dapat menjangkau setiap komunitas yang terkena dampak wabah.

Di Michigan, jumlah orang Afrika-Amerika hanya menyumbang 14% dari populasi negara bagian, tetapi data menunjukkan 33% kasus COVID-19 dan 41% kematian berasal dari mereka.

Di Louisiana, salah satu negara bagian yang paling terpukul di AS, 70% kematian terkait dengan virus corona adalah Afrika-Amerika dan 29% berkulit putih, menurut departemen kesehatan negara bagian itu. Hingga Senin (6/4/2020), ada 14.867 kasus di seluruh negara bagian dan 512 kematian. Afrika-Amerika membentuk 32% dari populasi negara bagian.

Orang Afrika-Amerika mungkin rentan terhadap komplikasi dari coronavirus karena banyak yang cenderung menderita kondisi kesehatan yang mendasarinya, termasuk asma dan diabetes. Tetapi para advokat juga khawatir bahwa kaum minoritas di AS tidak menerima informasi yang memadai tentang penyakit tersebut, atau akses ke pengujian.

Pejabat New Jersey merilis data pertambahan 729 dari 1.232 kematian di negara bagian tersebut. Dari mereka, 60% berkulit putih, 24% berkulit hitam, 5% Asia, dan 11% lainnya. Gubernur New Jersey Phil Murphy mengatakan tujuannya adalah untuk menambahkan lebih banyak data rasial untuk memastikan semua penduduk mendapatkan perawatan yang tepat.

Pakar utama virus corona departemen itu, Dr. Alex Billioux, mengatakan tingginya angka kematian orang Afro-Amerika kemungkinan merupakan akibat dari populasi kulit hitam Louisiana yang menderita sejumlah kondisi mendasar yang berkontribusi terhadap kematian COVID-19, seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan kegemukan. Billioux mengatakan negara akan melakukan lebih banyak penelitian ke dalam disparitas dan membentuk strategi untuk mengatasinya.

Masyarakat kulit berwarna telah lama menghadapi kesenjangan dalam sistem perawatan kesehatan sebagian karena diskriminasi, kesehatan yang buruk dan cakupan asuransi yang tidak memadai. Ini khususnya telah melukai orang-orang Afrika-Amerika di Ujung Selatan, tempat sebagian besar penduduk kulit hitam negara itu terkonsentrasi, kata para pakar kesehatan.

Kristen Clarke, presiden Komite Pengacara untuk Hak Sipil di Bawah Hukum, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, D.C. menekankan pada UU Hak Sipil, yang melarang lembaga yang didanai federal, termasuk penyedia layanan kesehatan, dari diskriminasi berdasarkan ras. Memiliki data adalah kunci untuk menentukan apakah ada kepatuhan lembaga-lembaga Pemerintah terkait anti diskrimanasi rasial.

Para pejabat mengatakan data itu juga dapat membantu memastikan pesan-pesan yang dapat dipercaya sampai ke masyarakat kulit hitam. Mengikis mitos bahwa orang Afrika-Amerika tidak bisa terinfeksi virus corona. Di awal memang ada hasil pengujian yang menunjukkan banyak orang tua kulit putih Amerika yang lebih banyak terpapar.

Di beberapa komunitas, pesan jarak sosial tampaknya tidak efektif. Orang-orang masih bermain bola basket, mengadakan pesta kartu dan mengadakan acara menginap