Bersikap Adil Terhadap Jejak Digital Gibran

Bersikap Adil Terhadap Jejak Digital Gibran
Sumber gambar: merdeka.com

MONDAYREVIEW.COM - Pencalonan Gibran menjadi buah bibir atau trending topic di kalangan netizen akhir-akhir ini. Keputusan Gibran mencalonkan diri sebagai walikota Solo melahirkan polemik. Kubu pendukung dan pembenci Gibran adu argumen di media sosial. Yang mendukung beralasan bahwa Gibran mempunyai hak politik untuk mencalonkan diri. Sementara yang menolak pencalonan Gibran berpandangan bahwa Gibran telah mengingkari kata-katanya sendiri.

Kelompok yang tidak suka Gibran maju menguggah jejak digital berita yang dimuat di kumparan.com. Isi berita lama tersebut adalah pernyataan Gibran tidak minat masuk dunia politik. Gibran juga mengatakan bahwa kasihan rakyat jika ada dinasti politik. Pernyataan itu keluar pada saat launching Markobar usaha martabak yang dirintis oleh Gibran. Saat Gibran memutuskan untuk mencalonkan diri, Gibran menjadi bulan-bulanan netizen.

Benarkah Gibran tidak konsisten atau menelan ludah sendiri atas pertanyaannya? Mari kita kaji secara kritis dan dengan pikiran yang jernih. Pertama apa yang dinyatakan oleh Gibran adalah sebuah kalimat berita berupa opini. Gibran mengeluarkan opini bahwa dinasti politik itu bisa merugikan rakyat. Dia juga beropini bahwa dirinya tidak berminat masuk dunia politik. Ingat yang keluar dari mulut Gibran bukanlah janji ala politisi. Gibran tidak mengatakan saya berjanji tidak akan maju. Karena Gibran tidak berjanji apapun, maka tak ada yang diingkari Gibran.

Kedua, yang tidak setuju Gibran mencalonkan diri beralasan bahwa Gibran sudah mengeluarkan pernyataan seperti yang terekam dalam jejak digital. Kalau Gibran menyalahi pernyataan itu, artinya Gibran tidak konsisten. Masalahnya adalah, manusia adalah makhluk yang terus belajar dan berkembang mencari pengetahuan dan pengalaman baru. Karena itu perubahan pemikiran bagi seorang manusia bukanlah suatu aib, selama semua pemikiran itu adalah baik. Dalam masyarakat kita ada istilah berubah pikiran. Kita sendiri pernah mengalami berubah pikiran terhadap suatu hal. Apakah salah jika Gibran berubah pikiran?

Boleh jadi saat periode pertama ayahnya menjadi presiden Gibran memang tidak ada niat untuk maju ke dunia politik. Namun kita pasti selama itu Gibran banyak belajar, bertemu orang, mendapat masukan, yang membuat akhirnya Gibran memutuskan maju ke dalam dunia politik. Apakah ini salah? Tidak. Baik fokus di bisnis maupun masuk ke dunia politik dua-duanya benar. Ini hanya soal pilihan saja. Yang salah itu inkonsistensi soal moralitas. Misalnya kemarin saya mengatakan korupsi itu buruk. Tapi hari ini saya korupsi. Ini baru salah. 

Ketiga adalah soal pemaknaan dinasti politik. Klarifikasi Gibran di media sudah benar, bahwa memang proses dia maju pilkada bukanlah suatu dinasti politik. Karena yang menentukan dia terpilih atau tidak adalah rakyat, bukan ayahnya yang sekarang menjabat sebagai presiden. Ini yang kurang dipahami oleh masyarakat kita hari ini. Kita bisa berdebat secara etis, apakah pantas petahana mencalonkan kerabatnya untuk meneruskan kekuasaannya? Namun secara legal formal, hukum kita memungkinkan untuk itu. Kecuali kalau memang DPR membuat undang-undang untuk melarang kerabat petahana mencalonkan diri. 

Keempat, dibanding terus menerus mempersoalkan soal dinasti politik, lebih baik masyarakat fokus menilai dan menyoroti kapasitas Gibran secara objektif. Silahkan berikan masukan jika memang dalam diri Gibran masih ada yang perlu diupgrade untuk bisa menjadi pemimpin. Yang jelas kita berharap sebagai milenial, Gibran bisa memberikan nuansa baru dalam kepemimpinannya. Membawa perubahan yang konkret bukan gimmick belaka.