BPS : Angka Kemiskinan Turun ke 9,82%

BPS : Angka Kemiskinan Turun ke 9,82%
ilustrasi (c) pinterest

MONDAYREVIEW-  Badan Pusat Statistik (BPS) merilis sebuah laporan melalui situsnya terkait menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Laporan yang dirilis 16 Juli 2018 ini setidaknya menumbuhkan optimisme bagi Indonesia untuk semakin menekan kesenjangan ekonomi dalam masyarakat. Sebagaimana amanat konstitusi untuk membangun Indonesia yang adil dan makmur.

BPS menyebutkan bahwa pada bulan Maret 2018, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 25,95 juta orang (9,82 persen), berkurang sebesar 633,2 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2017 yang sebesar 26,58 juta orang (10,12 persen).

Sementara itu terkait penurunan angka kemiskinan antara penduduk perkotaan dan pedesaan BPS mengungkapkannya sebagai berikut.  Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2017 sebesar 7,26 persen, turun menjadi 7,02 persen pada Maret 2018. Sementara itu, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2017 sebesar 13,47 persen, turun menjadi 13,20 persen pada Maret 2018.

Dilihat dari prosentase, penduduk miskin yang berada di pedesaan menunjukkan angka yang lebih dominan. Hampir dua kali lipat dari prosentase penduduk miskin di arena urban. Prosentase penurunan angka kemiskinan sebesar 0,27 persen dibanding tahun 2017 menjadi sinyal bagi pemerintah untuk semakin mengintensifkan berbagai program pengentasan kemiskinan termasuk diantaranya Program Dana Desa.    

Selama periode September 2017–Maret 2018, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 128,2 ribu orang (dari 10,27 juta orang pada September 2017 menjadi 10,14 juta orang pada Maret 2018), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 505 ribu orang (dari 16,31 juta orang pada September 2017 menjadi 15,81 juta orang pada Maret 2018).

Hal menarik yang diungkapkan BPS adalah peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2018 tercatat sebesar 73,48 persen. Angka ini naik dibandingkan kondisi September 2017, yaitu sebesar 73,35 persen.

Dalam hal ini, jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, dan gula pasir. Sedangkan komoditi nonmakanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

(MTA)