BRI dan Misi Penyelamatan UMKM

 BRI dan Misi Penyelamatan UMKM
fitur UMKM/ web bri

MONDAYREVIEW.COM –  Publik masih meragukan apakah upaya penyelamatan UMKM dapat segera terwujud. Keraguan itu cukup beralasan mengingat dana triliunan Rupiah untuk berbagai skema itu bukan tidak mungkin akan lama mengendap di sektor finansial khususnya perbankan. Pada akhirnya perbankanlah yang diselamatkan terlebih dahulu.

Jika ada perbankan yang paling berpengalaman dalam menyentuh UMKM tak salah kiranya kita alamatkan ke Bank Rakyat Indonesia(BRI). Dan Bank plat merah ini mengaku hingga kini sudah menyelamatkan lebih 2,8 juta pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Di mana, bantuan berupa restrukturisasi kredit itu mencapai total nilai Rp 180 triliun.

Menurut Pihak BRI nasabah-nasabah yang terdampak yang omzetnya sudah turun 20 persen itu sudah mulai dicermati dan mulai dibuatkan skema-skema yang menolong mereka agar tidak semakin jatuh. Termasuk UMKM-UMKM yang selama ini berkontribusi dalam perekonomian nasional.

BRI mengerjakannya dalam waktu yang cepat. BRI mengaku digitalisasi menuntun pihaknya bisa melakukan penyelamatan yang luar biasa dalam tempo yang singkat. Di mana, layanan seperti BRISPOT, BRILink mengantisipasi aktivitas bertatap muka langsung dengan nasabah UMKM.

Banyak yang dilakukan modelnya mulai penundaan pokok, penurunan suku bunga dan penundaan bunga, ini adalah bagian-bagian penyelamatan para pelaku usaha UMKM.

Di tengah pandemi virus Corona saat ini, pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mengalami banyak tantangan dalam menjalankan usahanya. Untuk membantu para pelaku UMKM memulihkan bisnisnya, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menghadirkan produk pinjaman baru, yaitu Kupedes Bangkit. Singkatnya, Kupedes Bangkit adalah produk pinjaman khusus bagi para pelaku UMKM berupa tambahan modal usaha.

Selain penyelamatan dalam bentuk restrukturisasi dan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, BRI dengan program subsidi bunga bertujuan untuk membantu para pelaku UMKM agar bertahan dan selamat menghadapi krisis pandemi yang belum pasti kapan berakhirnya.

Subsidi bunga sangat bermanfaat bagi pelaku usaha UMKM, untuk memperpanjang napas UMKM yang sudah tidak punya tabungan, atau usahanya jatuh hingga 30 persen, serta modal kerja yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Selain itu, penyerapan kredit memang bergantung pada permintaan atau demand yang ada dibutuhkan oleh nasabah UMKM BRI. Awalnya permintaan kredit masih rendah sebelum pandemi, baik di pedesaan maupun perkotaan. Namun setelah pandemi untuk wilayah perkotaan saja menjadi 94 persen yang asalnya di bawah 12 persen.

Di kota-kota besar baru bangkit permintaannya itu bulan Juli kemarin, seperti Jakarta Tangerang, Bogor itu masih di bawah 12 persen, sekarang sudah 94 persen artinya seluruh Nusantara permintaan kredit sudah mulai tinggi kembali. Hampir 60 triliun KUR BRI tersalurkan.

Peningkatan kredit itu didukung oleh terobosan-terobosan yang dilakukan BRI dengan melihat perubahan perilaku masyarakat, yang sekarang mengakses program-program digital BRI dengan mudah dan terbuka lebar melalui ponsel. Sehingga memudahkan penyaluran KUR BRI kepada nasabah seperti melalui e-commerce Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Ada juga pelayanan secara konvensional melalui menteri-menteri BRI, yang sudah disebar di setiap desa di seluruh Indonesia. Sehingga masyarakat tidak jauh-jauh keluar dari desanya. Di setiap 350 kepala keluarga ada 1 agen Brilink mereka juga menjadi pintu masuk atau akses masyarakat untuk mendapatkan layanan-layanan BRI, termasuk layanan kredit usaha rakyat.

Sementara itu anggota Komisi XI DPR RI Rudi Hartono Bangun menginginkan bank-bank, yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), mempercepat penyaluran dana pinjaman kepada pelaku UMKM setelah memperoleh penempatan uang negara sebesar Rp30 triliun dari pemerintah.

Percepatan penyaluran dana ke UMKM) ini penting karena mereka tumpuan ekonomi kita yang sebagian besar berasal dari sektor konsumsi. Dana yang berasal dari dana percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN) ini, juga harus cepat disalurkan untuk menghindari ekonomi kita dari jurang resesi.

Perbankan BUMN perlu meningkatkan kontribusi dalam meningkatkan kesejateraan UMKM melalui sinergi dengan BI, OJK dan Pemerintah Daerah. Dukungan perbankan pada UMKM diharapkan bukan saja meningkat dari sisi kuantitas, namun juga dari kualitas kredit dan layanan kepada UMKM yang urgen untuk diperhatikan.

Kementerian BUMN mengungkapkan bank-bank Himbara telah selesai melaksanakan restrukturisasi kredit sebesar Rp441 triliun dalam waktu 3,5 bulan. Untuk UMKM itu mulai dari KUR sebesar Rp51 triliun, kemudian sektor mikro sebesar Rp74 triliun, lalu untuk sektor SME sebesar Rp104,6 triliun, sehingga totalnya hampir Rp230 triliun.

Total restrukturisasi kredit Rp441 triliun yang diselesaikan oleh bank-bank Himbara tersebut terdiri dari total restrukuturisasi kredit Rp171,9 triliun yang diselesaikan oleh bank BRI, kemudian Mandiri Rp112,4 triliun, BNI Rp120,2 triliun, dan bank BTN Rp36,46 triliun.

Sebelumnya, Kementerian BUMN mencatat realisasi penyaluran dana pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) telah mencapai Rp43,5 triliun per 22 Juli 2020 atau 145 persen dari total dana yang ditempatkan pemerintah.

Pada kesempatan lain Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo dalam Kajian Tengah Tahun Seri 3 Indef yang ditayangkan secara daring, Selasa (28/7/2020), mengatakan penyaluran kredit meningkat secara signifikan setelah sebulan program itu bergulir.