Bullying Menyerang Anak, Berikut Jenisnya Yang Harus Diketahui Orangtua

Bullying Menyerang Anak, Berikut Jenisnya Yang Harus Diketahui Orangtua
Ilustrasi foto/Net

MONDAYREVIEW - Bullying atau juga dikenal dengan istilah perundungan nampak seperti sebuah kejadian demi kejadian yang tak pernah putus. Ia kerap mewarnai dunia pendidikan Indonesia yang semakin lama semakin morat-marit ditimpa isu moral yang semakin terjun bebas.

Keberadaan media sosial, yang mestinya menjadi sarana bertukar informasi sehat, disalahgunakan sebagai ajang untuk menghina, menindas, merundung, menyudutkan, dan melakukan aksi bullying.

Ada faktor online disinhibition effect yang membuat media sosial berubah wujud menjadi amat menyeramkan. Pun demikian dengan faktor anonimitas, minimnya otoritas dan afirmasi, telah mendorong maraknya budaya bullying. Yang paling mengkhawatirkan tentu adalah perundungan kepada anak. Baik di media sosial, maupun dunia nyata.

Pakar Neuropsikologi Ihsan Gumelar membagi kegiatan perundungan menjadi tiga kategori. Pertama, bullying fisik, yaitu aksi bullying berupa memukul, menendang, menampar dan apa pun yang sudah bersentuhan dengan tubuh antara pelaku dan korban sekalipun dilakukan dengan alat.

Kategori kedua, kata Ihsan, adalah bullying psikologi. Perundungan dalam konteks ini adalah lebih banyak bersifat verbal, seperti memberikan gelar-gelar yang negatif (si gendut, si bodoh, si pendek, si pesek). “Hal seperti ini lebih dikategorikan kepada bullying yang bersifat psikologis,” ujar Ihsan kepada mondayreview.com, ditulis Selasa (8/5/2018).

Bentuk perundungan selanjutnya atau yang ketiga menurut alumnus Toronto University ini adalah cyber bullying (bully dunia maya). Kata Ihsan, jenis perundungan ini kian meroket seiring dengan perkembangan media sosial dan teknologi.

Ihsan menjelaskan bila perundungan model ini akibatnya menjadi lebih luas lantaran dapat dilihat teman-temannya di media sosial, dan bahkan disaksikan oleh orang di seluruh dunia. “Tidak sedikit jumlahnya anak-anak Indonesia hari ini mengalami depresi disebabkan karena cyber bullying ini,” terang Ihsan.