Dampak Mundurnya AS dari Treaty on Open Skies

Dampak Mundurnya AS dari Treaty on Open Skies

 

MONDAYREVIEW.COM –  Salah satu upaya mengurangi risiko perang adalah menjalin kesepakatan agar saling percaya. Termasuk izin untuk mengintip kekuatan lawan potensial. Dengan demikian kedua belah fihak melihat dengan mata kepala sendiri kekuatan lawannya. Itulah kurang lebih substansi kesepakatan Langit Terbuka yang disepakati 35 negara.  

Hingga medio Mei lalu segalanya berubah. Amerika Serikat secara mengejutkan menarik diri dari perjanjian. Alasannya Rusia sudah melakukan pelanggaran atas isi kesepakatan. Pada 22 November 2020, sumber resmi Amerika Serikat — termasuk situs web Departemen Luar Negeri AS, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, dan akun Twitter resmi Dewan Keamanan Nasional — mengumumkan bahwa periode enam bulan telah berakhir dan AS tidak lagi menjadi pihak dalam Perjanjian Traktar Langit Terbuka.

Transparansi yang diyakini akan melandasi sikap saling percaya ambyar sudah tatkala AS menyatakan mundur. Negara adikuasa ini memiliki kekuatan dan teknologi persenjataan yang paling kuat di dunia dan kehadiran serta perannya dalam traktat sangat berarti. Kawan dan lawan AS sama banyaknya.

Efektif sejak 2002, traktat ini dianggap satu di antara landasan mekanisme kontrol senjata global, guna mengurangi kemungkinan pecahnya konflik militer akibat kurangnya transparansi. Perjanjian ini menetapkan program penerbangan pengintaian udara tak bersenjata di seluruh wilayah pesertanya.

Perjanjian tersebut dirancang untuk meningkatkan saling pengertian dan kepercayaan dengan memberikan semua peserta, terlepas dari ukurannya, peran langsung dalam mengumpulkan informasi tentang kekuatan militer dan kegiatan yang menjadi perhatian mereka.

Gagasan yang memungkinkan negara-negara untuk saling mengawasi secara terbuka dianggap dapat mencegah kesalahpahaman (yaitu untuk meyakinkan lawan potensial bahwa negara seseorang tidak akan berperang) dan membatasi peningkatan ketegangan.

Kesepakatan ini juga memberikan pertanggungjawaban bersama bagi negara-negara untuk menindaklanjuti janji kesepakatan. Open Skies adalah salah satu upaya internasional paling luas hingga saat ini yang mempromosikan keterbukaan dan transparansi pasukan dan aktivitas militer.

Konsep "pengamatan udara bersama" pada awalnya diusulkan kepada Perdana Menteri Soviet Nikolai Bulganin pada Konferensi Jenewa tahun 1955 oleh Presiden AS Dwight D. Eisenhower ; Namun, Soviet segera menolak konsep tersebut dan dipetieskan selama beberapa tahun.

Perjanjian tersebut akhirnya ditandatangani sebagai inisiatif dari presiden AS (dan mantan Direktur Badan Intelijen Pusat) George HW Bush pada tahun 1989. Perjanjian ini tidak terkait dengan perjanjian langit terbuka penerbangan sipil.

Sementara itu Pemerintah Rusia, Belarus, dan Tiongkok telah merasa menyesalkan atas keputusan Amerika Serikat (AS) yang menarik diri dari Traktat Langit Terbuka. Amerika Serikat secara resmi menarik diri pada 22 November 2020.

Pernyataan ketiga negara tersebut sehubungan dengan partisipasi pada pertemuan yang diadakan negara-negara peserta pada Traktat Langit Terbuka melakukan pertemuan di Wina (Austria) untuk menilai akibat penarikan AS dari Traktat tersebut dan menekankan: “Langkah ini mungkin merusak secara serius struktur keamanan dan sistem kontrol senjata di seluruh Eropa”.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Rusia dan Belarus  selaku negara anggota dari traktat ini, bersedia melakukan dialog berdasarkan prinsip kesetaraan dan saling menghormati untuk mengusahakan solusi komprehensif  bagi pelaksanaan permufakatan tanpa ultimatum dan memperhitungkan kepentingan serta kekhawatiran semua pihak.

Pada Mei lalu, Presiden AS, Donald Trump menyatakan penarikan AS dari Traktat Langit Terbuka dengan alasan Rusia tidak menaati traktat ini. Moskow telah berulang kali menolak tuduhan ini. Traktat Langit Terbuka ditandatangani pada 1992 dan mulai berlaku pada 2002. Ada 35 negara yang telah menandatangani traktat ini, termasuk Rusia dan AS.

China sangat menyesalkan keputusan Amerika Serikat (AS) yang bersikeras mundur dari Traktat Langit Terbuka (Treaty on Open Skies) kendati mendapatkan penolakan dari masyarakat internasional, ungkap seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China pada Senin (23/11).

Juru Bicara Kemenlu China Zhao Lijian menyampaikan hal itu saat dimintai komentar mengenai pengumuman AS yang akan mundur dari Traktat Langit Terbuka, sebuah perjanjian kontrol persenjataan internasional utama.

Zhao mengatakan keputusan AS tersebut akan merusak kepercayaan militeristik timbal balik dan transparansi antara negara-negara di kawasan itu, dan tidak akan kondusif bagi keamanan dan stabilitas regional.

Keputusan itu akan berdampak negatif pada kontrol persenjataan dan proses pelucutan senjata internasional. Tiongkok menyerukan kepada AS untuk mengakomodasi kekhawatiran sejumlah pihak terkait, termasuk Rusia, serta masyarakat internasional dengan bijak, dan untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada melalui dialog.

Mundur secara gegabah dari perjanjian internasional bukanlah tindakan yang pantas bagi sebuah negara besar. Perjanjian multilateral ini secara mendasar memungkinkan pesawat pengintai terbang tak bersenjata melintas di wilayah-wilayah udara peserta perjanjian. Tujuannya menjaga transparansi guna mencegah pecahnya konflik internasional.  Contoh prakteknya, pesawat intai Rusia diizinkan terbang di wilayah udara AS dan sebaliknya.