Di Ujung Pertarungan Biden vs Trump

Di Ujung Pertarungan Biden vs Trump
Trump dan Biden/ net

MONDAYREVIEW.COM – Setelah dipimpin oleh Barack Obama yang relatif muda kini AS dipastikan akan dipimpin golongan tua. Dua petarung gaek kini tengah berlaga di pilpres AS. Dua sosok yang menjadi simbol orang kuat di negara adikuasa. Kakek Biden sudah berusia 78 tahun vs Eyang Trump yang kini menginjak 74 tahun. Dua politisi yang terwakili pepatah tua tua keladi. Makin tua makin jadi. Argumen politisi tua pasti soal menang pengalaman alias kenyang dengan asam-garam kehidupan politik.

Didukung pula oleh adagium yang manyatakan bahwa seorang politisi akan mati sebagai politisi. Sekuat mungkin akan bertahan di singgasana kekuasaan. Kecuali terguling, tak terpilih lagi, atau masuk hotel prodeo. Atau sakit permanen yang masuk kategori tak bisa menjalankan tugas sebagaimana mestinya.   

Alotnya laga dua petarung senior ini sedang ramai dibahas media seantero jagad. Penghitungan suara pada pilpres AS kali ini banyak terkendala oleh aturan yang berbeda menyesuaikan dengan kondisi pandemi. Banyak suara dikirim lewat pos. Perlu waktu untuk memprosesnya. Tak seperti pilpres sebelumnya, biasanya malam setelah pemilihan sudah jelas siapa jawaranya. Gajah Republikan atau Keledai Demokrat. Kali ini kubu Gajah sudah ajukan gugatan hukum ketika skor sementara 253 vs 214 versi CNN dan 264 vs 213 versi Google/ Assosiated Press. Tuduhan curang tanpa dasar dilontarkan petahana tanpa dasar yang jelas.

Pilpres alot ini sebenarnya tak hanya menghadirkan dua pria gaek. Ada calon perempuan dari partai libertarian, calon dari partai hijau, dan calon dari independen lainnya yang jadi pelengkap pesta demokrasi di negara simbol kebebasan ini. Tapi yang nyata bertarung ketat ya dua koboi tua ini.

Basis-basis suara Partai Republik goyah. Pennsylvania dan Georgia hingga tiga hari pasca pencoblosan menunjukkan kemenangan tipis Biden. Menunggu akhir penghitungan suara menjadi hal yang sangat menegangkan. Kecuali di Negara Bagian Nebraska dan Maine, aturannya ‘ the winner takes all’. Jika Biden yang mendapat suara terbanyak maka semua jatah dewan elektoral akan diborongnya.

Di Nebraska proyeksinya 4 dewan elektoral diambil Trump dan 1 untuk Biden. Sementara di Maine 3 kursi dewan elektoral akan diambil Biden. Tak telalu menentukan juga alias impas 4 lawan 4.

Biden politisi kawakan yang lahir tahun 1942. Dalam usia 30 dia sdh menjadi senator termuda dari Delaware. Itu artinya di tahun 1972 ia sudah menempati menjadi elit politik papan atas di negara kiblat demokrasi ini.

Istri dan anak perempuannya tewas dalam kecelakaan. Dua anak lelakinya terluka namun tak sampai kehilangan nyawa. Biden sempat ingin mundur mengurus dua anaknya. Bujukan pimpinan partai membuatnya bertahan sebagai politisi Demokrat penuh integritas.

Biasanya sosok seperti Biden ini yang maju menjadi kandidat Republik. Kepala keluarga yang menjunjung tinggi moralitas dan peduli pada nilai-nilai yang boleh dikata konservatif. Walau Biden sempat menggugat Tuhan saat istri dan anaknya tewas namun ia tetap seorang Katolik yang mengikatkan diri pada gereja.

Biden tak terlalu menonjol di mata komunitas internasional. Meski ia pernah menjadi wapresnya Obama. Ia juga tak sepenuhnya sempurna. Pernah didera isu plagiat membuat Biden sempat mundur selangkah dari kontestasi politik.     

Di sisi lain banyak orang mengagumi sekalipun tak menyukai Trump yang arogan, kadang rasis dan diskriminatif ucapan dan kebijakannya. Dengan segala kontroversinya ia populer. Popularitas yang pada gilirannya mendongkrak elektabilitasnya. Sebelum pandemi ekonomi AS meroket tajam dan pengangguran pun turun signifikan. Ia berani konfrontasi perang dagang menghadapi Tiongkok yang menjadi musuh klasik AS.

Kebijakan Trump layaknya panglima perang. Protektif dalam kebijakan imigrasi, ekonomi, dan banyak hal lainnya. Ia sangat lugas mendukung Israel. Bahkan menginisiasi agar Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan menormalisasi hubungan dengan sekutu terkuat AS di Timur Tengah itu dalam skema Abraham Accord.  

Besar kemungkinan Biden akan diumumkan sebagai pemenang dalam beberapa jam ke depan. Dunia berharap pandemi segera berlalu dan situasi berubah menjadi stabil. Perang dagang telah menggoyahkan perekonomian dunia. Membawanya pada ketidak pastian. Investor banyak yang menahan diri. Roda ekonomi dunia pun melambat.

Meski lebih bersahabat AS di bawah Biden tentu akan tetap mewaspadai Tiongkok. Strategi pertahanan dan diplomasinya mungkin berubah sedikit. Namun Tiongkok tetap menjadi pesaing abadinya. Tidak hanya secara ideologis juga dalam hal-hal yang sifatnya pragmatis. Biden takkan membiarkan Laut Cina Selatan dikangkangi Parta Komunis Tiongkok. Juga tak mau kalah dalam transaksi dagang dan perang memenangkan dominasi teknologi 5G.

Benarkah?