Dididik Oleh Pandemi

Dididik Oleh Pandemi
ilustrasi belajar daring/ berita sidrap

MONDAYREVIEW.COM – Tak terbayangkan sebelumnya. Praktis dua semester sekolah dan kampus harus menutup kelas tatap muka. Pembelajaran berlangsung secara virtual. Para guru harus membuat materi pengajaran secara daring. Dan hampir seluruh interaksi pendidikan termasuk penerimaan rapor berlangsung di platform digital.

Tapi itulah kenyataannya! Pandemi memaksa segalanya berubah.

Semua pemangku kepentingan memahami bahwa pendidikan tak hanya soal pengajaran. Bukan berhenti pada pengetahuan dan keterampilan. Tak kalah penting adalah pembentukan karakter. Maka banyak kegiatan pembiasaan yang tidak dapat optimal dilakukan secara virtual.  

Pelajaran termahal bagi para peserta didik era ini adalah pandemi. Orang tua, murid, dan guru sama-sama belajar menyikapi pandemi. Seperti di awal peradaban manusia belajar tentang cara mengantisipasi kejadian-kejadian alam. Memanipulasi segala yang di sekitarnya agar kebutuhannya terpenuhi. Ilmu pengetahuan adalah manipulasi dalam arti positif.  

Semakin akrab dengan gawai dan teknologi. Dengan piranti lunak dan piranti kerasnya. Manusia merekayasa berbagai hal. Engineering atau rekayasa melahirkan insinyur-insinyur handal. Dari teknik sipil, teknik kimia, teknik informatika hingga rekayasa genetika. Lahirlah era informasi dan masuklah manusia ke tahap revolusi industri 4.0 yang mencengangkan.  

Pada saat yang sama alam mencari keseimbangan baru. Mungkin karena ledakan populasi manusia, perubahan iklim, industrialisasi, atau aktivitas ekonomi manusia yang terlalu serakah merambah ke setiap sudut bumi.

Dari sebuah kota wabah menjalar ke seluruh penjuru dunia. Pandemi global ini membuat kehidupan mengalami resetting dan rebooting. Tak hanya dalam ekonomi. Pun dalam pendidikan.  

Pandemi ini mungkin akan berlangsung lama. Jikapun teratasi sangat mungkin akan muncul wabah baru. Dan dunia kembali akan berupaya untuk mengatasinya. Mencapai keseimbangan baru. Dan memulai lagi segala yang pernah ditata oleh tatanan lama dengan tatanan baru.

Pandemi membuat orang harus belajar ulang tentang banyak hal. Melakukan berbagai riset dengan beragam pendekatan. Membangun teori baru. Menerapkan pengetahuan terkini. Juga melakukan beragam inovasi.

Bagi manusia beriman pandemi bisa dipandang sebagai cara Tuhan mendidik kembali manusia. Untuk berhenti sejenak. Memikirkan kehidupan di sekitarnya. Melihat kerusakan lingkungan dan kehidupan sosial yang telah dibuatnya.

Hal yang juga menjadi hikmah dari pandemi adalah kesadaran lama yang muncul kembali. Termasuk tentang kewajiban orang tua sebagai guru sejati bagi anak-anaknya. Keluarga sebagai ‘madrasah pertama dan paripurna’ bagi seluruh anggota keluarga. Untuk mendidik diri sebagai manusia yang berkualitas. Baik iman maupun kompetensi kekhalifahannya.

Bagaimana dengan pendidikan formal?  

Jikapun kelas tatap muka kembali dibuka maka pola atau metode blended learning akan semakin banyak kita temui. Gabungan antara kelas virtual dan tatap muka. Sejenak terkejut kita pun kemudian menyadari bahwa tak ada jalan lain kecuali menyesuaikan diri. Begitulah insting manusia untuk beradaptasi agar dapat bertahan hidup di bumi ini. Termasuk dengan merekonstruksi kembali pengetahuannya.

Masa depan semakin dekat. Apa yang diramalkan terjadi beberapa tahun mendatang ternyata lebih cepat datangnya. Wajah pendidikan pun ikut berubah. Kini ijazah bukan segalanya. Sertifikat yang menunjukkan kompetensi tertentu yang dibutuhkan oleh dunia kerja akan lebih menentukan.

Bidang-bidang kompetensi baru di masa depan juga nampak semakin jelas. Sekolah formal memang bukan semata jalan mencari kerja. Dan pandemi mengajarkan kita bahwa substansi jauh lebih penting dari sekedar formalitas. Entah itu dalam bentuk selembar ijazah ataupun gelar. Pendidikan adalah jalan untuk ‘bertahan hidup’ dan mengelola serta meningkatkan kualitas hidup.

Bagaimana menurut anda?